Buka Layar

Temuan tentang Terapi Konversi pada Transgender

Tabumania, pernah mendengar istilah terapi konversi? Atau kata lain yang umum dikenal sebagai ruqyah. Biasanya terapi konversi/ruqyah dilekatkan pada individu dan atau kelompok tertentu yang dianggap tersesat dan membutuhkan pertolongan. Ada beberapa contoh, misalnya seseorang yang selama hidupnya sakit-sakitan maka akan dirujuk untuk dilakukan ruqyah, karena ada anggapan orang itu telah dimasuki roh halus sehingga dibutuhkan ritual khusus untuk menyembuhkannya. Contoh lainnya, bisa juga terjadi pada seseorang yang dianggap tidak normal bagi masyarakat. Seorang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tidak sedikit yang mendapat perlakuan serupa. Dibawa ke tokoh agama, dukun, psikolog, psikiater dan orang yang dianggap pintar agar dapat disembuhkan SOGIESCnya https://qbukatabu.org/2019/07/25/seksualitas-manusia/. Mirisnya, orang yang kerap menyarankan praktik terapi konversi/ruqyah justru datang dari keluarga.

Anggapan bahwa LGBT adalah individu dan/atau kelompok yang menyimpang/tidak normal, telah membuat banyak LGBT harus menjalani terapi konversi/ruqyah. Pengalaman itu akhirnya menimbulkan trauma pada diri korban, sehingga ada perasaan menyalahkan diri sendiri, tidak percaya diri, dan bahkan keinginan bunuh diri.

Berangkat dari situasi tersebut, Jaringan Transgender Indonesia (JTID) bersama Asia Pasific Transgender Network (APTN) dan berkolaborasi dengan negara lainnya, melakukan penelitian terkait praktik terapi konversi di Indonesia. Penelitian tersebut dilakukan selama empat bulan terhitung dari Agustus hingga November tahun 2020. Penelitian itu melibatkan 24 responden yang di antaranya terdiri dari 13 individu transgender dan lainnya dari informan kunci seperti perwakilan dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, tokoh agama, petugas kesehatan, media dan ahli hukum.

Nantinya hasil dari penelitian secara resmi akan diluncurkan oleh APTN bersama dengan laporan serupa dari Malaysia, India, dan Srilangka, di pertengahan tahun 2021.

Setelah penelitian selesai dilakukan, JTID telah beberapa kali melakukan pertemuan desiminasi hasil penelitian, baik yang dilakukan secara terbatas maupun publik. Pada momen itu, JTID memaparkan salah satunya tentang konteks negara yang melihat terapi konversi tidak dianggap sebagai bentuk penyiksaan. Padahal, menurut terminologi yang dirumuskan, praktik terapi konversi sebagai istilah umum untuk menggambarkan setiap intervensi aktif yang dilakukan oleh satu orang (atau lebih) untuk mengubah identitas gender, perilaku, atau ekspresi gender dan/atau untuk menghilangkan atau mengurangi ketertarikan atau perasaan romantis atau seksual yang dianggap tidak sesuai, dengan didorong oleh keyakinan bahwa orientasi seksual atau identitas gender seseorang dapat dan harus diubah jika dianggap “menyimpang”.

Pelaksanaan praktik terapi konversi kerap menggunakan cara-cara yang menyiksa baik secara psikis, maupun fisik. Tidak sedikit cerita dari teman-teman transpuan lainnya yang pernah tertangkap saat razia ketertiban umum. Selama masa penahanan, petugas kerap mendatangkan tokoh agama untuk memberikan ceramah dan anjuran agar LGBT bertobat karena dianggap dosa menurut agama. Ada pula yang harus dicukur habis rambutnya agar teman-teman transpuan ini terlihat maskulin saat kembali ke tengah masyarakat. Alih-alih tindakan tersebut adalah solusi, sebaliknya justru menjadi penyiksaan bagi individu/kelompok LGBT karena pemaksaan tersebut bagian dari praktik terapi konversi.

Peran pemerintah terhadap kriminalisasi pada LGBT selama ini juga tetap digulirkan melalui Peraturan Daerah dan Rancangan Undang-Undang seperti RUU Ketahanan Keluarga. Contoh pada Perda kota Padang, Pasal 24 yang berbunyi “Setiap orang dilarang berlaku sebagai waria yang melakukan kegiatan mengganggu ketentraman dan ketertiban umum.” Bahkan di Kementeriann Sosial, terdapat Direktorat Rehabilitasi Sosial Masalah Sosial dan Korban Perdagangan Orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program rehabilitasi sosial. Waria juga dikategorikan peyandang masalah kesejahteraan sosial.

Dari konteks negara tersebut, berdasarkan penelitian yang dilakukan JTID maka disimpulkan pemerintah dapat melakukan razia sosial dengan justifikasi membantu mereka yang tertangkap. Razia sosial tersebut dengan memberikan bimbingan agar dapat berinteraksi dengan masyarakat, dan dapat mengatur pada cara hidup yang disetujui secara sosial.

Meskipun ada berbagai bentuk yang dapat digolongkan sebagai bagian dari praktik terapi konversi, di laporan penelitian JTID juga menyebutkan tantangan yang ditemui pada individu transgender yang minim pengetahuan tentang definisi/isitilah terapi konversi. Seperti contoh salah satu pernyataan responden yang mengatakan “Saya tidak tahu bahwa dibawa oleh dukun atau dukun itu  terapi konversi, dulu saya mengerti hanya kalau dilakukan oleh psikolog, sekarang saya tahu kalau pergi ke Kiai dan dukun juga terapi konversi…”

Istilah praktik terapi konversi dari penelitian yang dilakukan JTID juga berkembang, tidak hanya muncul tentang istilah ruqyah (umat Islam) yang lebih familiar, tapi juga dikenal dengan konseling pastoral (umat Kristiani). Bentuk lainnya ialah dibawa ke psikolog dan psikiater secara paksa. Salah satu cara yang digunakan ketika melakukan upaya terapi konversi adalah dengan menggunakan media air, misalnya seorang transgender diberikan air yang bersih untuk sembahyang. Penggunaan air sebagian besar berasal dari konsep pembersihan jiwa dari godaan setan yang ternoda.

Dari cerita responden yang telah dihimpun, JTID juga menemukan fakta terkait praktik terapi konversi yang dilakukan dengan mendatangi ahli kesehatan mental seperti psikolog dan psikiater. Hal tersebut umumnya dilakukan apabila intervensi agama dianggap gagal. Pada saat kejadian berlangsung, responden hanya dapat mengikuti anjuran tersebut karena tidak memiliki dukungan atau posisi tawar untuk menolak. Ada berbagai faktor umum yang menjadi penyebabnya, seperti masih ada ketergantungan ekonomi, berusaha menyenangkan dan menuruti keinginan keluarga, dan tidak memiliki sistem pendukung.

Oleh karena itu dari penelitian yang dilakukan, JTID berencana akan menggunakannya sebagai bahan advokasi. Hal tersebut didorong karena tidak adanya perlindungan hukum bagi individu yang telah dipaksa melakukan praktik terapi konversi di Indonesia.

Hal lainnya ialah penting untuk memberikan pengetahuan dan pemberdayaan kepada individu transgender agar memahami hak dasar yang dimilikinya. Pengetahuan dan pemberdayaan juga penting diberikan kepada anggota keluarga sebagai kunci yang memegang peran penting untuk mengurangi kemungkinan pemaksaan terapi konversi pada anggota keluarganya.

Tabumania, saat ini desiminasi hal penelitian praktik terapi konversi pada transgender di Indonesia memang belum dapat diakses secara umum. Akan tetapi bila ingin mengetahui atau membacanya lebih lengkap, dapat menghubungi Jaringan Transgender Indonesia.

Hasil penelitian ini juga dapat menjadi rekomendasi pada pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan dan pengakuan hukum agar kelompok transgender bebas dari segala bentuk kekerasan. Selain itu, dapat juga menjadi rekomendasi bagi asosiasi psikiatri dan psikologis, organisasi non pemerintah lainnya, agar menghindari bias dan memberikan penghakiman pada kelompok transgender.

Bagi individu dan kelompok transgender, mari bersama-sama meningkatkan pengetahuan tentang bahaya praktik terapi konversi kepada masyarakat yang lebih luas.

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Temuan tentang Terapi Konversi pada Transgender

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: