Buka Perspektif

Membaca Kembali Surat-Surat Kartini

Karena Menulis adalah Melawan

Barangkali, tidak pernah kita mendengar nama-nama peperangan yang dimenangkan oleh Kartini. Berbeda dengan pahlawan perempuan lainnya seperti Cut Nyak Dien atau Nyi Ageng Serang yang berperang dan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, Kartini menjadi pahlawan perempuan yang berjasa bagi bangsa melalui tulisan-tulisannya yang kritis dan menginspirasi.

Bulan April tentu adalah bulan bagi salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Kartini. Lazimnya masyarakat Indonesia memperingatinya secara seremonial dengan mengenakan baju kebaya, maupun pakaian adat istiadat lainnya. Namun, Tabumania, menarik juga rasanya kalau kita memperingati hari kelahiran Kartini dengan membaca kembali cuplikan surat-suratnya kepada Estelle Zeehandelaar, seorang warga Belanda yang menjadi sahabat penanya, yang diterbitkan dalam buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Sebelumnya, mari mengenal lebih dekat dengan membaca kembali sejarah singkat kehidupannya. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kabupaten Jepara. Terlahir di keluarga ningrat dan menjadi anak Bupati menjadikannya sempat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda di kabupaten tersebut. Kartini yang memiliki gelar Raden Ayu merupakan cucu pangeran Trio Tjondronegoro, Bupati Demak, yang terkenal suka akan kemajuan. Di tahun 1846, disuruhnya seorang guru datang dari Belanda agar anak-anaknya, baik perempuan maupun laki-laki mendapat pelajaran Barat. 

Masa bersekolah adalah waktu dimana Kartini merasa bebas. Namun pada saat berusia 12 tahun, Kartini harus menjalani masa “pingit” yang secara harafiah berarti penutupan. Hingga 4 tahun lamanya, Ia tidak diperkenankan keluar rumah dalam rangka mematuhi adat Jawa yang dikenakan kepada anak gadis yang belum menikah tersebut. Dia sendiri tidak diperbolehkan melanjutkan studinya di tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Kemudian, dia dijodohkan dengan bupati asal rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan apapun yang ditakdirkan keluarga besar untuknya.

Semasa “dipingit”, Kartini merasa sangat tertekan dan sedih karena kebebasannya direnggut. Ia menyatakannya dalam salah satu suratnya, “Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal disana, sesak juga rasanya. Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu. Arah kemana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Untuk menghibur dirinya, Kartini membaca banyak sekali buku pada masa pingit dan mulai menuliskan surat-surat yang berisi cerita namun sarat akan kritik terhadap budaya, adat istiadat termasuk agama yang kala itu sangat kuat mengatur kehidupan masyarakat. Pada salah satu suratnya kepada Stella, Kartini menyatakan bahwa ia menentang, walaupun ia sekaligus tidak berdaya untuk menolak gagasan bahwasanya perempuan wajib untuk menikah. “Saya berkehendak bebas supaya saya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan sekali-kali dipaksa kawin. Tetapi kawin, kami mesti kawin, mesti, mesti! Tiada bersuami adalah dosa yang sebesar-besar dosa yang mungkin diperbuat seorang perempuan Islam, malu yang sebesar-besar malu yang mungkin tercoreng di muka seorang anak gadis Bumiputra dan keluarganya.” (Jepara, 25 Mei 1899)

Salah satu yang menjadi tulisan terkenalnya adalah surat yang bercerita mengenai perjodohannya dengan seorang laki-laki yang telah memiliki tiga istri. Pada surat tersebut, Kartini dengan berani mengkritisi praktik poligami yang rupanya dianggap lazim dan benar pada masa itu. 

“Aku tiada, sekali-kali tiada dapat menaruh cinta. Kalau hendak cinta, pada pendapatanku haruslah ada rasa hormat dahulu, dan aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut hukum Islam? Dan siapa yang tiada berbuat demikian? Dan mengapakah pula tiada akan berbuat demikian? Bukan dosa, bukan kecelaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang kerumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya menjadi saingannya? Boleh disiksanya, disakitinya perempuan itu selama hidupnya sepuas hatinya, tetapi bila ia tiada hendak membebaskan perempuan itu kembali, bolehlah perempuan itu menangis setinggi langit meminta hak, tiada juga akan dapat.Mengertikah engkau sekarang apa sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan bersungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas. Tetapi, tiada suatu jua pun boleh dikerjakan, karena menilik kedudukan Bapak.”

Setelahnya, sekalipun menjalani kehidupan perkawinan yang tidak dikehendakinya, Kartini tetap berupaya untuk memajukan perempuan Indonesia. Kartini wafat pada usianya yang ke 25 di tahun 1904, empat hari setelah melahirkan anaknya. Pada tahun 1912, dibentuklah Yayasan Kartini atas perintah Ratu Belanda dan inisiatif teman-teman terdekat Kartini yang memahami pikiran-pikirannya. Yayasan tersebut berhasil membangun sekolah perempuan di Semarang pada 1912 dan kemudian di Surabaya, Malang dan daerah-daerah lain. Tidak bisa tidak, jasa Kartini sangat berarti bagi kemajuan yang dialami oleh perempuan Indonesia, terutama pada hal tersedianya akses pendidikan yang serta merta berimbas pada kemajuan di bidang lainnya. 

Rasanya, surat-surat Kartini masih sangat relevan untuk dibaca pada konteks realita saat ini. Sekalipun zaman telah banyak berubah dan perempuan terlihat telah memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, namun masih banyak permasalahan sosial yang terjadi khususnya karena ketidaksetaraan gender.

Pada level wacana, tidak sedikit norma-norma absurd contohnya seperti sebaik-baiknya perempuan adalah yang menjadi ibu rumah tangga, atau perempuan yang keluar malam dan berpakaian pendek berarti bukan “perempuan baik-baik”, dan masih banyak lainnya yang masih sangat dipercaya dan secara tidak disadari merugikan perempuan. Lebih dari itu, pada tataran realita angka kekerasan seksual, aborsi tidak aman, dan pernikahan di bawah umur pada perempuan masih sangat tinggi. 

Daftar pekerjaan yang harus kita lakukan untuk kesetaraan yang sebenar-benarnya masih sangat panjang. Namun Kartini mengajarkan, bahwa perjuangan dapat dilakukan dalam bentuk sekecil-kecilnya. Dan yang terkecil namun tersulit, tentunya adalah membangun kesadaran dan mendidik diri. Tak lupa, dari Kartini pula kita belajar bahwa pendidikan masih merupakan senjata yang ampuh sebagai bekal untuk kerja-kerja tersebut.  

Selamat hari Kartini, tetap semangat untuk kita semua yang bekerja untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara!

0 comments on “Membaca Kembali Surat-Surat Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: