Buka Perspektif

Terapi Konversi: Kebencian Bertopeng Penyembuhan

Pada Februari 2016, saat istilah LGBT sangat kuat menjadi komoditas politik, Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) mengeluarkan pernyataan bahwa homoseksual dan biseksual termasuk dalam kategori orang dengan masalah kejiwaan (ODMK), sementara transeksual merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Pernyataan dari PP PDSKJI bertentangan dengan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang diterbitkan Kementerian Kesehatan tahun 1993. Dalam PPDGJ III tersebut, khususnya kode F66, disebutkan dengan terang bahwa orientasi seksual, yakni heteroseksualitas, homoseksualitas dan biseksualitas jangan dianggap sebagai suatu gangguan kejiwaan.

Perkembangan tentang pengkategorisasian penyakit ditunjukkan melalui dikeluarkannya International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD) terbaru oleh Badan Kesehatan Dunia pada 18 Juni 2018. Di ICD-11, secara jelas di sebutkan bahwa “ketidaksesuaian gender” dikeluarkan sebagai gangguan jiwa dan menjadi sebuah kondisi kesehatan seksual. Artinya, transgender yang mencari akses kesehatan, khususnya untuk penanganan hormon dan operasi, tidak lagi mengalami berbagai diskriminasi dan hambatan sosial, ekonomi dan finansial dari penyedia layanan kesehatan.

Dengan demikian, upaya merubah orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi gender berbahaya bagi kesehatan mental karena seseorang dipaksa untuk menjadi individu yang bukan dirinya. Semakin kuat pemaksaan tersebut dilakukan, maka semakin menunjukkan kuatnya rasa kebencian terhadap orang-orang dengan seksualitas yang beragam.

Upaya merubah orientasi seksual, identitas gender maupun ekspresi gender seseorang dikenal sebagai terapi konversi atau terapi reparatif. Terapi konversi menjadi sebuah cara untuk menyebarkan politik kebencian atas nama penyembuhan. Ini merupakan praktek Eropa di akhir abad 18 dan awal abad 19. Eugen Steinach, seorang endokrinologis (dokter ahli untuk sistem hormon) Austria, menyatakan bahwa homoseksualitas bersumber dari organ testis laki-laki. Alhasil, tahun 1920an terjadi transplantasi organ dimana testis laki-laki gay dikebiri dan diganti dengan ‘testis heteroseksual’.

Menariknya, meskipun Sigmund Freud, seorang psikoanalis, menyatakan bahwa terapi konversi tersebut dimungkinkan, namun terapi ini ternyata tidak dapat menggantikan kecenderungan homoseksualitas seseorang. Upaya konversi ini ditunjukkan melalui 1,000 jam pertemuan klinis Freud dengan anak perempuannya, Anna Freud.

Anna memiliki kedekatan emosional dengan teman perempuannya. Sepanjang periode analisis konversi, Anna mampu mengakhiri fantasi dan imajinasi dengan teman perempuannya. Namun, setelah periode analisis konversi berakhir, Anna bertemu seorang perempuan bernama Dorothy Burlingham dan hidup bersama selama 54 tahun. Ternyata, terapi konversi tidak bisa merubah apapun.

Lalu, bagaimana terapi konversi menguat di Indonesia, terutama paska politik kebencian terhadap LGBT terus digemakan? Salah kaprah apa yang selama ini terus dihidupkan untuk membenarkan tindakan tersebut? Bentuk-bentuk terapi apa yang muncul dan siapa yang melakukannya? Lebih penting lagi, dampak apa yang dihadapi oleh individu dan komunitas dengan orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi yang beragam? Di edisi bulan Oktober, yuk kita kupas secara mendalam mengenai ini!

About Edith

Yulia Dwi Andriyanti, biasa dipanggil Edith. Salah satu penggagas Qbukatabu dan berperan sebagai Editor in Chief. Memiliki minat yang besar di topik feminisme, queer, gerakan sosial, keimanan, memori dan emosi kolektif, sosiologi, filsafat dan hak asasi manusia. Pecinta serial Fruitbasket, Little Prince, suka menyanyi, nonton film dan pertunjukan, bisa sedikit main gitar dan ukulele. Ingin terus menulis, termasuk di blog sendiri: queerinlife.blogspot.com

0 comments on “Terapi Konversi: Kebencian Bertopeng Penyembuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: