Tabumania, apakah kamu pernah mendengar kata “binder” atau binding dada” sebelumnya? Bagi kamu yang baru mulai eksplorasi diri dan mulai mencari tahu soal binding dada, mungkin ada banyak rasa penasaran yang belum terjawab di kepalamu tapi bingung mulai dari mana. Artikel ini dibuat untuk menemani kamu untuk lebih mengenal soal binder dada.
Pertama-tama, binder dada adalah pakaian dalam khusus yang dipakai untuk membuat area dada terlihat lebih rata atau lebih bidang. Banyak dari transmaskulin, transmen, non-biner, dan orang gender non-conforming yang pakai binder karena bikin mereka merasa lebih nyaman dengan tubuhnya dan lebih “kayak diri sendiri” pas ngaca atau beraktivitas. Penting untuk diingat bahwa pakai binder atau nggak itu pilihan pribadi. Nggak ada yang “wajib” atau “lebih valid” kalau kamu pilih salah satunya. Tujuannya satu, yaitu supaya kamu merasa lebih tenang dan nyaman sama diri kamu sendiri. Binder beda sama korset atau kemben ya, Tabumania. Bahannya biasanya dirancang lebih elastis, bisa bernapas, dan bentuknya disesuaikan buat aktivitas harian.
Raham, dari Transmen Indonesia kenal binder dada sekitar tahun 2013. Awalnya tidak sengaja. Pertemuannya pertama kali terjadi ketika sedang menggulir halaman toko online. Dia kira awalnya itu hanya sport bra biasa. Model binder yang ia temukan di toko online saat itu adalah seorang perempuan maskulin, itu membuat Raham tertarik karena Raham merasa model tersebut mirip dengan diri dia waktu itu. Binder dada yang bisa membuat dada kelihatan menjadi lebih bidang, membuat Raham penasaran, Raham pun menabung, menunggu uangnya terkumpul untuk membelinya. Yang dia rasakan pertama kali ketika memakainya adalah senang. Saat itu Raham belum tahu kalau identitasnya translaki-laki, dia masih bingung sama identitasnya. Namun, begitu pakai binder dan melihatnya di depan kaca, rasanya lega, “oh, dadaku bisa ya terlihat bidang. Aku senang lihatnya.”
Saking senangnya, binder pertama itu nggak dilepas seharian oleh Raham. Waktu itu, Raham belum kenal kata “transgender”. Dia cuma merasa senang ketika melihat dadanya bidang seperti cis laki-laki. Kalau ditarik ke sekarang, dia sadar, rasa senang itu ada kaitannya dengan identitasnya kini. Dulu lingkungan dan masyarakat sering memaksa ide biner, ada payudara sama dengan perempuan, nggak ada payudara sama dengan laki-laki. Padahal realitanya tubuh manusia dan identitas itu beragam. Payudara nggak menentukan siapa kamu.
Mengenal Jenis Binder dan Milih Ukuran yang Pas
Awal mulai, Raham juga tidak langsung tahu ukuran yang pas untuk tubuhnya. Patokan awalnya cuma ukuran dada dan bahu. Dia baru tahu dua tahun kemudian setelah perkenalan awalnya dengan binder dada bahwa ada banyak yang harus dipertimbangkan untuk memilih binder dada yang nyaman dan aman untuk digunakan sehari-hari. Untuk trans laki-laki, binder yang ngepas banget ternyata tidak baik untuk tubuh. Ukuran yang pas harus disesuaikan kebutuhan dan aktivitas pemakainya.
Tips milih ukuran dari pengalaman Raham:
- Ukur sesuai size chart tiap toko. Tiap brand atau manufaktur punya ukuran berbeda. Jangan pakai patokan baju biasa.
- Patokan “pas” itu ketika binder yang dipakai tetap bisa melakukan aktivitas normal. Bisa bernafas lega, bisa gerakin tangan, bisa dipakai untuk bekerja. duduk kerja seharian.
- Cek limitasi gerak. Coba renggangkan tangan. Kalau susah atau binder ninggalin goresan di kulit, berarti ukuran atau bahannya nggak pas.
- Sesuaikan dengan aktivitas pribadi. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Raham kerja sebagai desainer grafis yang banyak duduk, jadi kenyamanan itu kunci. Namun, pekerjaan dia gak membutuhkan aktivitas berat. Buat yang memiliki aktivitas berat, Raham sarankan untuk naik satu size.
Penggunaan binder, pasti akan melimitasi gerak dan nafas. Keamanan dan kenyamanan nomor satu, seperti contoh jika mau dibawa berolahraga, gunakanlah satu size di atas ukuran harian juka diperlukan. Aktivitas berat butuh nafas buat recovery. Jika tidak disesuaikan dengan aktivitas masing-masing maka akan ada risiko pemakaian seperti sesak nafas, pusing, hingga pingsan.
Dalam penggunaannya, binder dada juga ada berbagai jenis. Tidak ada jenis yang “paling benar”. Ada half-length yang berhenti di bawah dada, cocok buat cuaca panas dan nggak gampang gerah. Ada full-length sampai perut, lebih rata tapi lebih hangat, tidak begitu cocok di cuaca panas. Ada juga sports bra kompresi ringan, cocok buat yang baru coba-coba. Banyak orang coba beberapa jenis dulu sebelum nemu yang paling nyaman dan itu wajar.
Bahan dan Akses di Indonesia
Proses trial and error itu nggak apa-apa. Dari situlah kamu tahu ukuran, bahan, dan toko yang cocok. Karena size chart tiap toko bisa beda, apalagi dari toko yang manufaktur sendiri.
Raham mengatakan bahwa di Indonesia akses kepada binder dada sekarang sudah lebih gampang. Banyak teman trans laki-laki yang jual, ada di toko online, TikTok Live, sampai reseller komunitas. Buat kamu yang mau memulai menggunakan binder, kamu bisa langsung menuliskan kata kunci binder dada karena “binder dada” tidak disensor di toko online.
Selain ukuran, menurut Raham, bahan itu yang membawa kekhawatiran besar, terlebih di Indonesia masih binder yang dijual secara umum masih terbatas dalam hal bahan atau materialnya. Kulit tiap orang beda. Ada bahan yang bikin gerah atau gatal, tergantung pemakaian di tiap kulit. Jangan lupa mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki iklim tropis sehingga suhu yang ada lebih tinggi dan membuat lebih panas serta lembab.
Meskipun kini ketersediaan bahan di Indonesia juga sudah mulai beragam tapi masih tetap terbatas. Raham pernah menemukan binder yang sangat nyaman dipakai di kulitnya. Namun, bahan tersebut hanya ditemukan dari manufaktur luar negeri sehingga harganya jadi kurang aksesibel.
Manajemen Waktu Pakai dan Merawat Diri
Ini bagian penting yang Raham baru tahu setelah bergabung di gerakan trans laki-laki, ternyata binder punya anjuran pemakaian. Idealnya nggak dipakai seharian. Cukup dipakai sekitar 6-8 jam, itu batas yang sering disarankan komunitas. Binder memeluk tubuh lebih ketat dari bra. Penggunaan binder dada yang berlebihan bisa menyebabkan banyak dampak negatif seperti nyeri punggung, kesulitan bernapas, hingga bisa berpengaruh juga kepada struktur punggung dan tulang belakang.
Raham paham perasaan menggunakan binder, banyak dari trans laki-laki yang butuh rasa aman dan itu bisa dicapai dengan menggunakan binder, sampai-sampai pakai binder waktu tidur, apalagi ketika sedang menginap. Raham paham banget kondisinya. Meski begitu, dia tetap menganjurkan untuk selipkan jeda. Misal, tiap enam jam, kamu bisa melepaskan binder dada sebentar di toilet lalu melakukan peregangan ringan biar tubuh bagian atas rileks.
Patokan nyaman dan aman dalam pemakaian binder adalah ketika kamu masih bisa beraktivitas normal. Kalau sudah mulai terasa sesak, pusing, atau gerak menjadi terbatas banget, itu tanda tubuh minta istirahat.
Validasi Perasaanmu. Semua Bagian dari Proses
Proses cari binder yang pas nggak cuma soal salah beli atau salah ukuran. Kadang juga melibatkan emosi yang kuat. Apalagi kalau tujuan penggunaannya adalah ketika kamu merasa nggak nyaman dengan tubuh sendiri.
Raham cerita, ada kalanya muncul rasa trigger atau gender dysphoria saat proses eksplorasi tersebut. Hal itu sangat mungkin terjadi. Kalau itu terjadi, Tabumania bisa coba tarik nafas dulu. Pahami, bahwa itu terjadi bukan berarti tubuhmu salah.
“Bukan berarti kamu membenci dadamu. Nggak ada yang salah dengan dadamu. Kamu cuman lagi mencari cara biar lebih nyaman sama diri sendiri,” terang Raham.
Raham harap teman-teman bisa ambil jeda dan waktu yang dibutuhkan buat menenangkan diri. Agar teman-teman bisa punya energi buat coba lagi nanti. Ingat bahwa setiap orang punya proses yang berbeda. Ada yang cepat menemukan yang sesuai, tetapi ada juga yang butuh waktu lebih lama.
Dalam prosesnya, kamu berhak merasa nyaman. Di luar sana ada banyak orang yang pernah bingung seperti kamu sekarang, dan mereka siap nyambut dan membantumu. Tabumania juga bisa cek informasi soal binder dada di Instagram Transmen Indonesia; @transmen.id
“Semua pengalaman itu berharga dan layak dirayakan karena setiap proses bikin kamu makin kuat kenal sama diri sendiri,” pesan Raham.
***
Oleh Yuviniar Ekawati, penulis adalah lulusan kejurnalistikan dan seorang penulis lepas pada beberapa media massa yang memiliki fokus pada isu gender dan anak.

0 comments on “Panduan Binder Dada untuk Pemula: Cerita dan Tips dari Transmen Indonesia”