Buka Cerita

You and I, Sebuah Kisah Penyintas ‘65

Judul: You and I | Director: Fanny Chotimah | Producers: Amerta Kusuma, Tazia Teresa Darryanto, Yulia Evina Bhara | Durasi: 72 menit

Tabumania, siapa di sini yang punya hobi nonton? Khususnya nonton film dokumenter karya anak negeri. Jika kamu salah satunya, sangat direkomendasikan memasukkan You and I sebagai salah satu list yang wajib kamu tonton. Soalnya You and I telah meraih dua penghargaan bergengsi lho, seperti Piala Citra 2020 untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik dan Piala Maya untuk Film Dokumenter Panjang Terpilih.

Kabar baiknya, You and I yang dirilis pada tahun 2020, sudah tayang di Indonesia dan dapat dinikmati oleh para pecinta film tanah air. Namun sebelum kepoin lebih jauh tentang siarannya, melalui Qbukatabu Fanny Chotimah yang berprofesi sebagai sutradara dan director You and I mau berbagi tentang proses dan pengalamannya saat menggarap film tersebut. Kuylah sambil kenalan sama directornya, kita simak juga cerita-cerita menarik dari yang bersangkutan.

Fanny Chotimah saat ini bertempat tinggal di Solo, kota yang terkenal dengan keramahan penduduknya. Selain sebagai sutradara, perempuan 38 tahun ini, juga memiliki pengalaman menjadi produser dari berbagai karya sejak tahun 2019 hingga 2021. Karya-karyanya di antaranya: produser film dokumenter pendek “Hari-Hari Radya Pustaka” dengan sutradara Agustian Tri Yuanto, produser film fiksi panjang “3 Warna 1 Cita” dengan sutradara Steve Pillar Setiabudi, dan produser film fiksi pendek “Aku dan Bineka” dengan sutradara Wahyu Agung Prasetyo.

Bicara tentang latar belakang pembuatan You and I, menurutnya hal itu muncul ketika mengetahui sosok yang kemudian menjadi tokoh penting di film tersebut, yaitu Mbah Kaminah dan Kusdalini. Kedua sosok tersebut muncul pada sebuah project buku foto mengenai para penyintas berjudul Sang Pemenang Kehidupan karya fotografer Adrian Mulya dan Lilik HS. Lanjutnya, dikarenakan sama-sama berada di Solo, maka hal itu mendorongnya untuk berkunjung dan menjalin hubungan hingga akhirnya lahir kisah You and I.

“Saya merasa perkenalan saya dengan mereka telah menginspirasi saya. Karenanya saya ingin membagikan kisah mereka, hingga akhirnya saya meminta izin untuk mendokumentasikan kehidupan mereka.” ucapnya.

Perempuan yang juga memiliki hobi nonton film ini, turut menceritakan tentang temuan menarik dari proses dan pengalaman pembuatan You and I. “Kami tertarik untuk mendokumentasikan kehidupan Kaminah dan Kusdalini karena kami ingin tahu bagaimana mereka bertahan hidup selepas dari penjara. Tentunya tidak mudah dengan stigma ex-tapol yang melekat. Bagaimana mereka bisa bertahan dan menjalani keseharian terutama di usia yang tak lagi muda.”

Tabumania, jangan kaget! You and I, memang berkisah tentang kehidupan yang dijalani perempuan penyintas dari peristiwa ’65. Sebuah peristiwa yang dianggap masih sensitif di Indonesia karena kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Akan tetapi, para tim di balik You and I tentu sudah memikirkan hal tersebut dengan seksama.

“Kami menyadari jika isu terkait peristiwa ’65 merupakan isu yang sensitif. Karenanya kami harus berstrategi bagaimana membicarakan isu ini tanpa membuatnya menjadi sebuah kontroversi. Dari pengalaman kita tahu adanya pelarangan pemutaran ataupun pembubaran oleh oknum yang memprovokasi masyarakat.” imbuhnya.

Fanny Chotimah menambahkan tentang situasi dan kondisi yang kerap dialami perempuan sebagai ex-tapol (tahanan politik) peristiwa ’65. Adanya stigma ex-tapol membuat penyintas tidak dapat melanjutkan pendidikan di sekolah dan tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan, menurutnya juga membuat penyintas kesulitan untuk mendapatkan pasangan hidup karena stigma buruk yang melekat.

Berangkat dari kondisi tersebut, menurut Fanny penting untuk membuat film You and I dan mendistribusikannya kepada masyarakat luas. Harapannya melalui You and I, dapat menumbuhkan rasa empati pada penonton terhadap para penyintas sehingga tidak mudah memberikan stigma yang buruk. “Dengan menerima dan melihat mereka bahwa mereka seorang manusia yang memperjuangkan hak dan keadilan bagi mereka, kita semua bisa turut serta mendukung proses advokasi kasusnya. Dan semoga bisa mengarah pada sebuah kebijakan dari pemerintah untuk penyelesaian kasus ini.” Tegasnya.

Meski You and I merupakan film yang mengangkat salah satu cerita dari sejarah di Indonesia, jika bicara industri film tetap saja masih tantangan yang datang dari pihak-pihak lain yang mau bekerjasama hanya dengan melihat dari segi komersilnya. “Film semacam You and I meski merupakan film penting namun belum tentu juga bisa berhasil secara komersial.” Jelas Fanny.

Bila Tabumania penasaran untuk melihat ulasan singkatnya, tautan berikut dapat dijadikan rujukan ya https://www.youtube.com/watch?v=CqwXFWJJ2DM

So, gimana Tabumania? Makin penasaran dan nggak sabar nonton filmnya, kan? Selow. Tabumania dapat mengunduh aplikasi Bioskop Online, bagi pengguna baru dapat melakukan pendaftaran, dan bagi pengguna yang telah memiliki akun dapat langsung masuk ke beranda. Selanjutnya ikuti petunjuk yang tertera untuk proses pembayaran sesuai pilihanmu.

Jika sudah nonton You and I boleh dong berbagi pengalaman, sudah bertambah sampai di mana nih pengetahuan Tabumania tentang kisah perempuan yang menjadi saksi hidup dari peristiwa ’65? Mungkin ada yang mau cerita dari buku-buku yang pernah dibaca, atau dari kisah yang pernah disampaikan orangtua, ataupun bagi yang pernah menemukan film serupa? Mempelajari pengetahuan tersebut, penting lho, Tabumania. Soalnya, sebagai generasi kekinian, kita harus mempelajari sejarah dan memastikan agar tidak ada lagi kisah kelam masa lalu yang dapat terulang di masa kini.

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “You and I, Sebuah Kisah Penyintas ‘65

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: