Buka Perspektif

Belajar dari Kawan Interseks

Saat membaca atau mendengar istilah interseks, apa yang Tabumania pikirkan? Mungkin masih banyak yang belum mengetahui mengenai interseks atau pernah mendengar namun belum mengetahui secara terperinci. Meski begitu, sesungguhnya kehadiran kawan-kawan interseks tidaklah asing. Tabumania bisa mengingat kembali di tahun 2010 saat pemberitaan tentang interseks cukup memperoleh perhatian publik, yaitu kisah Alterina Hofan. Saat itu, Alterina Hofan sempat berurusan dengan pengadilan karena dianggap ‘memalsukan identitas kelaminnya’. Proses ini berujung pada Mahkamah Agung (MA) yang melegalkan identitas gender Alterina Hofan sebagai laki-laki.

Berdasarkan Lembar Fakta Interseks yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), interseks adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai variasi ketubuhan yang alamiah. Orang-orang interseks terlahir dengan karakteristik seks (termasuk organ kelamin, gonad/kelenjar seks atau kelenjar reproduksi, dan pola kromosom) yang tidak mengikuti tubuh jantan atau betina biner. Masih mengutip Lembar Fakta Interseks, menurut para ahli, setidaknya 0,5 persen hingga 1,7 persen populasi terlahir dengan ciri-ciri interseks.

Berbeda dengan orientasi seksual atau identitas gender, menjadi interseks berkaitan erat dengan karakteristik biologis. Seorang interseks bisa saja heteroseksual, lesbian, biseksual atau aseksual. Interseks bisa mengidentifikasi sebagai laki-laki, perempuan, keduanya atau tidak keduanya.

Anak-anak dan interseks dewasa kerap kali memperoleh stigma karena tubuh mereka dipandang berbeda. Mereka juga mengalami pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) ganda, termasuk pelanggaran hak atas kesehatan dan integritas fisiknya, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, dan hak atas kesetaraan serta non diskriminasi.

Interseks di Indonesia
Istilah interseks di Indonesia masih dianggap baru. Media di Indonesia banyak menggunakan istilah “kelamin ganda” saat memberitakan interseks. Tabumania bisa mencoba mengetikkan kata kunci “interseks” di situs pencarian Google, setidaknya ada 260.000 hasil dalam 0,95 detik. Namun, ketika Tabumania mengetikkan “kelamin ganda” akan muncul 3.420.000 berita dan artikel yang menganggap interseks sebagai peristiwa langka atau aneh. Istilah “kelamin ganda” yang dipakai media justru memberikan stigma bagi kawan-kawan interseks. Istilah tersebut bisa membuat kawan-kawan interseks memilih diam demi keselamatan dan menghindari penghakiman dari masyarakat.

Menurut Arki (bukan nama sebenarnya), seorang aktivis interseks Indonesia, masyarakat Indonesia yang umumnya religius sulit menerima fakta keberadaan manusia yang terlahir secara interseks karena meyakini gender hanya dua jenis saja, yakni laki-laki dan perempuan. “Padahal, interseks merupakan orang-orang yang terlahir secara biologis memiliki alat kelamin berbeda dari seks yang selama ini diketahui yaitu laki-laki dan perempuan yang biner. Interseks umumnya memiliki karakteristik yang ambigu dan tidak jarang sulit diidentifikasi di antara keduanya.” katanya.

Arki menyampaikan bahwa pembicaraan tentang interseks di Indonesia masih terlalu tabu, berbeda dengan India yang lebih terbuka akan budaya dan pengakuan tentang keberadaan manusia yang lahir sebagai interseks. Masih tabunya interseks di Indonesia mendorong keluarga atau seorang interseks memilih diam atau melakukan operasi untuk “menyempurnakan” tubuh agar tidak menghadapi masalah sosial. “Bahkan dalam sebuah pertemuan pasien Disorder of Sex Development DSD[1] di Jakarta beberapa tahun lalu, dokter-dokter juga menganjurkan, demi keselamatan dan menghindari penghakiman (judgement) masyarakat tentang anaknya yang ‘berubah’ atau ‘berbeda’, baiknya diam saja jika ada yang bertanya, atau tidak usah memperbincangkannya. Oleh karena itu, tidak jarang orang tua yang memiliki anak interseks menginginkan anaknya dioperasi dan di-fix-an sedini mungkin agar ketika dewasa tidak menghadapi masalah sosial akan ambiguitas kelaminnya.” urainya.

Arki menambahkan bahwa diam memang solusi praktis agar para individu interseks dan keluarganya aman dari gunjingan/gosip atau tuduhan apapun terhadap mereka. Diam juga dilakukan untuk bertahan dalam dunia pekerjaan. “Apalagi jika berada dalam masyarakat yang budayanya suka ikut campur atau menghakimi kehidupan orang lain, tentu diam adalah solusi praktis. Bahkan, ada juga yang mengubah identitas gender karena baru mengetahui dirinya seorang interseks, kemudian memutuskan pindah ke kota lain untuk memulai hidup baru dengan tetangga dan kenalan baru serta menggunakan identitas barunya.” katanya.

Forum Interseks Asia
Tabumania, pada 8 hingga 11 Februari 2018 terselenggara Forum Interseks Asia Pertama di Bangkok, Thailand didukung Intersex Human Rights Fund. Forum ini mengumpulkan 14 orang interseks yang mewakili organisasi dan komunitas interseks dari Hongkong (Cina), India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Menurut Arki, awal mula forum tersebut adalah grup Facebook yang dibuat beberapa tahun sebelumnya oleh seorang interseks asal Taiwan, Hiker Chiu. Dalam grup tersebut, tergabung beberapa aktivis maupun non-aktivis dari berbagai negara. Selanjutnya, terbentuklah forum sebagai ruang untuk saling bertemu dengan rekan aktivis lainnya di Asia. “Yang diundang tidak hanya aktivis, tetapi juga individu interseks yang juga kenalan aktivis lainnya. Sehingga bisa berkumpul, berbagi, dan mendengar berbagai suara dari individu interseks lainnya.” katanya.

Lebih lanjut, Arki menuturkan bahwa forum ini penting agar masing-masing anggota forum bisa saling berkomunikasi, belajar secara langsung dan menceritakan pengalaman di negara masing-masing. Proses tersebut akhirnya bisa membuat anggota forum bisa saling belajar cara yang dilakukan para aktivis dalam advokasi mereka. Anggota forum juga mengetahui kisah-kisah para aktivis ketika mengubah identitas secara legal, hambatan yang dihadapi serta cara-cara advokasi agar dapat mengubah atau membuat kebijakan di pemerintahan agar hak asasi para interseks di negara masing-masing dapat terpenuhi.

Arki menjelaskan hal-hal yang dilakukan maupun didiskusikan dalam forum tersebut bermula dari berbagai permasalahan mendasar individu interseks. Ada interseks yang ingin mengubah nama dan identitas gender mereka pada akte kelahiran. Ada juga praktik pemotongan organ kelamin pada kawan interseks, dikenal dengan Intersex Genital Mutilation (IGM), oleh para dokter yang mengoperasi para bayi interseks. “Untuk menghentikan praktik IGM, tentu butuh pembuatan undang-undang yang melarang praktik tersebut. Karena sejatinya individu interseks yang memiliki hak untuk menentukan apakah ingin melakukan operasi atau tidak ketika dia dewasa dan untuk dapat mengambil keputusan. Tindakan operasi bayi interseks yang disetujui orang tuanya belum tentu disetujui individu interseks tersebut ketika dewasa.” tegasnya.

Dalam penuturan Arki, forum tersebut kemudian melahirkan sebuah organisasi regional, yakni Interseks Asia. Dalam penyataan media, Interseks Asia menyerukan tujuan organisasi ini, yakni untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi orang-orang interseks di Asia, menjadi suara dan mewakili orang-orang dan komunitas interseks Asia serta memastikan hak atas kehidupan, integritas ketubuhan, otonomi fisik serta penentuan nasib sendiri bagi orang-orang interseks. “Harapannya akan dapat membantu aktivis-aktivis interseks di Asia, baik dari segi pelatihan, kerjasama, dan penghubung dengan para donor.” tambahnya.

Arki mengatakan sejauh ini Interseks Asia ikut turun dalam rapat pembentukan undang-undang mengenai interseks di negara bagian Tamil Nadu, India. Selain itu, Interseks Asia ikut menandatangani berbagai pernyataan tentang hak asasi interseks dari lembaga internasional lainnya.

Nah Tabumania, demikian kabar singkat dari kawan-kawan Interseks Asia. Ini sebuah awal dari perjuangan membangun kesadaran tentang isu interseks maupun pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi yang dialami komunitas-komunitas dan individu interseks. Yuk, kita dukung perjuangan mereka!

 

*[1]DSD dalam pemberitaan media massa menyebutnya dengan istilah gangguan perkembangan seks (AntaraNews).
DSD disebut juga sebagai organ kelamin yang ambigu(ambiguous genitalia), yaitu
suatu kelainan perkembangan seksual sehingga kelamin bayi menjadi tidak jelas; laki-laki atau perempuan
(www.alodokter.com/ambiguous-genitalia).

 

Asisten Editor Qbukatabu. Penulis lepas yang belakangan mempelajari puisi, senang bercengkerama dengan kopi, masih belajar mengenal diri sendiri, bisa dihubungi melalui surel diankp.qbukatabu@protonmail.com

0 comments on “Belajar dari Kawan Interseks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: