Buka Layar

Ngomongin Ruang Online buat LGBT

“Pas lockdown kemarin pengeluaran pulsa gue membengkak deh, secara nggak pakai wifi di rumah.”

“Lha, HP gue sampai jebol karena kebanyakan ikut webinar dan nge-hotspot terus.”

“Gue justru belanja online mulu karena nggak bisa kemana-mana.”

 

Tabumania, siapa yang sejiwa dengan curhatan di atas? Sepenggal cerita selama masa-masa #dirumahaja yang telah kita lewati dengan penuh perjuangan. Yuk ah, kita apresiasi diri karena sudah melewati masa-masa itu. *puk *puk *puk

Penggunaan paltform digital selama pandemi Covid-19 memang meningkat dibandingkan sebelumnya. Temuan dari Global Web Index menunjukkan lebih dari 76% orang usia 16-64 tahun menggunakan platform digital melalui smartphonenya. Akses pada penggunaannya juga bermacam-macam, misalnya untuk media sosial, keperluan belanja online, dll.

Adanya perubahan perilaku selama masa pandemi dengan bertransformasi ke platform digital hampir dirasakan oleh seluruh lapisan. Pedagang yang sebelumnya tidak bekerjasama dengan jasa online, kini mulai kerjasama, murid dan mahasiswa yang biasanya belajar di kelas, kini bisa belajar melalui online. Lalu, bagaimana nih dengan teman-teman Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT)?

Tabumania tentu sudah tidak asing dengan sebutan diskusi online dong? Sebuah cara diskusi masa kini yang ngetren semenjak masa pandemi. Terhitung sejak Maret, bahkan sampai saat ini, ajakan diskusi online masih hilir mudik di berbagai beranda media sosial hingga status di aplikasi pesan instan. Beragam tema diskusi dan narasumber seolah menjadi daya tarik agar bisa mengajak orang-orang terlibat. Ada kegiatan yang dilaksanakan secara private/pengkhususan peserta dan ada yang bersifat umum alias bisa diikuti publik.

Memang tidak bisa dipungkiri ada perubahan strategi yang dilakukan instansi/organisasi untuk menjalankan aktifitasnya. Salah satu contohnya, workshop yang dijadwalkan di bulan April yang menghadirkan 100 orang di Bali dengan berbagai persiapan sejak Februari, ternyata teloleeet ada Covid. Mau mengutuk kondisi dan berteriak “kenapa ada Covid?!” juga nggak ada faedahnya. Maka, mencari solusi lain atau mengubah strategi menjadi koentji agar kegiatan tetap jalan dan pikiran tetap waras.

Bagi teman-teman LGBT, khususnya individu yang berada di daerah susah sinyal dan atau tidak tergabung di instansi/organisasi, mulanya menemukan tantangan ketika beradaptasi dengan platform digital untuk diskusi online. Tantangannya mulai dari memori telepon yang tidak memadai, tidak terbiasa dengan teknologi, bahkan sampai perkara menguras kuota.

Mengubah kebiasaan dari pertemuan fisik ke online memang tidak mudah, khususnya jika belum bisa memaksimalkan penggunaan teknologi. Akan tetapi, demi mengejar informasi dan tidak tertinggal di era digitalisasi, akhirnya teman-teman LGBT yang mulanya menemukan tantangan mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Salah satu contoh yaitu mempelajari penggunaan salah satu aplikasi online meeting. Dengan kemampuan tersebut, teman-teman LGBT mendapatkan peluang untuk saling berinteraksi dan terlibat di berbagai diskusi.

Selain tantangan, teman-teman LGBT mengemukakan manfaat dari kegiatan yang beralih ke digital, seperti kekayaan mendapatkan berbagai informasi dari diskusi yang diselenggarakan berbagai instansi/organisasi. Diskusi online juga bisa menampung ratusan peserta dari berbagai macam wilayah dan provinsi di Indonesia. Apalagi dikarenakan tidak terbatas di salah satu wilayah, platform digital membuat siapapun dapat berkontribusi dalam kegiatan selama ada akses smartphone/laptop dan internet. Menarique bukan?

Merebaknya diskusi online dan tingginya antusias peserta yang mengikuti menjadi momen baik bagi instansi/organisasi untuk menampilkan visibilitasnya sekaligus melakukan pengorganisasian kepada teman-teman LGBT. Instansi/organisasi turut memaksimalkan platform digital untuk menyebarkan informasi, misalnya terkait kondisi dan situasi teman-teman LGBT di wilayah yang terdampak Covid, serta informasi donasi terbuka agar bisa disalurkan kepada mereka. Jadi memang benar-benar ada manfaatnya gitu ceunah!

Platform digital memiliki peran penting dalam berbagai perayaan, seperti International Day Against Homophobia, Bipohobia, Interphobia and Transphobia (IDAHOBIT) di bulan Mei dan PRIDE di bulan Juni. Setiap orang bisa berpartisipasi di berbagai perayaan yang diusung oleh instansi/organisasi, seperti ajakan diskusi online, lomba menulis, kampanye dan partisipasi dengan tagar perayaan, dll.

Plaform digital saat ini juga salah satu pilihan ruang aman bagi instansi/organisasi, maupun bagi teman-teman LGBT. Bila sebelumnya instansi/organisasi kelimpungan mencari lokasi aman untuk berdiskusi dengan tema yang dianggap “sensitif”, melalui diskusi online hal tersebut tidak berlaku. Diskusi bisa dilakukan di ruang-ruang yang secara pribadi kita rasa sudah aman, misalnya di kamar sendiri. Ketika instansi/organisasi melaksanakan diskusi online, beberapa orang akan bersiap memantau teknis agar kegiatan dapat berlangsung dengan nyaman. Persiapan itu untuk menghindari pihak-pihak yang berencana berbuat aneh-aneh, seperti mengirim gambar yang tidak sopan maupun berisik. Pokoknya, bila ada peserta yang “nggak-nggak” bakal dikick out deh.

Penggunaan platform digital juga jelas mampu mengorganisir teman-teman LGBT yang ada di berbagai wilayah. Diskusi online kerap dijadikan ajang perkenalan satu dan lainnya. Tak jarang instansi/organisasi meninggalkan alamat surel maupun nomor telepon yang bisa dihubungi apabila teman-teman LGBT membutuhkan diskusi lebih lanjut. Melalui cara-cara seperti itulah, terjalin koneksi antara satu individu dan yang lainnya. Instansi/organisasi tetap dapat melibatkan teman-teman LGBT apabila ada kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan.

Oke Tabumania, dengan maraknya informasi dari berbagai sumber di diskusi online, alangkah baiknya nih jika pengetahuan tersebut tidak berhenti di diri kita saja lho. Sudah ada inspirasi belum untuk membagikan pengetahuan? Barangkali Tabumania yang biasanya jadi peserta mau jadi narasumber di sesi-sesi diskusi kecil? Bisa lho mulai dari lingkup teman terdekat dulu. Jangan lupa untuk bijak memilah sumber-sumber informasi ya! Meskipun banyak undangan kegiatan, cukup yang strategis dan benar-benar minat dari diri aja yang Tabumania jabanin. Jika semua diikuti, nanti membengkak lho, kuotanya hehe.

 

 

 

 

 

 

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Ngomongin Ruang Online buat LGBT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: