Buka Akses Buka Cerita

Menelusuri Rumah

Tabumania, pernahkah berpikir bahwa rumah bisa menjadi tempat yang sangat dihindari? Hal ini bisa terjadi karena ada berbagai ketidaknyamanan, seperti kenangan-kenangan buruk, perselisihan dengan orang terdekat, serta berbagai komentar yang membuat risih tentang penampilan kita. Bagaimana Tabumania mengatasi berbagai perasaan tersebut?

Banyak orang yang akan setuju jika rumah digambarkan sebagai tempat aman, nyaman dan dirindukan ketika seseorang berada jauh darinya. Kerinduan tentang rumah terkadang bukan hanya karena suasana yang hangat bersama keluarga, seperti bercengkrama, berbagi cerita dan makan bersama. Namun, kerinduan tersebut juga tentang sebuah tempat dimana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri.

Pada kenyataannya, tidak semua rumah memiliki suasana seperti yang tergambar diatas. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi tempat dimana kekerasan terjadi, baik secara fisik, psikis dan seksual. Kekerasan dalam rumah bersumber dari adanya dominasi dari satu pihak terhadap pihak lain. Dominasi ini menimbulkan segala perlakuan yang didasarkan pada keinginan untuk menguasai pihak yang lain, bukan untuk membangun pengertian dan kesalingpemahaman. Perlakuan yang mendominasi ini cenderung menutup berbagai kesempatan untuk terbuka terhadap sikap dan cara pandang yang berbeda, menganggap diri sendiri lebih layak atau pantas dihargai dibandingkan orang lain.

Sebagai konsekuensinya, penyelesaian terhadap masalah pun ditempuh dengan cara yang bertujuan untuk merendahkan, baik melalui sikap, tindakan fisik maupun kata-kata. Ini membuat kekerasan sebagai metode penyelesaian masalah didalam rumah menjadi hal yang wajar. Mungkin Tabumania sudah tidak asing dengan metode penghukuman dengan cara-cara kekerasan yang terkadang dibiasakan sejak kecil dalam rangka mendisiplinkan. Misalnya, ketika anak melakukan perbuatan yang dipandang sebagai kesalahan oleh orang dewasa, ia dimarahi, dipukul, bahkan dikurung agar sang anak menyesali dan tidak mengulangi kembali perbuatannya. Akhirnya, yang muncul adalah rasa takut, sedih, rendah diri, bahkan menyalahkan diri sendiri.

Parahnya, penyebab terjadinya kekerasan ini juga dilanggengkan oleh budaya patriarki yang berkembang dalam sistem sosial. Pembedaan perlakuan berdasarkan gender dan peran sosial yang ditetapkan masyarakat diadopsi dalam keluarga. Hal ini membuat posisi perempuan dan transgender semakin rentan mendapatkan kekerasan di dalam rumah. Dalam kasus teman-teman transgender, ekspresi gender seringkali menjadi pemicu kekerasan. Misalnya, pemaksaan menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan kenyamanan. Karena gender yang ditetapkan sedari lahir adalah perempuan, maka trans laki-laki dipaksa untuk mengenakan rok. Sementara, ketika ia nyaman mengenakan celana panjang dan kaos besar, ia dimarahi dan disuruh untuk kembali mengenakan pakaian yang dianggap pantas dikenakan perempuan. Anggapan bahwa menjadi transgender telah melawan kodrat, harus diubah dan pantas dihukum pun menjadi pembenaran untuk melakukan kekerasan. Hal yang serupa juga dialami oleh teman-teman perempuan yang memiliki ketertarikan dengan gender yang sama. Perasaan tersebut dianggap sebagai hal yang tidak normal sehingga harus disembuhkan. Akhirnya, berbagai upaya penyembuhan pun dilakukan oleh orang-orang di rumah terhadap perempuan dan transgender, seperti paksaan untuk menjalani terapi konversi (dengan dibawa ke tokoh agama atau psikiater) hingga paksaan untuk menikah.

Berbagai pengalaman kekerasan tersebut membuat perempuan dan transgender ketakutan, hilang percaya diri, dan merasa tidak layak menjadi bagian dari keluarga sehingga pada akhirnya memilih untuk meninggalkan rumah. Tak hanya berdampak secara psikis, tak jarang mereka pun akhirnya putus sekolah yang kemudian berpengaruh pada lemahnya keadaan ekonomi saat mereka meninggalkan rumah. Selain itu, mereka juga putus hubungan dengan orang-orang yang ada dirumah. Artinya, tidak saling mengetahui kabar satu sama lain, tidak mengetahui perubahan-perubahan situasi yang ada dirumah, tidak dilibatkan lagi dalam pengambilan keputusan dirumah dan segala hal yang berhubungan dengan rumah.

Rasa sedih dan terasing bagi perempuan dan transgender tak membuat mereka tidak rindu dengan rumah, meskipun mereka memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan orang-orang terdekat yang telah menyakiti mereka. Saat rindu rumah, tidak berarti tidak bisa pulang ke rumah. Selama ini, Tabumania sudah dibiasakan berpikir bahwa rumah pastilah tempat dimana keluarga kita tinggal; tempat dimana ayah, ibu, dan saudara-saudara sedarah kita tinggal. Namun, makna rumah pada dasarnya tidak sesederhana itu. Rumah adalah kenyamanan yang kita temukan. Jika Tabumania menemukan tempat dimana kamu bisa tertawa lepas hingga sakit perut, berekspresi sesuai dengan kenyamananmu, membicarakan hal sepele yang bisa berujung tangis hingga menertawakan tragisnya hidup – meskipun hal tersebut tidak dirasakan pada ayah, ibu atau saudara sedarah – itu juga adalah rumah.

Tabumania, rumah tak terbatas pada tempat tinggal dan hubungan darah. Kamu bisa membangun artimu sendiri tentang rumah. Rumah dapat berarti membangun keterikatan dengan orang-orang terpercaya dengan kasih sayang sebagai landasannya. Kasih sayang yang dimaksud disini adalah rasa saling menghormati pilihan masing-masing, bisa bebas mengungkapkan pikiran, perasaan, hingga berkeluh kesah, saling menjaga satu sama lain, memberi perhatian dan saling merawat. Ada berbagai cara yang bisa Tabumania lakukan, misalnya:

  1. Bergabung dengan keluarga teman-teman yang menerima Tabumania, tak peduli apapun identitas gender dan orientasi seksualmu
  2. Berkomunitas atau berkumpul dengan orang-orang yang menghormati pilihan Tabumania, memberikan perhatian dan bisa menjadi tempat berkeluh kesah, menjadikanmu tidak lagi merasa sendirian.
  3. Merawat binatang atau tanaman. Keterikatan ternyata tak hanya ada pada manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya. Dengan merawat mereka, Tabumania sedang membangun keluargamu sendiri

Rumah selayaknya menjadikan Tabumania sehat secara fisik, psikis serta memberikan kebahagiaan. Pulang kerumah tidak selalu harus ketempat dimana orang tua dan saudara sedarah tinggal. Tabumania bisa menciptakan rumah sendiri bersama dengan orang-orang maupun makhluk hidup lain yang menghormati dan menyayangimu. (RR)

Semoga artikel ini berguna bagi Tabumania. Jika ingin bercerita lebih lanjut, Tabumania bisa menghubungi Buka Layanan Qbukatabu di nomor whatsapp +6285314364084, email: bukalayanan@protonmail.com atau pesan pribadi via facebook Qbukatabu setiap Senin-Jumat pukul 10.00 s/d 17.00 WIB.

“Buka Layanan Qbukatabu, menyimpan ceritamu menjadi rahasia kita berdua”

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Menelusuri Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: