Buka Perspektif

Ingat-Ingat Sejarah Bahasa Binan

Ih rempong! Cucok ya kamu! Yuk capcus! Mawar tinta! Emberan!

Tabumania, ada yang mengenal kata-kata tersebut sebagai bahasa binan atau bencong, tetapi ada juga yang mengenalnya sebagai bahasa gay dan transpuan.Bahasa binan selanjutnya banyak digunakan orang-orang cis dalam kehidupan sehari-hari – terutama dalam pergaulan – dan  pekerjaan, misalnya para presenter, komedian dan sebagainya. Penggunaan bahasa binan sehari-hari memperlihatkan komunikasi yang cair diantara penggunanya. Dibandingkan bahasa Indonesia baku, bahasa binan dalam komunikasi lisan membuat interaksi jadi lebih akrab.

Kemunculan Bahasa Binan

Dr. Tom Boellstroff, seorang ahli antropologi dari University of California, Irvine, Amerika memperkirakan kemunculan bahasa binan pada 1970-an. Boelstroff menyebutnya sebagai bahasa gay. Namun, Dede Oetomo, seorang sosiolog, aktivis AIDS, dan aktivis gay Indonesia menyebutnya sebagai bahasa waria (transpuan) dan gay.

Dalam bukunya Memberi Suara pada yang Bisu, Dede Oetomo menjelaskan kemunculan bahasa binan menjadi hal yang wajar karena masyarakat senang bermain-main dengan bahasa. Penelitian Th.C. van der Meij tentang Berbagai Aspek Bahasa Rahasia di Jakarta menyebutkan hal serupa. Ia memandang bahasa binan di Jakarta, Medan/Tapanuli sebagai bahasa bermain (speeltaal atau ludic).

Dede Oetomo menjelaskan perkembangan bahasa binan terlihat pada 1960-an. Saat itu kata trimse’ atau trimse’ kamse’ banyak didengar dan dipakai untuk mengatakan terima kasih. Lalu bahasa Indonesia informal mengenal kata bencong (transformasi dari banci). Perkembangan bahasa binan makin meluas pada 1990-an ketika media elektronik semakin banyak digunakan sehingga bahasa yang awalnya hanya dipakai transpuan dan gay ini semakin populer di masyarakat.

Bahasa binan memiliki kosakata bahasa daerah, tetapi tata bahasa binan mengikuti konstruksi bahasa Indonesia. Mengutip laman situs Gaya Nusantara, pembentukan bahasa binan terjadi melalui dua proses, yaitu proses perubahan bunyi kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa Indonesia dan proses penciptaan kata atau istilah baru ataupun pergeseran makna kata atau istilah yang sudah ada.

Gaya Nusantara setidaknya mencatat ada enam proses pembentukan bahasa binan. Pada jenis pertama, bahasa binan mengubah bunyi kata-kata bahasa Jawa dengan mempertahankan suku kata pertama dari suatu kata dasar. Jika suku kata pertama berakhir huruf vokal, maka konsonan pertama suku kata selanjutnya dipertahankan. Lalu ditambahkan awalan si- pada awalan potongan, misalnya wedok (perempuan)-> wed -> siwed. Jenis pertama ini banyak ditemui di Malang, Surabaya, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan kota-kota lain berbasis budaya Jawa.

Bahasa Indonesia yang digunakan di Jakarta memengaruhi jenis bahasa binan kedua dan ketiga. Proses jenis ini mengubah suku kata terakhir sehingga berakhiran –ong yang kemudian dinamakan omong cong atau bahasa ong-ong dan –es yang disebut omong ces atau bahasa es-es. Kedua proses tersebut juga mengubah bunyi huruf vokal suku kata sebelumnya dengan e-, contohnya banci -> bencong atau bences. Penggunaan –ong maupun –es ini tidak mengikuti kaidah pasti sehingga saat orang menggunakannya terkesan sembarang atau sesuka hati.

Jenis keempat yaitu proses menyisipkan –in– setelah konsonan awal suku kata pada kata tertentu sehingga kata menjadi dua kali lebih panjang lalu kata yang panjang tersebut dipendekkan lagi, contoh: gay -> ginay, lesbi -> linesbini -> lines. Jenis ini awalnya hanya dipakai di Jakarta dan Bandung, namun pada perkembangannya digunakan di kota-kota lain.

Jenis kelima mirip dengan jenis pertama, yaitu memotong kata sehingga hanya menyisakan suku kata pertama lalu ditambahkan akhiran –se, contoh Cina -> Cin -> Cinse.

Jenis keenam konon berawal di Medan lalu menyebar ke kota-kota lain. Pada jenis ini, suku kata atau bagian suku kata awal dari kata dasar dipertahankan dan selebihnya diubah sehingga seakan-akan muncul kata lain, misalnya emang -> em -> ember, tidak -> ti -> tinta

Bahasa Binan, dari Bahasa Rahasia sampai Bahasa Gaul

Dalam buku Falling into the Gay World: Manhood, Marriage, and Family in Indonesia, Richard Howard mengungkapkan ketika orang gay menggunakan bahasa gay, mereka bisa berbicara lebih bebas tentang pengalaman orientasi seksualnya tanpa khawatir orang lain mengerti yang mereka ucapkan (Howard dalam Adihartono, 2012). Pada perkembangannya, bahasa binan tidak hanya digunakan orang gay maupun transpuan saja, tetapi juga sebagai bahasa gaul.

Tom Boellstroff mencari tahu mengenai alasan penggunaan bahasa binan ini. Beberapa narasumbernya mengatakan bahasa binan merupakan bahasa rahasia di antara komunitas gay dan transpuan, meskipun ternyata orang-orang gay dan transpuan tidak selalu berbicara bahasa binan di tengah komunitasnya saja. Terkadang, bahasa binan justru digunakan dalam konteks sehari-hari, misalnya ketika berbicara dengan keluarga atau teman dan dengan pelanggan di salon tempat mereka bekerja. Boellstroff berkesimpulan bahwa bahasa binan dapat menjadi bahasa rahasia dan juga bahasa gaul dalam komunitas gay dan transpuan maupun bentuk perkembangan bahasa Indonesia gaul.

Sementara itu Larno dalam skripsinya Slang Waria Yogyakarta: Kajian Sosiolinguistik menyebut bahasa binan sebagai bahasa slang. Larno menyebutkan tiga poin utama bahasa slang, yaitu digunakan kelompok sosial tertentu, digunakan secara internal dan bersifat rahasia. Tujuan kerahasiaan ini untuk menjaga informasi dari orang di luar komunitas (Larno, 2015:3). Larno menjelaskan bahwa komunitas waria di Yogyakarta menggunakan bahasa khusus yang unik dan bersifat rahasia. Bahasa tersebut digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi antar sesama anggota saja dan tidak dimiliki komunitas lain (Larno, 2015:5).

Terkait dengan bahasa binan sebagai bahasa rahasia, Dede Oetomo memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, label rahasia pada bahasa binan perlu dipertanyakan. Ia melihat kerahasiaan itu tidak begitu ketat karena bahasa binan dengan mudah menjadi bahasa gaul (Oetomo, 2001:68).

Masyarakat semakin mengenal bahasa binan sebagai bahasa gaul karena perkembangan media. Menilik perkiraan tahun kemunculan bahasa binan, munculnya film dan acara televisi cukup memengaruhi penggunaan bahasa binan di masyarakat, misalnya munculnya tokoh Emon dalam film “Catatan Si Boy” pada 1980-an. Dalam film tersebut, Emon sebagai salah satu sahabat Boy digambarkan sebagai laki-laki dengan karakter feminin. Bahasa yang digunakan Emon dalam film tersebut berbeda dengan karakter lain, misalnya menggunakan kata eyke untuk menggantikan kata aku. Karakter laki-laki feminin atau dalam bahasa binan disebut ngondhek muncul juga di acara televisi lainnya, misalnya karakter yang diperankan Ozzy Syahputra dalam “Si Manis Jembatan Ancol”. Ozzy tampil sebagai laki-laki feminin yang bawel dan kemayu. Ditambah lagi pada 1990-an, Debby Sahertian mengeluarkan Kamus Bahasa Gaul yang semakin membuat bahasa binan dikenal karena kamus tersebut memuat diantaranya kata-kata dalam bahasa binan. Kata-kata dalam kamus ini, seperti ember atau sutralah, sebelumnya juga banyak digunakan Debby dalam perannya di komedi situasi (sitcom) “Lenong Rumpi” di salah satu stasiun televisi. Selanjutnya, pada acara-acara komedi lainnya, iklan maupun presenter juga menyelipkan bahasa binan. Kata yiuk (ajakan) yang pernah digunakan dalam acara “Lenong Rumpi” pada 90-an dipopulerkan kembali dalam acara “Extravaganza” pada tahun 2000-an.

Bahasa Binan dan Bahasa Perlawanan

Di sisi lain, Dede Oetomo juga melihat bahwa bahasa binan merupakan bahasa perlawanan terhadap hegemoni (kekuasaan) pihak yang lebih kuat, seperti negara, agama, dll. Dede menyebutkan bahwa dengan ragam bahasa tersendiri ini sudah merupakan tentangan atau perlawanan wacana terhadap konstruksi gender yang kaku, dalam artian ada batas yang kuat dalam maskulinitas dan feminitas. Dede mengambil salah satu contoh yaitu istilah bahasa binan sakinah. Kata ini berasal dari kata sakit (=’homoseks’) -> sak -> sakinah. Menurut Dede, anggapan homoseks itu ‘sakit’, ‘berdosa’ dari lembaga mapan sains dan lembaga mapan keagaamaan yang bermoralitas sempit kemudian dilawan dan diplesetkan menggunakan kata sakinah yang berarti ‘homoseks’. Kata sakinah bisa berarti dua hal yaitu perlawanan terhadap makna sakinah sebagai konsep keluarga dari hegemoni agama dan pengejekan terhadap konstruksi ‘sakit’ oleh hegemoni sains (Oetomo, 2001:69).

Menariknya lagi menurut Dede, perkembangan bahasa binan menjadi bahasa gaul masyarakat umum. Bahasa yang sebelumnya digunakan transpuan dan gay yang banyak ditentang tetapi justru masyarakat menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Tabumania, bahasa merupakan produksi budaya yang selalu berkembang. Bahasa dipengaruhi kebiasaan, bahasa daerah maupun budaya di sekitarnya, termasuk alasan penggunaannya. Sejarah mengungkap orang-orang gay dan transpuan yang mengawali menggunakan bahasa binan. Perkembangan teknologi media memengaruhi orang-orang cis mengenal bahasa binan dan menggunakannya sebagai bahasa gaul (slang). Bahasa binan memiliki sejarah tersendiri yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Nah, salah satu cara untuk merawat dan tidak melupakan sejarah bahasa tentu saja dengan menggunakannya, eim??

Asisten Editor Qbukatabu. Penulis lepas yang belakangan mempelajari puisi, senang bercengkerama dengan kopi, masih belajar mengenal diri sendiri, bisa dihubungi melalui surel diankp.qbukatabu@protonmail.com

1 comment on “Ingat-Ingat Sejarah Bahasa Binan

  1. Pingback: Gaul Kekinian Pake Bahasa Binan, Kok Bisa? – qbukatabu.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: