Buka Layar

Memeluk dan Merayakan Diri Lewat Nama yang Dipilih

Kala namanya, nama yang ia pilih untuk disematkan pada dirinya ketika ia berusia 31 tahun. Nama itu sudah menjadi tempat perlindungan sejak ia masih kecil. Tersimpan pada tulisan-tulisan yang ia ciptakan lewat komputer di rumah temannya ketika rumahnya sendiri tidak bisa menjadi tempatnya merasa aman. 

“Kala itu… rasanya puitis,” kenang Kala mengingat pembuka tulisannya yang pernah ia tulis. 

Ia berharap bisa keluar dari neraka yang orang sebut sebagai rumah. Lewat novel, kumpulan cerpen, hinga puisi yang ditulisnya, ia bisa merasa lega. Waktu-waktu menulis memberi jeda dengan dunia dan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri. 

“Kala artinya waktu, aku berharap aku punya waktu. Nis aku tambahkan ketika kuliah. Dalam Sansekerta, Niskala dekat sama dunia spiritual dan kematian. Aku pilih itu untuk menghargai masa-masa ketika ingin menghilang. Sekarang Niskala jadi doa, semoga selalu punya waktu untuk hal yang diinginkan, sampai hidup terasa cukup,” ungkapnya penuh harap.

Untuk menutup doanya, dia menambahkan “Airian” dengan harapan hidupnya bisa seperti angin yang bebas, fleksibel, dan bisa mengisi ruang. 

“Yang ingin aku rayakan dari namaku sebenarnya pengingat bahwa aku bukan ada di satu spektrum dan tidak perlu ada di satu spektrum tertentu, aku bisa memilih aku mau jadi seperti apa karena aku merasa namaku cukup netral gender,” lanjut Niskala Airian dengan semangat.

Lalu ada Jelita. Nama tersebut awalnya adalah nama yang pernah ia lakoni pada sebuah konser tari. Dari sana ia membangun kedekatan dengan nama tersebut. Ia menyadari bahwa nama tersebut terasa alami untuk ia gunakan. Jelita pun memilih untuk melegalkan nama tersebut karena deadname-nya tidak mencerminkan identitas dan ekspresi gendernya.

“Aku merasa beberapa kualitas dan karakter diriku itu cenderung kemayu dan lembut. Makanya aku merasa nama “Jelita” itu cukup merepresentasikan kualitas dan karakter tersebut—luar dan dalam,” tutur Jelita. Magisnya, nama yang terasa alami itu memiliki keterkaitan juga dengan sang mama.

“Setelah pengesahan namaku saat ini—seolah seperti kehendak Tuhan—mamaku yang tidak tahu soal pelegalan nama baruku terkejut karena ternyata nama yg aku pakai merupakan ‘nama udara’ mamaku saat beliau bekerja sebagai radio announcer saat seusiaku. Namanya adalah “Jelita Rembulan,” cerita Jelita.

Setelah belasan tahun transisi, keluarga dan orang di sekitar Jelita mendukungnya setelah ia melegalkan nama barunya. Menghargai dan memvalidasi identitas gendernya. Lewat nama ini, Jelita sedang merayakan segala perjuangannya untuk tidak hanya survive; bertahan di kehidupan, tetapi juga thrive; berkembang di kehidupan. 

Jelita mengungkapkan bahwa, “aku juga merayakan seluruh usahaku, serta asam garam yang harus aku lewati untuk bisa menjadi diriku seutuhnya.” 

Tabumania, apa yang kalian rasakan mendengar cerita menghangatkan dari dua narasumber kami di atas? Apakah Tabumania juga mengalami kisah serupa atau merasa terhubung dengan perjuangan kawan kita di atas?

Berbeda dari dead name, birth name, atau ID name—setiap individu memiliki preferensi masing-masing untuk pemanggilannya—chosen name atau nama pilihan adalah nama yang oleh individunya ia pilih sendiri, yang didasarkan atas berbagai alasan. Nama pilihan bisa didasarkan atas rasa aman dan nyaman, upaya melepas luka di masa lalu, rasa kepemilikan atas diri sendiri, bahkan afirmasi.

Kala dan Jelita misalnya, mereka memiliki motivasinya masing-masing, begitu juga dengan harapan yang dibawa dari nama pilihannya. Pengalaman keduanya valid dan perlu dirayakan. Begitu juga bagi Tabumania yang mungkin memiliki atau sedang mempertimbangkan soal nama pilihan. 

Setiap individu membawa perjalanan dari tiap nama yang dipilihnya. Dari proses tersebut, mereka mengenal diri mereka lebih dalam. Kadang, nama tersebut bisa terdengar netral, maskulin, feminin, bahkan unik. Nama tersebut bisa dari tokoh yang menginspirasinya, bahasa asing yang terdengar indah, kata yang memiliki arti yang dalam, atau juga dari rangkaian huruf yang terasa kawin dengan seleramu.

Tidak ada aturan yang mengikat. Semuanya tumbuh dari rasa pemilik namanya karena berbeda dari dead name, birth name, atau ID name, nama pilihan seringkali lahir dari proses pengenalan diri yang panjang bukan hanya label yang tersematkan.

Untuk itu, kita harus juga ikut merayakan dan memvalidasi pengalaman pemiliknya. Nama seringkali jadi hal yang puluhan hingga ratusan kali didengar oleh individunya setiap harinya, terbayang gak betapa tidak nyaman ketika nama pilihanmu diinvalidasi dan yang kamu dengar adalah nama yang membuat dirimu terus merasa mengecil. Maka penting bagi kita untuk ikut merayakannya!

Bukan Sekedar Label tapi Pengenalan Diri

Banyak dari individu queer yang memiliki cerita tentang namanya. Ada yang ganti berkali-kali dahulu dalam perjalanannya. Hal itu juga terjadi kok dalam perjalanan Kala dan Jelita. Ada juga yang masih memakai nama lahir namun memiliki nama panggilan pilihan. Juga, ada yang belum siap untuk mengganti namanya, walau merasa tidak nyaman atas nama lahirnya.

Buat Tabumania yang sedang dalam perjalanan atas nama, kami punya tips untuk membantu kalian yang sedang melewati perjalanan ini agar tidak merasa sendiri. 

Pertama, coba belajar untuk mendengarkan diri sendiri. Apa yang kamu rasakan atas diri kamu, atas namamu. Proseslah perasaan tersebut sehingga kamu lebih mengetahui kebutuhan dirimu.

Kedua, bisikkan nama itu ke dirimu sendiri. Lihat reaksi tubuhmu. Terkadang, reaksi tubuh berbicara paling keras. Seperti Jelita yang merasa namanya alami ketika ia gunakan, sesuai dengan identitas dan karakter dirinya. Juga seperti Kala, yang merasa paling aman dengan nama pilihannya. Ketika tubuhmu terasa ringan, mudah, dan tidak memantik perasaan tak nyaman, mungkin kamu sudah ketemu dengan nama yang sesuai dengan jati dirimu.

Ketiga, ceritakan kepada orang yang bisa kamu percaya. Reaksi orang mungkin akan berbeda dari harapanmu. Meski begitu, tidak salah untuk mencobanya. Ketika kamu sudah percaya diri untuk membaginya. Mungkin itu bisa menjadi petanda bahwa Tabumania merasa lebih nyaman dan aman dengan nama pilihan tersebut.

Keempat, beri waktu. Berilah waktu ke diri sendiri dan juga kepada orang-orang di sekitar Tabumania. Beri waktu ke diri sendiri untuk mempertimbangkan segalanya. Tabumania tidak perlu buru-buru memutuskan, bahkan jika Tabumania belum menemukan nama yang pas meskipun sudah memberi waktu, itu tidak apa. Ingat cerita Kala dan Jelita, mereka pun memberi waktu kepada diri mereka sampai akhirnya memilih nama pilihannya. Beri juga waktu ke orang-orang di sekitarmu, beberapa dari mereka mungkin butuh penyesuaian, meski begitu jika mereka tetap tidak menghargai nama pilihanmu, Tabumania juga berhak untuk menegurnya.

Merayakan dan Merawat Diri Lewat Nama

Beberapa individu mungkin memiliki kesulitan berlapis untuk bisa menggunakan nama pilihan. Sebagai contoh ketika berurusan dengan urusan birokrasi yang tidak ramah, kredibilitas yang dipertanyakan, hingga stigma tidak professional. 

Dalam urusan birokrasi, Kala, masih menggunakan ID name untuk mengurus berkas-berkas kepentingan birokrasi, termasuk dalam urusan pekerjaan. Untuk bisa mengadvokasi penggunaan chosen name bukan tugas yang mudah, dan Kala mengalami itu. Ada kelelahan yang dirasa ketika harus terus menjelaskan kepada orang lain.

Nama, harapannya bisa menjadi ruang aman dan nyaman bagi individunya. Apapun nama yang dipilihnya. Beberapa orang bahkan memilih untuk melegalkan namanya, beberapa juga memutuskan tidak. Dalam proses melegalkan namanya, Jelita melalui proses birokrasi yang tidak mudah. 

Jelita memberi saran untuk menguatkan diri bahwa, “proses legalitas nama dan/atau identitas gender di negara ini masih sangat ‘untung-untungan’. Apalagi dengan sumber daya manusia yang memandang sebelah mata kelompok queer, salah satu hal yang perlu kita siapkan adalah mental yg baik untuk menghadapi lika-liku proses tersebut.”

Bagi kawan yang ingin melegalkan namanya, Jelita juga menyarankan untuk setidaknya mempelajari hak-hak dan prosedur-prosedur mendasar terkait proses legalitas yang akan dihadapi, dan jika memungkinkan untuk berkonsultasi, serta meminta bantuan dari teman/rekan/kenalan yang memiliki pengalaman serta pemahaman yang baik tentang proses tersebut.

Ia bersyukur sudah berhasil melegalkan namanya dibantu oleh advokat transpuan yang suportif. Keluarga dan orang di sekitar Jelita juga mendukung keputusan Jelita. Jelita juga berbagi bahwa banyak dari orang yang tak ia kenal juga turut mengatakan bahwa namanya sesuai karakternya yang jelita.

Kala merayakan kebebasan dan waktu. Jelita merayakan kelembutan dan tanda dari semesta. Kami harap kamu juga bisa merayakan dirimu, merayakan hidupmu, merayakan identitasmu, dan merayakan nama yang kamu pilih. Seperti di Hari Kemerdekaan ini, selamat merayakan kemerdekaan versi Tabumania!

***

Oleh Yuviniar Ekawati, penulis adalah lulusan kejurnalistikan dan seorang penulis lepas pada beberapa media massa yang memiliki fokus pada isu gender dan anak.

0 comments on “Memeluk dan Merayakan Diri Lewat Nama yang Dipilih

Leave a comment