Buka Cerita Buka Perspektif

Kartini: Mendobrak Femininitas dan Maskulinitas Jawa Ningrat

Sanggul tergelung, kebaya tersemat. Setidaknya dua hal tersebut yang seringkali  dihubungkan dengan perayaan Hari Kartini di setiap tanggal 21 April. Pada tanggal tersebut, berbagai perlombaan digelar. Dengan mengangkat aspek yang berhubungan dengan kecantikan, berbagai aktivitas seperti peragaan busana, baju adat, hingga tari daerah umumnya terselenggara di sekolah-sekolah. Semua demi melestarikan ingatan tentang Kartini; simbol perempuan nusantara yang ingin merenggut kembali kebebasan di zamannya.

Berbagai parade busana diadakan di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal. Perayaan Hari Kartini umumnya diikuti oleh anak-anak perempuan dimana berbagai simbol feminin yang dianggap baik dan patut dimiliki perempuan diperkenalkan dan diteguhkan. Sifat lemah lembut, kemayu, dan bergaya lenggak-lenggok menjadi hal utama. Tak sekedar itu, berbagai perusahaan pun berlomba untuk menyediakan diskon di hari besar ini. Mulai dari potongan harga baju khusus bagi perempuan hingga pembelian minuman beli satu gratis satu di sebuah kedai kopi. Tidak ada yang keliru dengan parade busana maupun promosi di hari Kartini. Namun, apakah dengan melakukan hal-hal tersebut kita dapat betul-betul memahami nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini?

Cara paling baik menyelami pemikiran Kartini adalah melalui buah hasil karya tulisan tangannya. Ide Kartini tergambar dalam surat-surat kepada teman-temannya di Belanda berjudul Door Duisternis Tot Lichtatau Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterbitkan oleh Mr. J.H Abendanon pada 1911. Gagasan Kartini sangatlah kaya, mulai dari kesetaraan, harapan akan modernitas, refleksi terhadap agama, hingga kebebasan yang berdasarkan kehendak diri.

Meskipun surat-surat Kartini terdokumentasikan sejak tahun 1899-1904 dalam bahasa Belanda, Kartini menggunakan berbagai bahasa dalam interaksi kesehariannya. Saat bertemu warga Eropa, ia gunakan Bahasa Belanda, bertatap dengan pribumi digunakanlah Bahasa Melayu, sedang percakapan sehari-hari di rumah adalah Bahasa Jawa.  Tulisan Kartini mengalir jernih, tidak tendensius ingin memberontak meski ia sadar berada di bawah kolonialisme.

Kekuatan nilai pada surat-surat Kartini terletak pada kemampuan Kartini untuk merefleksikan sesuatu yang berada di luar kebiasaan yang terbangun di adat Jawa, di lingkungan kesehariannya. Kartini muda memiliki tekad kuat untuk berjuang seumur hidup dibandingkan tak bisa menggapai kebebasan, yang ia definisikan sebagai keistimewaan bangsa Eropa kala itu. Pendidikan merupakan hal yang utama untuk mengupayakan kebebasan tersebut. Sementara itu, pernikahan adalah tembok besar bagi kebebasan yang diperjuangkannya. Meski akhirnya memilih untuk menikah, tetapi Kartini menyadari akan pentingnya hubungan yang memanusiakan dan setara dalam setiap pernikahan. Hal ini terbukti dalam suratnya kepada Stella pada 6 November 1899. Ia dengan tegas menyampaikan bahwa menghargai pasangan menjadi syarat untuk mencintai. Bahkan, Kartini menolak poligami dengan menyatakannya sebagai sebuah dosa meskipun dalam hukum Islam dianggap sebagai sesuatu yang sah.

Perlawanan Kartini terhadap simbol femininitas merupakan upayanya untuk juga melawan adat sopan-santun yang diwariskan budaya Jawa. Meskipun ia adalah seorang anak bangsawan, Kartini seringkali dijuluki “kuda kore” atau kuda liar. Ia melawan adat-istiadat Jawa yang mewajibkan perempuan untuk duduk manis, jalan pelan sekali dengan gerakan lambat mirip siput, hingga harus duduk dengan posisi lebih rendah sambil menundukkan kepala kepada orang yang lebih tua. Kartini lebih suka melompat-lompat, tertawa terbahak-bahak dan bersuara dengan lantang. Ia ingin terbebas dari jerat-jerat budaya ningrat Jawa yang diteguhkan lewat sifat-sifat femininitas yang diidentikkan dengan perempuan, dengan melakukan hal yang sebaliknya.

Tak hanya tentang femininitas, Kartini pun mempertanyakan ulang tentang makna maskulinitas yang juga dipegang teguh oleh adat ningrat Jawa. Dalam suratnya tertanggal 18 Agustus 1899 yang ditujukan pada Nona E.H. Zeehandeelar, Kartini menjelaskan tentang kata bangsawan. Baginya, hanya ada dua macam kebangsawanan, yakni bangsawan budi dan bangsawan akal. Dalam hal ini, Kartini sedang meniadakan pengertian bangsawan yang saat itu diwakili oleh laki-laki gagah, rupawan, kaya, bergelar dan bermartabat. Ia bahkan menyatakan bahwa orang-orang yang membanggakan apa yang disebut keturunan bangsawan tak lebih dari orang gila dan bodoh. Dalam hal ini, Kartini tak hanya meniadakan simbol bangsawan yang erat dikaitkan dengan maskulinitas, namun berpikir melampaui hal tersebut.

Sosok Kartini yang dirayakan secara rutin di setiap tanggal 21 April ternyata sama sekali jauh dari nilai-nilai femininitas ala bangsawan ningrat Jawa. Kartini justru mempertanyakan dan membongkar satu demi satu budaya yang mengarahkan dan menuntutnya sebagai perempuan Jawa. Pada saat yang sama, Kartini juga mendobrak ide bangsawan yang lekat dengan nilai maskulin Jawa. Kartini berani mempertanyakan, berani merefleksikan hal-hal yang dianggap sudah terlalu membiasa, terlalu membudaya. Hal ini termasuk juga ide tentang femininitas dan maskulinitas Jawa yang memingit perempuan dari kebebasan berpikir dan cita-cita untuk jadi bagian tak terpisah dalam membangun cinta dan semangat untuk tanah air dan bangsanya. Sikap berani Kartini, seperti dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelar, sepatutnya jadi pengingat bagi kita dalam merayakan sosoknya: “Yang tidak berani, tidak bakal menang! Itulah semboyanku! Maju terus! Menerjang tanpa gentar dan dengan berani menangani semuanya. Orang-orang yang berani menguasai tiga perempat dunia”.

About Finrub

Merupakan kepanjangan dari Fini Rubianti. Selain menyenangi studi Gender dan HAM, ia tengah berpikir bagaimana cara melestarikan lenong perempuan untuk identitas betawi pinggiran sepertinya. Pegiat diskusi emperan dan penyuka film horor. Merasa beruntung (lebih tepatnya narsis) diberi nama Fini, karena pada kata (F)em(ini)sme terkandung namanya. Kontak di finirubianti@gmail.com.

0 comments on “Kartini: Mendobrak Femininitas dan Maskulinitas Jawa Ningrat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: