Buka Akses

Rasa Takut: Sadari dan Atasi

Tabumania, setiap orang pasti pernah merasa takut. Ketika kita khawatir terhadap peristiwa yang akan terjadi atau tiba-tiba mengalami peristiwa yang kita tidak duga, rasa tersebut muncul. Sebenarnya, apa rasa takut itu dan apa yang harus dilakukan saat kita mengalaminya?

Pada dasarnya, rasa takut adalah suatu hal yang manusiawi dan wajar ada pada setiap individu sehingga penting disadari bahwa rasa takut bukanlah rasa yang tidak normal maupun tanda kelemahan. Dalam ilmu psikologi, rasa takut adalah salah satu dari empat emosi manusia, selain marah, sedih dan senang. Rasa takut merupakan emosi tidak menyenangkan yang mengganggu secara kognitif (pikiran), afektif (perasaan) dan motorik (daya gerak) saat individu berada pada situasi yang berbahaya atau mengancam dirinya. Hal ini kemudian dapat membuat individu kehilangan fokus, sulit untuk berpikir karena merasa tidak nyaman dan lelah, bahkan dalam level tertentu membuat badan kejang-kejang hingga pingsan.

Rasa takut diproduksi oleh otak kita. Saat panca indera kita menerima informasi (stimulus), ia mula-mula dikirimkan ke thalamus, bagian dari otak yang terletak di tengah dan bertugas sebagai penyampai stimulus ke bagian otak lain dimana stimulus tersebut akan diproses lebih lanjut. Kemudian, stimulus diteruskan ke amygdala, bagian otak yang berperan menyimpan ingatan, emosi, serta insting bertahan hidup. Di amygdala inilah, stimulus dikenali sebagai sesuatu yang mengancam atau membahayakan berdasarkan ingatan yang tersimpan tentang apa itu ancaman atau bahaya. Lalu, amygdala akan melepaskan senyawa glutamat yang yang berperan untuk merespon rasa takut dan memicu gerak refleks lainnya.

Refleks yang biasanya muncul saat kita takut adalah kulit pucat dan dingin, berkeringat, pupil mata membesar serta mulut menjadi kering. Hal ini terjadi karena periaqueductal gray, yakni bagian otak yang juga terhubung dalam jaringan otak yang mengkoordinasi insting bertahan hidup, mengontrol dua respons dasar saat kita takut: melawan atau berlari. Hal ini terjadi karena dalam situasi yang dianggap mengancam atau berbahaya, hormon-hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan yang membuat kita secara fisik dapat melawan atau lari saat menghadapi bahaya tersebut.

Meskipun rasa takut merupakan bagian dari insting manusia untuk merespon situasi yang membahayakan, namun rasa takut juga dipelajari dan diajarkan. Kita belajar untuk takut terhadap orang-orang, tempat atau situasi tertentu karena hal-hal tersebut diasosiasikan secara negatif atau karena pengalaman di masa lalu. Misalnya, ketika pernah punya pengalaman tenggelam, maka Tabumania akan merasa takut saat mendekat ke air. Selain itu, rasa takut juga diajarkan oleh nilai-nilai yang dikembangkan dimasyarakat. Misalnya, rasa takut untuk berteman dengan seseorang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda karena takut tertular orientasi seksualnya. Padahal, ketertarikan terhadap seseorang itu bersifat sangat personal dan jika seseorang tidak pernah memberitahukannya, maka tidak bisa diterka atau dilihat secara kasat mata. Namun, karena informasi yang tidak lengkap tentang seksualitas, maka orang merasa takut saat memiliki teman yang berbeda orientasi seksualnya. Oleh karena itu, penting bagi kita menyadari kenapa rasa takut bisa muncul.

Setelah menyadari rasa takut, bagaimana kita dapat mengatasinya? Ada beberapa teknik yang bisa Tabumania praktekkan sehari-sehari untuk membantu agar kita dapat merasa lebih nyaman dan sehingga dapat kembali fokus. Tabumania bisa mencoba beberapa teknik berikut ini :

1. Relaksasi nafas
Bernapas adalah aktivitas yang berjalan otomatis dan seringkali tidak kita sadari. Dalam proses relaksasi nafas, kita dilatih untuk bernafas secara sadar. Dengan menyadari napas, kita – dan otak kita – diajak untuk menjadi lebih rileks sehingga pikiran kita dapat lebih tenang. Hal ini karena pikiran kita dilatih untuk fokus pada napas, dibandingkan dengan hal-hal yang membuat kita takut. Caranya: tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, rasakan aliran nafas masuk melalui hidung ke tenggorokan, lalu hembuskan nafas dan rasakan aliran udara lewat diatas bibir kita. Lakukan secara terus menerus.

2. Teknik genggam jari
Jari-jari kita sesungguhnya terhubung dengan berbagai sistem organ tubuh yang berkaitan dengan emosi. Jari telunjuk adalah jari yang terhubung dengan rasa takut dan panik. Dengan menggenggam jari tersebut saat merasa takut, akan membantu kita untuk lebih tenang dan fokus sehingga kita bisa merespon dengan tepat terhadap situasi yang sedang dihadapi. Caranya: genggam jari telunjuk dengan tangan yang berlawan selama dua hingga lima menit, ambil nafas dalam-dalam saat kamu menggenggam jari, lalu sugestikan rasa takutmu sedang mengalir ke bumi.

Jangan ragu untuk mengungkapkan rasa takut dan meminta bantuan. Bagikan rasa takutmu kapada orang lain untuk meringankan perasaanmu. Tabumania juga bisa berbagi tentang rasa takut yang dialami ke Buka Layanan melklui mengirimkan email ke bukalayanan@protonmail.com atau ke pesan pribadi di facebook Qbukatabu setiap hari Selasa dan Jumat pukul 09.00 hingga 17.00. Ingat selalu, Buka Layanan menyimpan ceritamu sebagai rahasia kita berdua. (RR)

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Rasa Takut: Sadari dan Atasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: