Buka Layar

Bahasa Binan, Pemersatu Para Transpuan

“Beraposeh yey dibeyong ama tu lekong?” (Berapa sih kamu dibayar sama laki-laki itu?)

“Mursidah cin, bisik buat belalang rexona ajoseh.” (Murah cin, bisa buat beli rokok aja sih)

Tabumania, dua kalimat di atas merupakan contoh percakapan antar dua teman transpuan/waria menggunakan bahasa binan/cong dengan fasih (lancar).

Saat ini, perkembangan bahasa binan/cong memang cukup populer di Indonesia. Sebagian masyarakat dari berbagai kalangan; anak muda, selebriti, pekerja seni, aktivis dan lainnya juga semakin banyak yang memahami dan turut menggunakannya. Semakin dikenalnya bahasa binan/cong juga tidak lepas karena komunitas transpuan/waria aktif merawat dan menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari; baik di ruang privat maupun publik.

Tiga orang transpuan/waria berbeda usia, asal daerah, dan latar belakang berbagi pengalaman tentang makna sejarah dan perkembangan bahasa binan/cong di Indonesia. Mereka menceritakan awal mula penggunaan dan pemaknaan bahasa binan/cong yang mereka dapatkan melalui sebuah komunitas.

Ruli Malay, seorang aktivis berusia 58 tahun keturunan Bugis Bone, lahir di Surabaya menceritakan  dirinya mengenal bahasa binan/cong sejak remaja. “Tahun ’75 di Surabaya ada banyak waria yang kerja sebagai tukang masak di kapal. Waktu itu saya belum ikut pakai bahasa binan sebagai bahan komunikasi, tapi saya mengerti persis bahasa yang digunakan para wadam itu, seperti contoh kata departemen (depan).” Wadam adalah kependekan dari wanita adam. Pada tahun ’75 sebutan ini ditujukan kepada seseorang/komunitas yang saat ini dikenal sebagai transpuan/waria.

Pada tahun ’78, Ruli Malay menuturkan bahwa dirinya mulai sepenuhnya dandan, dan saat itulah aktif menggunakan bahasa binan/cong dalam kesehariannya. Masih di tahun yang sama, Ruli Malay yang sempat singgah di Sulawesi, lalu dekat dengan bahasa binan/cong di daerah. “Saya juga sering jumpa dengan komunitas Calabai, di sana mereka juga menggunakan bahasa yang diplesetin, saya tahunya karena mereka ada yang bekerja di salon, penjahit, jadi saya semakin paham.”  Menurut Ruli Malay, antar pekerja tersebut saling  mengerti bahasa satu dan lainnya karena menggunakan perasaan (feeling). “Bahasa jadi penting, karena itu juga natural dan bisa didapatkan dengan feeling, spontan.”

Bahasa binan/cong sebagai salah satu bahasa yang dikembangkan komunitas transpuan/waria, Ruli Malay memahami bahwa bahasa tersebut merupakan bahasa yang sarat makna. Bahasa yang digunakan agar sesama komunitas dapat berkomunikasi dengan aman.“Bahasa tersebut disamping entitas diri, juga merupakan sebuah perlindungan, merahasiakan sesuatu yang memang harus dirahasiakan.” Menurut Ruli Malay, bahasa juga merupakan sebuah pemersatu antar komunitas. Sebagai sosok yang sudah cukup berpengalaman ke berbagai daerah di Indonesia, ia menilai bahasa binan/cong di kehidupan yang masih biner ini diperlukan mengingat transpuan/waria kerap mengalami kekerasan sehingga butuh ruang untuk mengkomunikasikan hal-hal privat tanpa harus diketahui oleh pihak lain.

Sebagai aktivis yang turut mengikuti perkembangan, Ruli Malay yang saat ini tinggal di Yogyakarta juga menyadari bahwa bahasa binan/cong saat ini memang banyak perubahan. “Bahasa binan yang sekarang ini lebih banyak bahasa prokem, seperti cus ke sindang (cepat ke sini), seperti plesetan yang lebih mudah dimengerti dibandingkan dulu. Dulu itu bahasa binan/cong seperti sandi morse.” Ruli Malay melanjutkan bahwa orang di zaman sekarang lebih mudah mengira-ngira atau menebak maksud dari bahasa binan/cong. Hal tersebut didukung oleh terbitnya Kamus Bahasa Gaul pada tahun ‘90an. “Orang dulu kalau ngomong kan tatap muka, lebih loyal, kalau sekarang bisa melalui dunia maya, karena ada aksesnya.”

Bagi Ruli Malay, entitas bahasa binan/cong menyangkut perlindungan diri dan keamanan. Namun ia tidak mempermasalahkan ketika tidak banyak orang yang memahami. Ia juga memahami ketika bahasa binan/cong berkembang menjadi bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Berbeda kisah dengan Ruli Malay, seorang aktivis dari Tarena Aceh yang sehari-hari bekerja di salon juga mempunyai kisah seru lainnya. Ance Grande yang kini berusia 38 tahun mengutarakan bahwa dirinya juga mengenal bahasa binan/cong sejak tahun ’98. “Eike pertama kali kenal saat terjun ke pangkalan daerah Langsa, di situ tempat berkumpul waria saat itu.” Sebelum aktif bekerja di salon, Ance Grande dulunya sempat bekerja sebagai pekerja seks dan kata pangkalan digunakan sebagai sebutan lokasi. Ance Grande juga menuturkan bahwa dirinya tidak terlalu mengetahui mengenai sejarah bahasa binan/cong, karena menurutnya bahasa tersebut sudah dipelajari secara lintas generasi. “Sejarahnya nggak tahu, tapi seniornya, ada Mak Ay pakai bahasa itu, jadi ya tahu.”

Menurut Ance Grande, dari tahun ’98 hingga kini perkembangan bahasa binan/cong memang cukup pesat, banyak kosakata baru yang muncul. Baginya hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan karena semua orang bisa mempelajari dan menggunakan bahasa binan/cong. Bahkan bahasa binan/cong juga kini merambah pada dunia entertainment, media sosial, dan percakapan sehari-hari. “Namanya bahasa tentu akan menyebar, yang penting gunakan sesuai dengan kondisi karena itu juga alat percakapan rahasia di tempat umum.” Ketika ditanya mengenai kekhawatiran tentang banyaknya masyarakat umum yang mengetahui bahasa binan/cong, rupanya Ance Grande juga tak lepas dari rasa khawatir. “Rasa khawatir pasti ada, kita kalau mau ngomong agak rahasia atau sensitif kan jadi ketahuan, kayak Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, orang pada tahu.” tuturnya.

Tabumania, jika dua narasumber di atas mengetahui dan belajar bahasa binan/cong ketika usia belasan tahun, berbeda dengan Lala. Seorang transpuan muda dari Kepulauan Riau yang saat ini aktif di Sanggar Waria Remaja Jakarta justru belajar bahasa binan/cong ketika dirinya berusia 22 tahun.

Aku tahunya waktu pendaftaran transchool akhir tahun 2016, karena di situlah aku bersosialisasi langsung dengan teman-teman transpuan.” Transchool merupakan salah satu program pendidikan alternatif yang dibuat oleh Sanggar Waria Remaja untuk teman-teman transpuan di berbagai wilayah di Indonesia. Saat itu Lala sebagai salah satu transpuan yang diterima mewakili daerahnya. Menurut Lala, di daerahnya tidak ada komunitas transpuan, hal itulah yang membuatnya terlambat belajar bahasa binan/cong. “Adanya transpuan individu satu atau dua orang aja, itu pun paling tahunya kata emberan.”

Lala menjeaskan bahwa dirinya terlambat mengetahui bahasa binan/cong, namun mengaku bahwa keinginannya untuk belajar sangat tinggi. “Aku sih nggak tahu kalau bahasa binan/cong ada sejarahnya, karena aku belajarnya langsung adaptasi dan otodidak, tapi kemauan diriku untuk belajar itu ada.” Ketika ditanya untuk apa belajar bahasa binan/cong, hampir sama dengan jawaban narasumber lainnya bahwa bahasa binan/cong merupakan alat komunikasi antar komunitas yang dapat mengakomodir isu-isu sensitif tanpa diketahui oleh orang lain. Baginya bahasa binan/cong merupakan senjata diam-diam untuk membahas isu politik di depan umum dan juga sebagai bagian identitas diri yang dapat menjadi ciri khas di sebuah komunitas. Antar komunitas akan ada keterbukaan dan terjalin komunikasi yang erat dengan memahami bahasa tersebut.

Tabumania, dari ketiga narasumber di atas, kita bisa mengetahui makna bahasa binan/cong dan perkembangannya, baik yang digunakan di kota-kota besar maupun yang berada di daerah. Mereka mempercayai bahwa bahasa binan/cong merupakan sebuah bahasa yang mempersatukan antar komunitas transpuan/waria di berbagai daerah, sehingga bahasa tersebut butuh dirawat agar tidak kehilangan maknanya.

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Bahasa Binan, Pemersatu Para Transpuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: