Buka Layar

Menjalani menjadi Manusia dengan segala Perbedaan

Tabumania, sebagai manusia kita berhadapan dengan perbedaan yang ada di sekeliling kita. Perbedaan bisa sesederhana selera makan, hobi, atau musik. Namun, sayangnya bagaimana kita memahami dan menghargai perbedaan tidak sesederhana itu.

Perbedaan identitas, perbedaan orientasi seksual, perbedaan kondisi mental, adalah beberapa situasi yang ditemui di sekeliling kita. Lalu bagaimana lingkungan melihat perbedaan itu?Diskriminasi masih terjadi akibat perbedaan-perbedaan tersebut.

Meskipun kita sering mendengar tentang bagaimana perbedaan diterima di negara ini, sayangnya banyak “syarat”di dalamnya. Salah satunya “asal jangan” berkaitan dengan orientasi seksual. Gak asing bukan, netizen saling berbalas komentar sengit di kolom komentar media sosial berkaitan dengan hal tersebut.

Termasuk terhadap kawan-kawan kita dengan disabilitas. Kawan-kawan disabilitas seringkali “dikasihani” padahal bukan itu yang mereka inginkan. Terbukanya lapangan pekerjaan untuk mereka. Kemudian fasilitas transportasi, maupun infrastruktur yang memungkinkan mereka untuk menggunakannya.

Bentuk diskriminasi maupun stigma sosial terhadap kawan-kawan disabilitas lebih dikenal dengan ableisme. Untuk lebih lanjut, Redaksi akan menghadirkan infografis tentang ableisme di bulan ini. Semoga hadirnya infografis akan lebih membuat Tabumania lebih memahaminya.

Kami juga menghadirkan konten GIF (Graphic Interchange Format) atau gambar bergerak tentang halloween, dengan karakter-karakter di luar dugaan. Mungkin di antara Tabumania bertanya-tanya kenapa menghadirkan konten tersebut? Dari perayaan halloween kita bisa belajar bahwa setiap individu bisa mengekspresikan diri sendiri secara unik dan berbeda-beda, apapun itu.

Masih berkaitan dengan hantu, Redaksi akan menghadirkan ulasan buku Memaksa Ibu jadi Hantu: Wacana Maternal Horror dalam Film Indonesia Kontemporer. Dengan membaca buku ini kita belajar tentang bagaimana film horror menjadikan ibu sebagai sosok hantu (monster) yang meneror serta menebarkan kengerian (hal. 15). Apakah hanya itu saja, tentu tidak. Sudahkah di antara Tabumania membaca buku ini? Atau masih ragu-ragu untuk membacanya? Mungkin bisa nungguin ulasan bukunya dulu di sini yaaa.

Lalu jika di bulan lalu ada bahasan tentang Etika AI dan Pekerja Kreatif Queer, maka bulan ini ada artikel tentang AI juga yang menanggapi artikel tersebut. Dan ada juga cerpen karya kontributor lepas yang bisa dibaca di bulan ini. Kami juga menghadirkan bahasan tentang industri GL (Girl Love) Thailand. Penasaran bukan?

Redaksi ingin menjadi kawan Tabumania menghadapi segala bentuk diskriminasi yang ditemui. Kami ingin menjadi sedikit ruang bernafas di tengah lelahnya hari. Dan sebagai pengingat, apapun perbedaan yang kita miliki, kita berhak untuk dihargai dan diperlakukan dengan baik!

Unknown's avatar

bisa dipanggil D (di), pembaca buku, penonton film, penggemar kopi

0 comments on “Menjalani menjadi Manusia dengan segala Perbedaan”

Leave a Reply