Di bawah langit malam yang mendung, gerimis turun. Suara gemericiknya mengenai atap-atap rumah, menimbulkan suara rintikan yang seolah membawa kepiluan.
Arelia dan Arunika duduk di lantai kamar, bersandar pada sisi ranjang. Dua cangkir cokelat panas di atas nakas mengeluarkan asap lembut. Di antara mereka, sebuah koper terbuka menunggu diisi dengan sisa-sisa kenangan yang akan dibawa pergi besok pagi.
Beberapa pakaian sudah terlipat rapi di dalamnya. Buku-buku, sepasang sepatu, beberapa benda kecil yang tidak berarti bagi orang lain, tetapi menyimpan terlalu banyak kenangan bagi Arunika.
Rasanya aneh. Sebuah koper ternyata bisa terlihat begitu kejam.
“Arun, menurut kamu,” suara Arelia memecah sunyi, “kamu bakal kangen apa dari sini?”
Arun menatap koper di hadapannya. “Banyak dong, Arel.”
“Salah satunya?”
Arun berpikir sejenak. “Suara hujan.”
Arel terkekeh dengan gelengan kepala. “Di sana juga hujan.”
“Bener juga.”
“Yang lain?”
Arun menoleh ke arah gadis di sampingnya. “Kamu.”
Tawa Arel berhenti. Cukup lama untuk membuat kalimat itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu—atau bahkan tidak pernah diucapkan.
Arun tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Di balik kaca, lampu-lampu jalan tampak buram tertutup air hujan.
“Aku becanda,” gumamnya.
“Bohong.”
Hening datang. Namun hening kali ini terasa lebih berat.
Arel memainkan ujung lengan bajunya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan malam itu. Namun, semuanya terasa sulit keluar dari mulutnya. Seolah satu kata yang salah dapat membuat malam terakhir mereka rusak begitu saja.
“Kalau kamu bisa mengulang satu hal dalam hidup kamu,” tukas Arel akhirnya, “apa yang mau kamu ubah?”
Arun tersenyum tipis. “Banyak.”
“Salah satu.”
Arun terdiam sesaat. Tatapannya tertuju pada tangan Arel yang masih saja menggenggam ujung bajunya sendiri.
“Aku akan bilang sesuatu lebih cepat.”
“Sesuatu?” Kening Arel berkerut. “Apa itu?”
Tarikan napas panjang terdengar dari Arun. Sesaat, ia tampak seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang sudah bertahun-tahun tersimpan di dalam dadanya.
“Aku cinta kamu.”
Gerimis kini berubah menjadi hujan yang deras. Suara jam dinding hampir tidak terdengar.
Dunia, dengan ketidaktahuannya, tetap berjalan seperti biasa. Dunia, tidak pernah tahu bahwa ada hati yang diam-diam retak karena penyesalan.
Arel menatap gadis itu cukup lama, lalu tiba-tiba tertawa, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Bodoh,” ujarnya.
Arun ikut tertawa. “Kenapa?”
“Kenapa nggak bilang sekarang?”
Tawa Arun perlahan hilang. Ia menatap Arel lebih lekat, seolah sedang menghapalkan wajah yang besok pagi hanya akan menjadi kenangan. Seolah ada bagian dari dirinya yang ingin menyimpan setiap detail malam itu sebelum jarak mengambil semuanya.
“Karena kalau aku bilang sekarang,” bisiknya, “aku nggak akan sanggup pergi besok.”
Arel menunduk. Bersamaan dengan cairan hangat yang mengalir di pipinya, yang rasanya terlalu lelah untuk dihapusnya.
Waktu terasa ganjil malam itu, bergerak terlalu cepat ketika mereka ingin menahannya. Namun, juga terlalu lambat ketika mereka mengingat bahwa pagi akan tetap datang.
Arel akhirnya menggeser tubuhnya mendekat sampai bahu mereka bersentuhan. Sentuhan kecil yang terasa seperti hangat dan menenangkan.
“Kalau gitu,” katanya pelan, “jangan bilang.”
Arun menoleh. “Jangan bilang apa?”
“Jangan bilang kamu cinta aku.”
Senyum pahit terbit di bibir Arun. “Kenapa?”
“Karena aku takut kalau kamu bilang, aku akan minta kamu untuk tinggal.”
Di balik tatapan Arun tersimpan banyak hal yang harus ia tahan. Ia lantas menunduk, lalu mengembuskan napas pelan.
“Iya, jangan. Karena aku juga takut.”
Arel mengernyit. “Takut?”
“Takut kalau kamu minta aku untuk tinggal… ” Arun berhenti. Matanya terpejam sesaat. “…aku mungkin akan melakukannya.”
Arel menggigit bibir, menahan sesuatu yang seolah menghimpit paru-parunya. “Terus kenapa kamu masih pergi?”
“Karena ada beberapa mimpi yang harus aku kejar sendirian.”
Jawaban itu terdengar mudah, bahkan mungkin klise. Dan, di malam yang diguyur hujan deras itu, kata ‘sendirian’ seakan terasa seperti sebuah hukuman.
“Dan aku?”
Arun menatap kedua manik mata yang berlinang itu, lalu menyekanya dengan ujung ibu jari. “Kamu bukan sesuatu yang ingin aku tinggalkan.”
“Terus aku apa?”
Tangan Arun bergerak lagi untuk menggenggam jemari gadis yang sudah lima tahun menduduki tempat di hatinya itu.
“Kamu itu,” katanya, “tempat yang selalu ingin aku jadikan rumah.”
Arel menunduk melihat jalinan tangan mereka. Jari-jari itu sudah saling mengenal sejak bertahun-tahun lalu. Pernah bergandengan saat menyeberang jalan, pernah saling menarik ketika salah satu hampir jatuh, pernah berpegangan saat menonton film horor yang sebenarnya tidak terlalu menakutkan.
Terlalu banyak kenangan yang lahir dari tangan yang sama. Terlalu banyak hari yang tidak pernah mereka sadari akan menjadi kenangan. Dan kini genggaman itu terasa seperti tanda perpisahan.
“Aku benci kamu,” bisik Arel sambil terisak.
“Aku tau.”
“Aku bener-bener benci.”
“Aku juga benci sama diri aku sendiri.”
Arel tertawa sekilas di sela tangisannya. “Bohong.”
“Belah aja dadaku.”
Mereka tiba-tiba tertawa. Hanya sesaat. Tawa itu terdengar asing di antara kesedihan yang memenuhi kamar, tetapi justru karena itulah terasa lebih indah.
Lalu mereka kembali terdiam.
Arun bergerak untuk menyandarkan kepalanya di bahu Arel. Mereka hanya duduk berdampingan, mendengarkan sisa hujan di luar jendela dan detak jam yang terus mengingatkan bahwa malam perlahan akan usai.
“Rel?”
“Hm?”
“Boleh aku minta satu hal?”
“Apa?”
“Besok jangan antar aku ke bandara.”
Arel menoleh. “Kenapa?”
“Karena aku akan berharap kamu menghentikan aku.”
Bibir Arel terkulum, ia sedang menelan tangisannya. “Kalau aku antar, berarti kamu nggak jadi pergi?”
Arun tersenyum tanpa mengangkat kepala. Terlalu takut bertemu mata gadis itu, takut segala persiapan dan usaha yang telah ia lakukan selama dua tahun ini, akan runtuh hanya karena sebuah tatapan.
“Makanya jangan antar aku.”
Arel memejamkan mata.
Ada kalimat yang ingin ia ucapkan, “Aku bakal antar kamu.”
Ada kalimat yang ingin ia teriakkan,“Kalau gitu jangan pergi.”
