Buka Layar

Remaja dan Mitos: Ciuman, Menstruasi, Masturbasi

Tabumania, siapa yang waktu kecil pernah ditakut-takuti kalau lagi menstruasi nggak boleh dekat-dekat sama cowok karena bisa hamil, atau buat yang cowok nih, kalau kebanyakan masturbasi dengkulnya jadi kopong. Padahal, semua itu mitos!

Rata-rata, remaja di Indonesia pernah mendengar dan menerima mitos yang keliru tentang seksualitas. Soalnya wacana untuk mengenalkan seksualitas sejak dini memang masih dianggap tabu.

Jangankan bicara mengenai seksualitas, kaum hawa pun malu untuk bertanya cara memakai pembalut yang benar. Gimana nggak malu, lha wong mereka tidak memperoleh informasi yang lengkap; sebagai perempuan yang akan pubertas, mereka tidak dibekali informasi akan mengalami menstruasi dan ketika menstruasi harus memakai pembalut agar darah tidak tembus ke mana-mana. Kebanyakan orangtua hanya memberi pesan pada anak “nanti kamu juga tahu gimana makainya.” Udah gitu doang. Pada beberapa kejadian, bahkan ada perempuan yang enggan menyebut kata pembalut, dan memilih menggunakan kata pengganti; “roti, pampers, atau ganjelan”. Umumnya, mereka menganggap bahwa pembalut merupakan bahasa vulgar untuk diucapkan.

Seseorang kerapkali salah kaprah memaknai seksualitas karena kurangnya pemahaman. Orang masih menganggap bahasa seksualitas itu vulgar sehingga kurang pantas jika diajarkan kepada seorang anak. Seksualitas dianggap mengajarkan anak-anak tentang hubungan seksual. Padahal, seksualitas bisa membicarakan kesehatan tubuh, relasi yang aman dan nyaman antar sesama manusia. Seksualitas menjadi pintu untuk mengajarkan anak lebih mengenali, mencintai dan siap dengan tubuhnya.

Jadi, daripada menakut-nakuti dengan mitos ciuman dapat menyebabkan hamil karena ada pertukaran air liur, lebih baik mengajarkan bahwa ciuman dapat menularkan penyakit. Penularan penyakit akan lebih mudah apabila salah satunya tidak menjaga kebersihan mulut. Bayangkan, jika seseorang dicekoki mitos ciuman dapat menyebabkan hamil, maka bisa saja dia tidak ciuman, tetapi justu melakukan hal lain yang lebih berisiko pada kehamilan yang tidak diinginkan. Kan ciumannya yang dilarang, benar kan?

Oleh karenanya memberikan informasi mengenai seksualitas, sebaiknya tidak setengah-setengah, apalagi menggantinya dengan mitos. Dengan mengajarkan seksualitas, maka seseorang merasa kebutuhan/pertanyaan diri berkaitan dengan tubuhnya dapat terakomodir, dari sini kepercayaan seseorang terbangun dan terjadilah dialog yang tidak satu arah. Berbeda dengan mengajarkan  melalui mitos-mitos yang terkesan menakutkan dan banyak larangan, seseorang merasa tidak ada ruang dialog.

Dulu, kita pernah mendengar mitos keseringan masturbasi bisa membuat mandul, informasi yang sampai hanya sebatas itu, kita tidak pernah tahu “apa iya bisa menyebabkan mandul, kok bisa?” Nah, kita bisa mendapatkan informasi yang komprehensif kalau belajar seksualitas, seperti kalau keseringan masturbasi kualitas sperma akan menurun, dan hal tersebut akan memengaruhi tingkat kesuburan. Sesederhana itu lho pemirsah!

Lagi-lagi bayangkan jika seseorang menelan mentah-mentah mitos tersebut lalu ada laki-laki yang percaya dirinya mandul karena sering masturbasi. Kemudian dia berhubungan seksual dengan seorang perempuan, selanjutnya perempuan tersebut hamil. Bukannya dia malah bertanya-tanya, “Kok bisa hamil, kan harusnya mandul?” atau karena dia percaya bahwa dirinya mandul kemudian dia tidak mau menikah dengan siapapun karena ada ketakutan tidak bisa memberikan keturunan. Kedua itu adalah dampak yang mungkin terjadi apabila kita percaya pada mitos tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya tentang keseringan masturbasi.

Nah Tabumania, seksualitas sebenarnya juga tidak luput dari mitos. Berkembangnya mitos belajar seksualitas artinya mengajarkan hubungan seksual pada anak sejak dini itu juga keliru. Mitos ini dialami sebagian orangtua saat menemani anak remajanya memasuki masa pubertas, apalagi bila anaknya perempuan. Orangtua cenderung menakut-nakuti daripada mendiskusikan permasalahan seksualitas pada anak. Komunikasi yang dilakukan hanya satu arah, yaitu orangtua kepada anak. Akhirnya, orangtua bisa menjadi posesif terhadap aktivitas dan pergaulan karena sangat khawatir anaknya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Padahal, banyak sekali manfaat baik yang bisa kita ambil dengan belajar seksualitas, seperti cara mengenal dan mencintai tubuh sendiri, tidak malu bertanya tentang apa yang terjadi pada tubuhnya dengan orang yang dipercaya, dan yang paling penting membangun kepercayaan antara satu dan yang lainnya. Dalam hal ini bisa saja orangtua ke anak, dan sebaliknya.

Memang perlu peran dari berbagai pihak seperti orangtua, lingkungan tempat tinggal dan sekolah untuk mengajarkan seksualitas yang disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. Dan sebagai generasi yang sebagian sudah terpapar informasi mengenai seksualitas, tentu kita memiliki kewajiban membantu memberikan pemahaman mengenai hal tersebut. Bisa kok dimulai dari lingkungan terdekat di rumah. Jika kamu punya kemenakan, adik, atau saudara yang lain, mulai tuh bisa bangun ruang dialog tentang seksualitas sejak dini. Tetapi jangan lupa untuk untuk turut mengimbangi pengetahuan dari si orangtua tersebut ya, jangan sampai kamu dikira mengajarkan hal yang sesat hehehe.

Tabumania, itulah kira-kira alasan kenapa kita tidak lagi percaya pada mitos, dan lebih mengenalkan manfaat baik dari belajar seksualitas sejak dini. Tabumania, ada kisah apa nih yang mau dibagikan?

 

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Remaja dan Mitos: Ciuman, Menstruasi, Masturbasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: