Buka Cerita Buka Ruang

Mengurai Pertanyaan “Kapan Nikah?” saat Liburan dan Mudik Lebaran

Tabumania, bagi para perantau, libur panjang merupakan momen paling dinanti. Masa rehat dari rutinitas adalah kesempatan untuk kembali sejenak ke kampung halaman. Tak jarang, sebagian dari mereka yang mencari peruntungan di kota-kota besar, sudah menandai kalendernya ketika libur akan tiba. Pulang merupakan bentuk pertemuan kembali dengan keluarga. Baik mereka yang jauh dari keluarga dengan tujuan kuliah atau bekerja, sejenak kembali ke kampung halaman adalah ajang untuk mempererat kembali ikatan batin dengan orang-orang terdekat. Tidak hanya itu, serangkaian agenda kerap direncanakan seperti piknik ke suatu tempat, hingga reuni dengan teman-teman sekolah. Terbayang bukan betapa bahagianya momen pulang kampung?

Seperti Tabumania ketahui, tanggal 15 Juni 2018 merupakan perayaan Idul Fitri. Momen berlebaran kerap menjadi meriah karena ditandai dengan tradisi mudik. Umumnya, para perantau meninggalkan kota-kota besar untuk merayakan Idul Fitri dengan keluarga dan sanak saudara di kampung. Keceriaan ini semakin lengkap karena ditopang oleh Tunjangan Hari Raya hingga bonus pendapatan lainnya bagi mereka yang bekerja di instansi tertentu. Tak heran, agenda pulang kampung terjadi begitu masif, meskipun harus ditempuh dengan bus yang berdesakan atau kendaraan roda dua.

Namun Tabumania, benarkah demikian adanya? Apakah momen kembali ke kampung tidak menyisakan problem yang kerap dialami individu? Melalui tulisan ini, kita akan berbagi kegundahan hati para perantau, khususnya bagi perempuan dan trans* yang selama ini mempunyai kisah seru sekaligus miris ketika kembali ke kampung halaman. Problem yang seringkali ditemui oleh perempuan dan trans saat kembali berkumpul dengan keluarga, diantaranya pertanyaan seputar pasangan dan pernikahan. Qbukatabu sajikan beberapa temuan yang dirangkum dari curah pendapat beberapa perempuan dan trans* yang selama ini tinggal di Jakarta.

LW, Perempuan, 28 tahun. “Menjelang kepala 3,keluarga udah sampai nggak tahu harus gimana lagi ngomongnya ke aku untuk minta aku segera nikah. Alasannya, kasihan nanti sistem reproduksinya susah buat hamil dan ngelahirin. Ya, aku sih sebenarnya paham kenapa keluarga nanyain itu karena mereka kan juga dapat tekanan dari tetangga. Dulu tuh kalau ditanyain itu suka keganggu, sekarang karena udah biasa, jadi ya cukup dengerin aja.”

RI, Perempuan, 35 tahun. “Gue di usia sekarang masih juga ditanyain sama Mama kapan nikah, sebenarnya gue kayak pengen teriak tapi ‘kan nggak mungkin karena gue juga mikir kesehatan Mama. Dia jadi sering nyalahin diri sendiri karena gue nggak dapat-dapat jodoh. Gue sih bisanya kasih pengertian ke Mama dan nunjukin apapun pilihan hidup gue, gue tetap bisa bahagia dan mandiri.”

TK, Perempuan, 31 tahun. “Masih sering ditanya sih kapan nikah soalnya kan anak tunggal, jadi orangtua mikirnya buat nerusin keluarga. Tapi ya gimana, jodoh juga belum ada. Jadi ya jalani aja sih, pelan-pelan orangtua juga pasti akan ngerti, asal pendekatan yang kita pakai bukan pendekatan yang frontal.”

VN, Trans*, 27 tahun. “Aduh, kalau lebaran itu menakutkan! Soalnya semua keluarga kan kumpul, jadi pertanyaan semacam itu pasti ditanyain. Risih banget sih tiap ketemu itu mulu yang ditanyain. Solusinya ya kita pintar-pintar jawab aja, jangan dengerin semua omongan orang, nanti jadi stres sendiri.”

AG, Trans*, 27 tahun. “Kalau ditanya kapan kawin udah biasa, udah nggak mempan, emang mereka mau nyumbang banyak? Sampai nanyain terus! Cuek aja, toh kita hidup sendiri. Kalau buat trans*, masalah utamanya yaitu sampai harus ubah penampilan sementara, nggak bisa jadi diri sendiri kayak biasanya di Jakarta. Tapi, ya itu risiko kalau kita belum sepenuhnya diterima di keluarga, makanya kadang teman-teman trans* itu kalau ketemu orangtuanya nggak barengan saat lebaran, biar orangtua juga nggak pusing.”

Selain pertanyaan seputar pasangan, terdapat pula sejumlah anggapan yang dikemukakan oleh keluarga bagi trans* yang jauh dari kampung halamannya. Kisah lain dari pengalaman penulis ketika berinteraksi dengan para transpuan, banyak dari mereka yang memilih untuk pulang kampung 2 hingga 3 tahun sekali karena anggapan bahwa bekerja di kota besar akan menuai kesuksesan. Tak jarang, keluarga di kampung meminta mereka untuk mengajak anggota keluarga atau saudara lainnya ikut bekerja. Anggapan itulah yang membuat beberapa teman-teman trans* enggan untuk menginjakkan kaki ke kampung halamannya dan lebih memilih untuk mengirimkan biaya kebutuhan bagi keluarga.

Tabumania, lalu mengapa pertanyaan tersebut terus muncul ya? Apa akar permasalahannya?

Soal Relasi Kuasa: Menikah = Dewasa, Mandiri dan Bahagia

Tabumania, sejumlah pertanyaan di atas mencerminkan persoalan mendasar yang mayoritas dialami perempuan dan trans*. Pertanyaan tersebut muncul karena adanya relasi kuasa dalam kultur masyarakat yang meletakkan posisi sosial seseorang yang sudah menikah lebih tinggi dibandingkan yang belum atau tidak menikah. Ia dianggap mandiri dan dewasa saat sudah menikah. Jika ini dialami oleh perempuan, ia akan mendapat tekanan lebih besar lagi karena ia dianggap memiliki tanggungjawab untuk melahirkan dan merawat anak yang akan menjadi penerus keluarga. Sementara itu, bagi trans*, ia akan diperlakukan sesuai dengan peran sosial yang dilekatkan dengan jenis kelaminnya. Jika terlahir bervagina, maka ia akan dituntut sama seperti bagaimana perempuan harus berperan di masyarakat. Penghayatan dirinya hilang; tak diakui, tak dikenali.

Karena keluarga adalah bagian dari masyarakat, maka pola relasi kuasa ini pun bekerja. Seringkali orangtua merasa mempunyai peran untuk membuat dan menentukan mana pilihan yang dianggap baik untuk anggota keluarganya tanpa terlebih dahulu meminta pendapat yang bersangkutan. Hal ini tak terkecuali dengan pola pikir orangtua yang harus menyelesaikan tugasnya untuk menikahkan anaknya agar anaknya mendapatkan pasangan. Sementara itu, seseorang yang memutuskan mandiri tanpa ikatan pernikahan di Indonesia masih dianggap tabu. Bahkan, tak jarang perempuan atau seseorang yang tetap memilih jalan tersebut dianggap terlalu kebarat-baratan. Pola relasi kuasa inilah yang seharusnya tidak dilanggengkan karena berpotensi menimbulkan diskriminasi.

Tak sekedar menyelesaikan tanggungjawab, pihak keluarga yang meminta anaknya untuk segera menikah atau memiliki keturunan, juga takut apabila sang anak dianggap aneh, diasingkan secara sosial, mendapat cibiran atau label negatif oleh lingkungan sekitar. Terlebih, pernikahan kerap dipercaya sebagai sebuah puncak dari kebahagiaan dan kemandirian dengan melaksanakan tanggungjawab dalam membangun rumah tangga, tentunya yang sesuai dengan harapan masyarakat. Pada akhirnya, karena harus memenuhi tuntutan demi mendapatkan pengakuan, sang anak meninggalkan cita-citanya dan justru memenuhi cita-cita orang lain agar mendapatkan posisi sosialyang diharapkan tersebut.

Tidak Selalu Menakutkan

Cerita mengenai pertemuan dengan keluarga besar saat libur lebaran kadang tidak selalu penuh drama kok. Ada pula orangtua yang berusaha memahami anaknya – apakah ia menyukai gender yang sama atau berbeda – dengan mencari jalan tengah bagi keduanya. Salah satu teman trans* inisial ST, 39 tahun dan berdomisili di Jakarta, mendapat perlakuan hangat ketika ia pulang berlebaran di rumah orangtuanya di Tangerang. Memang secara verbal belum ada penerimaan dari keluarga akan pilihan hidup ST. Namun, baik ST dan orangtuanya cenderung tidak membahas dan memutuskan untuk menghormati pilihan masing-masing sehingga interaksi ketika bertemu dapat berjalan dengan baik. Gambaran tersebut memang menjadi impian banyak teman-teman. Terbayang bukan bagaimana serunya liburan, tertawa dan saling curhat setelah sekian lama tak jumpa?

Tabumania, masing-masing dari kita memang mempunyai kisah hidup yang tak sama dalam berinteraksi dengan keluarga. Namun, kita juga harus belajar untuk membuka segala ruang diskusi dan dialog bila ternyata ditemukan ketidakpahaman satu sama lain. Berbeda pemahaman bukan berarti hubungan keluarga jadi putus kan? Jangan terburu-buru merasa bahwa keluarga tidak mencintai Tabumania. Dalam situasi tersebut, baik keluarga dan Tabumania sama-sama berproses untuk mengurai pola relasi kuasa yang sudah tertanam kuat.

Seperti yang disampaikan oleh beberapa perempuan dan trans* di atas, memberi pengertian terus menerus bahwa Tabumania memiliki pilihan hidup sendiri atau mencoba mendengarkan kegelisahan terdalam orangtua bisa Tabumania lakukan juga. Kita adalah bagian dari keluarga. Setiap individu dalam keluarga pasti punya karakter, minat, pengalaman hidup yang juga berbeda-beda. Jadi, Tabumania tidak perlu takut untuk terus membangun ruang diskusi dan dialog diantara anggota keluarga.

Nah, Tabumania, semoga tulisan ini dapat menemani sekaligus memotivasi selama libur lebaran! Semoga tahun ini tidak ada lagi kaleng Khong Guan yang berisi rengginang ya. Apa cerita menarik Tabumania selama di kampung? (IS)

0 comments on “Mengurai Pertanyaan “Kapan Nikah?” saat Liburan dan Mudik Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: