Buka Ruang

Semangat Stonewall : Berbangga dan Berlawan

Tabumania, pernahkah mendengar sebelumnya tentang Pemberontakan Stonewall? Stormé Delarvarie, lesbian maskulin birasial – berasal dari ibu kulit hitam dan ayah yang berkulit putih – dengan tegas menyebutkan bahwa peristiwa yang terjadi pada dini hari 28 Juni 1969 tersebut adalah pemberontakan, bukan kerusuhan. Stormé bersama dua orang transgender, yakni Marsha P. Johnson (trans Afrika Amerika) serta Sylvia Rivera (trans Amerika Latin), memantik perlawanan spontan dari komunitas LGBTQ yang sering berkumpul di Stonewall Inn karena polisi terus menerus menangkap dan memukuli mereka.

Stonewall Inn, sebuah bar di lingkungan kota New York, Amerika, menjadi tempat berkumpul para individu LGBTQ kelas menengah bawah – para penampil, pekerja seks, dan orang-orang kulit berwarna: Afrika Amerika dan Amerika Latin. Area Stonewall adalah rumah bagi mereka yang tak memiliki rumah, bagi mereka yang tak dapat tempat di masyarakat cis-heteroseksual, kelas menengah atas, dan kulit putih.

Perlawanan dimulai. Mereka tumpah ke jalan. Melawan kekerasan yang tak henti-hentinya dilakukan oleh Negara melalui penangkapan dan penggerebekan untuk mempermalukan dan merendahkan manusia; karena warna kulit, status sosial-ekonomi dan seksualitasnya. Pemberontakan Stonewall menjadi momen kebebasan bagi LGBTQ yang semangatnya dirayakan setiap tahun di bulan Juni – PRIDE Month atau bulan Penuh Kebanggaan.

Kini, 49 tahun kemudian, apa yang terjadi? Kepemimpinan politik dibawah Trump mengecilkan dan meniadakan semangat Stonewall. Lewat slogan “Buat Amerika Kembali Hebat” atau “Amerika-lah yang Pertama”, ia kembali pada kemunduran, saat negara hanya untuk ras kulit putih dan cis-heteroseksual. Beberapa kebijakannya sangat terang menunjukkan hal ini. Pada 20 Januari 2017, segera setelah Trump disumpah jabatan, segala hal yang menyebutkan komunitas LGBTQ dihapus dari halaman situs Gedung Putih, Departemen Luar Negeri dan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat. Kemudian, di bulan Mei 2018, dua hal dilakukan Trump.

Pertama, pada 3 Mei 2018, Trump menandatangani Perintah Eksekutif tentang “Kebebasan Beragama” saat Hari Doa Nasional. Ini merupakan instruksi yang ditujukan pada Jaksa Umum, Jeff Sessions – pejabat negara yang menolak kedudukan yang sama terhadap individu LGBTQ di depan hukum – untuk membuat panduan bagi seluruh institusi pemerintahan agar dapat “menginterpretasi perlindungan atas kebebasan beragama dalam hukum Federal”. Artinya, pejabat pemerintah dapat menyatakan keberatan untuk melakukan kerja pelayanan publik terhadap seseorang atau sekelompok orang jika ini bertentangan dengan “pandangan keagamaannya”. Ini berarti tak terkecuali jika ada pejabat pemerintah yang berpikir bahwa LGBTQ berdosa sehingga ia punya hak untuk menolak untuk memberikan pelayanan publik terhadapnya.

Kedua, pada 11 Mei 2018 Biro Federal Tahanan mengubah kebijakan di era Obama tentang Manual bagi Tahanan Transgender. Dalam menentukan fasilitas ruang tahanan dan kamar mandi bagi transgender, manual yang awalnya menggunakan istilah “berdasarkan identitas gender” menjadi “berdasarkan pada seks biologis”. Artinya, para tahanan transgender dibiarkan untuk mendapatkan kekerasan dan intimidasi selama di dalam tahanan.

Jika Trump menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menghapuskan semangat Stonewall, maka di Indonesia, sentimen anti-LGBT terus menerus digaungkan oleh pejabat publik sepanjang Januari-Maret 2016, baik oleh pejabat di tingkat nasional maupun lokal. Hal ini terus menguat dengan tindakan intimidasi dan kekerasan dari berbagai kelompok intoleran terhadap komunitas, organisasi maupun aktivis LGBTIQ. Kebijakan pemerintah yang mengkriminalkan lesbian, gay dan waria serta menjadikannya sebagai penyakit sosial membuat kehidupan sehari-hari individu LGBTIQ tak luput dari kerentanan dan situasi yang tidak bisa terhindarkan lagi dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi. Pengusiran dari rumah, bullying di sekolah, pemaksaan pernikahan dan perkosaan, hingga sulitnya mengakses pendidikan, pekerjaan dan kesehatan membuat individu LGBTIQ menjadi kelompok yang dimiskinkan oleh struktur yang ada.

Jika Trump mengatasnamakan “kebebasan beragama” untuk memberikan ijin mendiskriminasi individu LGBTIQ di Amerika Serikat, maka beberapa Hakim Mahkamah Konstitusi di Indonesia yang menyetujui penghukuman terhadap hubungan seksual sesama jenis antara orang dewasa menjadikan Mahkamah Konstitusi sebagai pengadilan yang religius. “Sinar Ketuhanan seharusnya menjadi landasan bagi berbangsa dan bernegara”, begitu menurut Ketua Mahkamah Konstitusi. Pernyataan ini senada dengan pidato Trump saat mengesahkan Perintah Eksekutif tentang “Kebebasan Beragama”, yaitu : “Keimanan itu lebih kuat dibandingkan pemerintah dan tidak ada yang lebih kuat dibandingkan Tuhan”.

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, individu LGBTIQ menghadapi situasi yang sama: ketika kekuasaan berkedok moralitas masuk dalam struktur dan budaya politik, maka nilai-nilai Ketuhanan menjadi pembenaran dalam melakukan berbagai tindakan korup, opresif dan perendahan martabat kemanusiaan. Seketika, nilai-nilai Ketuhanan menjadi sangat sempit karena ia digunakan untuk menghukum dan membenci, bukan mengasihi.

Lalu, apakah semangat Stonewall mati? Tidak. Selalu saja ada yang menghidupi. Setidaknya, di tahun 2017 lalu, ribuan individu LGBTQ serta para pendukungnya berkumpul di area di luar Stonewall Innuntuk melakukan protes terhadap 21 orang anggota Kabinet Trump yang homofobik dan transfobik serta untuk bersolidaritas terhadap para imigran dan pengungsi yang terdampak karena kebijakan larangan bepergian bagi individu Muslim. Begitupun di Indonesia. Di tengah hiruk pikuk momentum politik menghadapi pilkada dan pemilu dimana partai yang menolak Rancangan KUHP (R-KUHP) serta merta disebut sebagai “Partai Pro-LGBT”, masih ada orang-orang yang tetap bersuara untuk kemanusiaan. Bulan April 2018 ini, seorang Bupati Pangkep mengeluarkan surat pengukuhan kepengurusan kontes Waria di Kabupaten Pangkep karena baginya ini adalah bagian dari budaya di Pangkep. Tak hanya itu, Profesor Muladi, salah satu Tim Ahli Perumusan R-KUHP, dengan jelas menyampaikan pandangannya terhadap pengajuan pasal kriminalisasi LGBT di R-KUHP: “LGBT dilarang apabila menyangkut anak dibawah umur, dilakukan dengan paksaan dan kekerasan serta dipublikasikan atau dilakukan di muka umum”. Artinya, penghukuman tidak bisa serta merta diberlakukan pada setiap hubungan seksual sesama jenis.

Perayaan Stonewall dimulai dengan pemberontakan. Maka, perlawanan menjadi perwujudan dari rasa bangga. Bangga merayakan identitas diri kita yang tidak tunggal, sama seperti kebanggaan yang dimiliki oleh Stormé Delarvarie, Marsha P. Johnson dan Sylvia Rivera. Dan karenanya, tak berhenti berlawan. Bahkan, berlawan dengan humor, seperti yang dilakukan oleh komunitas LGBTQ di Stonewall saat mereka berhadapan dengan para polisi. Mereka bernyanyi penuh dengan humor yang nyeleneh:

“Kami adalah perempuan-perempuan Stonewall. Rambut kami keriting. Kami tidak bercelana dalam. Kami tunjukkan bulu-bulu yang ada di kelamin kami. Kami memakai celana panjang jeans diatas lutut (laki-laki feminin) ini!”

Lalu, apa nyanyian humormu saat sedang melawan, Tabumania?

Selamat berbangga, selamat berlawan!

About Edith

Yulia Dwi Andriyanti, biasa dipanggil Edith. Salah satu penggagas Qbukatabu dan berperan sebagai Editor in Chief. Memiliki minat yang besar di topik feminisme, queer, gerakan sosial, keimanan, memori dan emosi kolektif, sosiologi, filsafat dan hak asasi manusia. Pecinta serial Fruitbasket, Little Prince, suka menyanyi, nonton film dan pertunjukan, bisa sedikit main gitar dan ukulele. Ingin terus menulis, termasuk di blog sendiri: queerinlife.blogspot.com

0 comments on “Semangat Stonewall : Berbangga dan Berlawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: