Buka Akses

Perjalanan Menemukan Diri Sendiri

Mungkin Tabumania tidak menyadari betapa kamu sangat berharga, dinanti dan dicintai semua orang. Sejak hari pertama kamu menunjukkan tanda-tanda kehadiranmu, ada banyak orang yang mengucap syukur dan merasa bahagia karena kelahiran adalah sesuatu yang membawa sukacita. Menanti kelahiran bahkan dirayakan dengan mengadakan syukuran 4 bulanan, 7 bulanan dan berbagai pengajian atau prosesi doa-doa menjelang kelahiran.

Setelah lahir, hal pertama yang dilabelkan kepada Tabumania adalah tentang apa jenis kelaminmu, melalui bentuk dan ukuran dari organ reproduksimu. Sejak hari itu, mulailah kamu dilekatkan dengan berbagai hal yang menurut orang-orang wajar. Ketika Tabumania memiliki vagina, maka kamu disebut perempuan. Setelah itu, mulailah kamu diberikan semua peralatan, pakaian dan mainan yang dianggap merupakan mainan untuk perempuan. Tidak hanya itu, Tabumania juga diharapkan memiliki ekspresi feminim, menjadi pribadi yang lembut, mampu melakukan pekerjaan domestik dengan baik serta menikah dengan seorang laki-laki.

Sebaliknya, ketika Tabumania memiliki penis, maka kamu disebut laki-laki. Sejak hari itu, segala sesuatu yang diberikan adalah hal-hal yang dianggap maskulin. Tabumania diberikan mainan yang bisa melatih untuk menjadi laki-laki yang kuat dan pakaian yang membuatmu terlihat “macho”. Tidak berakhir disitu, harapan untuk menjadi tulang punggung keluarga, pribadi yang bertanggung jawab juga dilekatkan kepadamu, termasuk agar kamu menyukai dan menikahi seorang perempuan.

Suatu hari, Tabumania merasa bahwa diri yang selama ini disebut perempuan atau laki-laki oleh teman, keluarga ataupun masyarakat luas, ternyata bukanlah diri Tabumania yang sebenarnya. Misalnya, ketika kamu yang disebut perempuan menyadari bahwa ternyata kamu tidak jatuh cinta kepada laki-laki seperti yang diharapkan kebanyakan orang, melainkan jatuh cinta kepada seorang perempuan;atau kamu yang selama ini disebut perempuan, ternyata merasa diri adalah seorang laki-laki. Saat Tabumania menyadari hal ini, semua orang kemudian menganggap bahwa kamu tidak normal dan telah melakukan sebuah kesalahan. Namun, apakah ketika kita tidak sama dengan kebanyakan orang berarti bahwa kita melakukan kesalahan atau tidak normal?

Mari kita kembali lagi ke hari saat kamu dilahirkan. Pada hari tersebut, orang lain lah yang memberi sebutan laki-laki atau perempuan dan memberikan pakaian warna biru atau pink, rok atau celana. Beranjak remaja, orang lain juga yang menentukan peran, termasuk kepada siapa Tabumania harus merasa tertarik. Semua itu dilakukan tanpa bertanya kepadamu. Pakaian yang dikenakan, mainan yang dibelikan, peran yang dilekatkan hingga perasaan yang diharuskan adalah bentukan orang-orang disekitarmu, yang tidak berdasarkan pada keinginan dan pencarianmu sebagai individu. Dengan demikian, banyak diantara Tabumania yangbaru menyadari situasi-situasi ini ketika sudah dewasa; dan ini sama sekali hal yang sangat wajar. Mau tau kenapa?

  1. Ketika kecil, Tabumania diajarkan berbagai hal, seperti cara makan, berjalan, berlari dan buang air besar/kecil. Kamu juga diajari untuk menyebutkan kata, mengenal nama tumbuhan, hewan dan mengenal orang-orang disekitarmu. Namun, seringkali Tabumania tidak diajarkan cara mengenali diri. Nah, mengenali diri yang dimaksud disini adalah cara mengidentifikasi dirimu sesuai kenyamananmu. Sedari kecil, orang tua seharusnya membiarkan anaknya menentukan apa yang ingin dipakai, disukai dan dilakukannya; bukan memberikan label-label tertentu. Misalnya: perempuan identik dengan mengurus rumah dan memasak atau laki-laki berarti memiliki penis.
  2. Ketika kecil, Tabumania tidak mempunyai cukup informasi tentang gender dan bentuk-bentuk ketertarikan secara fisik atau emosional. Mayoritas orang tua tidak menjelaskan gender selain laki-laki dan perempuan serta ketertarikan yang ada hanyalah dengan berlawanan jenis. Hal ini bisa jadi karena ketidaktahuan atau ketakutan jika menjelaskan informasi tersebut, maka akan membuatmu menjadi “menyimpang”. Disisi lain, Tabumania yang hanya mendapat informasi dari orang tua, tidak punya pilihan selain menjalani apa yang di berikan, dilekatkan dan diharuskan, walaupun tidak sesuai dengan diri. Hal ini dilakukan agar tak ada yang menghakimi dengan sebutan“tidak normal”.

Oleh karena itu, wajar saja jika Tabumania baru menemukan diri ketika sudah beranjak dewasa, yakni mampu mencari informasi secara mandiri dan mampu berpikir kritis terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar Tabumania.

Saat Tabumania sudah mengenal diri, dengan berbagai proses penemuan diri yang berbeda-beda, ternyata sebutan normal dan tidak normal tetap ada di masyarakat. Ingat, menjadi berbeda bukanlah suatu kesalahan, tapi hal yang pasti terjadi. Meskipun orang lain menyebutmu tidak normal, hanya Tabumania yang paling tau tentang diri sendiri.

Namun, tidak dapat dihindari jika orang-orang terdekat Tabumania bisa saja jadi orang yang paling dulu menyebutmu sebagai tidak normal atau salah. Apa yang harus dilakukan? Berikut beberapa tips bagi Tabumania:

  1. Cari tahu apa alasan dari ketidaksukaan mereka. Jenis Informasi dan cara menyampaikan informasi bisa ikut membentuk bagaimana seseorang berpikir atau merasa terhadap sesuatu. Artinya, informasi yang cukup harus dibarengi dengan cara menyampaikan yang baik dan dapat dipahami.
  2. Hargailah proses yang dialami setiap orang. Cara pandang tidak dapat dirubah dalam sekejap
  3. Bertindaklah cerdas dengan tak mendahulukan emosi dan membalas ucapan atau tindakan kekerasan dengan kekerasan juga. Jika mereka melakukan kekerasan pada Tabumania, laporkan pada orang yang kamu percaya dan tempuh jalur hukum jika memang dibutuhkan.

Semoga tips-tips yang Qbukatabu berikan dapat berguna bagi Tabumania. Jika ingin bercerita lebih lanjut, Tabumania bisa menghubungi Bukalayanan Qbukatabu di nomor whatsapp +6285314364084, email : bukalayanan@protonmail.comatau pesan pribadi via facebook Qbukatabu di setiap Senin-Jumat pukul 10.00 s/d 17.00 WIB.

“Bukalayanan Qbukatabu, menyimpan ceritamu menjadi rahasia kita berdua”

 

(Penulis : RR)

0 comments on “Perjalanan Menemukan Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: