Tabumania, ketika mengelola keuangan seringkali kita melupakan untuk mengumpulkan dana darurat. Padahal itu sangat diperlukan, entah ketika mengelola keuangan pribadi maupun untuk pengelolaan keuangan usaha yang dilakukan. Dana darurat untuk kesehatan, kehilangan pekerjaan, modal usaha yang gak jalan, ataupun kondisi darurat lainnya.
Inilah yang ditemui Panji, seorang pelaku keuangan yang banyak berinteraksi dengan kawan-kawan ragam gender yang menemui kesulitan ketika mengelola keuangan mereka. Menurut Panji sebelum ngomongin investasi maupun tabungan lainnya dana darurat yang perlu diutamakan. “Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang terjadi ke depan. Pondasi utama keuangan ada di dana darurat. Kita seringkali menemui kondisi darurat yang tidak disangka-sangka. Tidak sedikit yang kutemui di lapangan, karena tidak punya dana darurat akhirnya berutang.”katanya.
Selain itu ketika mengelola keuangan diperlukan kesadaran. Kesadaran bahwa suka atau tidak, kita membutuhkan uang untuk hampir segala sesuatu yang kita lakukan. “Bahkan saat meninggal pun kita butuh uang. Uang menjadi sumber energi, alat gerak dari manusia itu sendiri, itu tidak bisa dipungkiri. Sadari itu dulu.”katanya.
Pengelolaan keuangan diperlukan karena kita bisa tahu ke mana uang pergi. Itulah mengapa diperlukan praktik untuk mencatat ke luar masuk uang itu ke mana. Jika pengeluaran dibiarkan begitu saja, seringkali kita bingung uang habis ke mana. “Maka dari itu kita perlu disiplin dan konsisten mempraktikkan pengelolaan keuangan. Mulai dari kecil dulu, mencatat pemasukan dan pengeluaran sehari-hari, sekecil apapun itu.”jelasnya.
Kendala dan Tantangan Pengelolaan Keuangan Kawan-kawan Ragam Gender
Beberapa hal yang ditemui Panji di lapangan, kendala ekonomi yang terjadi pada kawan-kawan ragam gender diantaranya kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai ekspresi mereka maupun pendidikan. “Apabila memiliki penghasilan mereka kesulitan mengelolanya. Atau tidak sedikit yang pengin mendapatkan uang (secara) instan, misalnya judi online. Banyak kasusnya.”urainya.
Kendala lain yang turut memengaruhi proses pengelolaan keuangan mereka berkaitan dengan ekspektasi eksternal. Misalnya terkait gaya hidup yaitu ketika tidak bisa menunjukkan diri saat nongkrong dengan teman, tidak memakai pakaian dengan brand tertentu, tidak bisa mentraktir mereka, dan lainnya. Hal tersebut membuat mereka merasa tidak bisa diakui lingkungan atau kelompok tertentu.
“Di keluarga pun demikian. Bahkan banyak kasus pemaksaan pernikahan yang dilakukan orang tua karena menganggap individu ini tidak punya apa-apa, ia harus nurut orang tua, menikah agar dihidupi orang lain. Padahal itu kan tidak menjamin. Itu yang kami temui di lapangan.”tambahnya.
Tantangan lain yang ditemui kawan-kawan ragam gender dalam mengelola keuangan juga terjadi ketika mereka mencari tempat tinggal. Entah itu mencari kontrakan, kos-kosan atau rumah. Berbagai pertimbangan dilakukan. Terutama berkaitan dengan keamanannya maupun kenyamanannya. Hal ini tentu akan memengaruhi biaya yang diperlukan.
“Mencari tempat tinggal bagi kawan-kawan ragam gender tidak sesederhana kawan-kawan cishet. Kawan-kawan tidak akan langsung memilih tempat yang murah, tapi apakah mereka bisa diterima di tempat itu atau tidak. Apakah bisa mengakomodir ekspresi mereka, orientasi mereka. Dan biasanya tempat yang bisa menerima mereka harganya lebih mahal. Tentu akan berpengaruh pada pengelolaan keuangan mereka.”ujarnya.
Dalam proses pengelolaan keuangan, kita juga perlu mempertimbangkan setiap rencana keuangan. Perlu mempertimbangkan mana pengeluaran pokok, mana kebutuhan, mana keinginan. Termasuk dampak yang akan muncul. Apalagi bagi kawan-kawan yang ingin melakukan transisi medis, Panji mengingatkan untuk mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari psikologis, ekonomi, dan kesehatan.
“Misalnya akan melakukan terapi hormon. Tidak hanya mempertimbangkan pada ekonomi saat terapi hormon saja, tetapi juga mempertimbangkan pengeluaran ketika konsultasi dengan profesional medis dan psikolog. Apakah nantinya terapi tersebut berkelanjutan? Perlu ada pembagian pos-pos (biaya) yang diperlukan. Belum lagi jika terdapat dampak kesehatan yang muncul. Ada kemungkinan biaya untuk cek kesehatan.”jelasnya.
Tips untuk Pekerja Lepas
Tidak sedikit dari kita yang menjadi pekerja lepas (freelance), mungkin ada di antara Tabumania juga? Nah, Panji mengingatkan agar mempertimbangkan beberapa hal berikut ketika mencari pekerjaan atau ketika menerima klien.
“Jangan hanya melihat berapa gaji yang diterima. Itu perlu, tapi lihat juga deretan pengeluaran yang muncul ketika bekerja. Misalnya pengeluaran untuk transportasi dari tempat tinggal ke tempat kerja. Apakah perlu tempat kos, apakah tempat kerja tersebut memberikan dukungan misalnya uang makan atau uang transport. Berbeda lagi ketika bekerja online. Apakah memperoleh dukungan kuota internet? Tentu hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan.”kata Panji.
Berbeda lagi jika Tabumania seorang pengusaha atau wiraswasta. Beberapa hal yang diperhatikan apakah usaha sendiri, bersama orang lain atau komunitas. “Itu semua harus jelas, kontrak kerjanya. Atau pengeluaran lain misalnya harus sewa tempat, gerobak, kosan. Belum lagi jika ada uang keamanan. Perlu evaluasi pemasukan dan pengeluaran.”katanya.
Panji juga menyarankan agar kita perlu melihat berbagai peluang yang muncul. Tidak hanya mengandalkan pemasukan utama, tetapi juga mempertimbangkan pemasukan tambahan. Apalagi di situasi yang tidak menentu saat ini.
“Tidak perlu berusaha mencari pendapatan tambahan dengan melakukan hal-hal yang berat, sampai mengganggu sumber pemasukan utama. Bisa juga dengan mencari pemasukan tambahan dengan jualan, misalnya thrifting. Atau mendapatkan uang dari media sosial seperti TikTok, Facebook, tetapi tetap memperhatikan keamanan. Lihat peluang yang ada di sekitar kita yang bisa menjadi pemasukan tambahan.”tandasnya.
Tabumania, pengelolaan keuangan perlu dilakukan siapa saja, apapun gendernya, berapapun pemasukan maupun pengeluarannya. Pengelolaan bisa dilakukan dengan cara sesederhana mencatat pemasukan maupun pengeluaran sekecil apapun itu. Apakah Tabumania sudah melakukannya?

0 comments on “Sering Dilupakan Ketika Mengelola Keuangan: Kumpulkan Dana Darurat!”