Namun, ia tak ingin egois. Arun sudah terlalu lama menunggu kesempatan ini. London bukan hanya kota yang akan ditujunya untuk berlibur semata, melainkan tempat di mana ia akan mengejar mimpinya, melanjutkan pendidikan S2 yang selama ini diperjuangkannya.
Maka malam itu, ia memilih diam.
Memilih membiarkan Arun pergi demi mimpinya, meski sebagian kecil dari hatinya ingin ikut berlari ke bandara dan memintanya untuk tetap tinggal.
“Oke,” bisiknya.
Malam semakin larut. Hujan telah berhenti, tapi air mata yang mengalir di wajah mereka masih enggan pergi.
Keduanya kini berbaring di ranjang yang sama, seperti yang sudah mereka lakukan berkali-kali selama bertahun-tahun. Mereka hanya dua orang yang saling mencintai dan terlalu takut mengubah satu malam terakhir menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa mereka pertanggungjawabkan.
Arel menarik napas sambil menghapus air matanya. “Arun.”
“Iya?”
Arel ingin berkata, ‘sebenarnya, aku juga cinta kamu’. Namun ia menelan kembali kalimat itu. Hatinya terlalu takut.
“Kenapa, Rel?”
Arel tersenyum, meski matanya menyorot sedih. “Jangan lupa pulang,” bisiknya.
Arun menggenggam tangannya lebih erat. Air mata telah menganak sungai di kedua pipinya. Melihat itu, sontak membuat dada Arel kian sesak. Saking sesaknya ia tak mampu lagi menahan segalanya. Tangisnya meledak. Seluruh emosi dalam dirinya terasa dalam satu kali hentakan.
Arun lantas merengkuhnya ke dalam pelukan. Berusaha menenangkannya. Namun, gadis itu sendiri pun tak mampu membendung kesedihannya. Ia memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh di rambut Arel.
“Maaf,” lirih Arel. “Maaf. Seandainya aku terlahir lebih berani. Aku pengen banget minta kamu tetap tinggal. Tapi aku terlalu pengecut. Terlalu takut akan banyak hal. Terlalu takut—”
“Sshh… aku tahu,” bisik Arun. “Aku juga minta maaf. Seandainya juga aku terlahir lebih berani. Aku bakal jujur tentang perasaan aku sejak awal. Dan mungkin… ” Arun tiba-tiba berhenti, kalimatnya menggantung.
Ia ingin berkata bahwa, ‘mungkin saja aku akan meminta kamu jadi pasangan hidup aku dan bersama-sama kita melawan segala norma yang ada’. Namun kalimat itu hanya berakhir di dalam kepalanya.
“Arunika,” panggil Arel, lalu melepaskan pelukan mereka dan menatap Arun jauh ke dalam sorot matanya. “Mungkin apa?”
“Dan mungkin, kepindahan aku ke London nggak akan pernah terjadi.”
Arel mengembuskan nafas pelan. Raut wajahnya seolah menunjukkan kekecewaan, namun ia tak bisa berbuat banyak, karena ia sendiri pun adalah pengecut.
“Mungkin,” bisiknya kemudian.
Arun mengangguk. “Mungkin.”
Malam itu ditutup dengan tangis, tawa dan pelukan perpisahan hingga matahari merangkak naik. Mereka bercerita tentang hal-hal kecil, menertawakan kenangan lama, lalu kembali menangis ketika sadar bahwa beberapa jam lagi semuanya akan berubah.
“Arun.”
“Iya?”
“Semoga di kehidupan lain, ketika salah satu di antara kita ada yang bilang, ‘aku cinta kamu’, kita nggak perlu jawab dengan air mata.”
“Iya, aku setuju.”
Tapi untuk kehidupan kali ini, mereka hanya sanggup menjadi dua orang yang saling mencintai, tanpa memiliki cukup keberanian untuk sekadar memulai.{}
SELESAI
Penulis: Monochrome_cho
Wattpad: Monochrome_cho
Instagram: chocoooo_08

0 comments on “Seandainya Aku Terlahir Lebih Berani”