Buka Cerita

Un Soir du Paris, Tak Ada yang Salah dengan Cinta

Tabumania, mengenal adalah sebuah proses yang menyenangkan. Lewat mengenal, seseorang mendapat kisah, berupaya memahaminya, lalu memantulkannya ke dalam refleksi personal. Melalui saling-silang dalam perkenalan, kita akan diajak untuk mendaki perjalanan yang sama sekali baru, jauh dari kesan mendikte. Hanya dengan mengenal, kita akan mendapat kesimpulan berdasarkan pengalaman personal secara langsung, bukan berupa ‘kabar burung’ atau mengikuti alur berpikir ‘katanya’.

Kali ini, perkenalan itu datang dari sebuah kumpulan cerpen berjudul Un Soir du Paris (Satu Petang di Paris). Terbit tahun 2010, ia menyajikan duabelas cerita yang manis sekaligus lirih mengenai kehidupan lesbian. Melalui berbagai cerita ini, Tabumania akan mendapat kesan personal yang jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media maupun keriuhan argumen moralis yang kerap mempolarisasi. Satu petang di Paris ini disajikan bersamaan dengan satu senja muram dan semakin gelap di Indonesia, saat kehidupan lesbian jauh dari kata aman.

Oka Rusmini, penulis yang mengantari terbitnya cerpen ini lewat sejumlah pertanyaan reflektif: “Kenapa perempuan bisa jatuh cinta pada perempuan? Kenapa Tuhan menciptakan perempuan yang jatuh cinta juga cinta pada perempuan? Kenapa ada orang-orang yang begitu membenci perempuan-perempuan yang mencintai perempuan? Benarkah Tuhan marah pada perempuan yang bergairah pada perempuan? Kalau manusia bisa berbuat salah, mungkinkah Tuhan juga bisa berbuat salah? Kenapa manusia yang mencintai sesama jenis kelamin tidak dapat tempat? Cukupkah beragam upacara yang dililitkan pada tubuh perempuan-perempuan itu bisa mengantar mereka pulang dan “kembali ke jalan yang benar” menjadi manusia hetero? Manusia yang benar, “tidak salah jalan” dan “tersesat”. Kalimat tersebut kiranya merupakan pencarian tiada akhir selama pikiran kita masih memandang lesbian sebagai sesuatu yang asing, bukan hal yang dekat dengan kita, layaknya sahabat, saudara atau keluarga sendiri.

Agar lika-liku kehidupan lesbian terasa lebih dekat dan berdaya-juang (tidak melulu perihal kesedihan), pernah tersedia laman www.sepocikopi.com yang rilis Agustus 2007. Situs ini –mengutip Oka – adalah “rumah lesbian” yang menyajikan berbagai cerita perempuan atau individu yang tertarik pada perempuan. Duabelas cerpen yang dimuat dalam Un Soir du Paris merupakan kurasi ratusan cerpen dalam situs tersebut. Sayangnya, situs sepocikopi kini sudah tidak aktif lagi, entah karena alasan apa. Namun, testimoni positif dapat kita temui ketika mengetikkan kata “Sepocikopi” di mesin pencari internet. Misalnya, dari sebuah blog dengan alamat sujeneng.livejournal.com, menyatakan bahwa jalinan kisah lesbian yang diangkat dalam Sepocikopi tidaklah berbeda dengan pasangan heteroseksual pada umumnya.

Cerita-cerita tersebut menginspirasi sang blogger bahwa cinta yang disampaikan merupakan perjuangan yang ditempuh kebanyakan orang; dicintai atau dikhianati, bersama atau berpisah. Lesbian hanyalah cara untuk mencintai seseorang sama seperti insan heteroseksual umumnya. Sementara, tujuan dalam mengarungi hidup tetaplah sama; untuk menjadi manusia bahagia, menghargai sesama dan memanusiakan manusia sebanyak mungkin. Lesbian tidak pernah berkeinginan menghancurkan heteroseksual, sebagaimana ditulis dengan lugas dalam situs Sepocikopi: “Jagalah hidup itu baik-baik dan gunakan kehadiran lesbian di dunia ini untuk kebaikan umat manusia. Jadilah terang bagi kaum heteroseksual dan homoseksual.” Indah bukan?

Dari duabelas cerita, akan diulas empat cerita yang juga dimuat di media arus utama, yakni: “Lelaki yang Menetas di Tubuhku”, Jawa Pos (2006); “Menulis Langit”, The Jakarta Post (2008); “Saga”, Jurnal Perempuan (2008); dan “Un Soir du Paris” Media Indonesia (2007). Hingga saat ini, dapur redaksi cerita pendek masih tetap menjadi ruang yang aman untuk memuat tema seputar keragaman seksualitas.

Dalam Un Soir du Paris, beberapa di antaranya akan kita temukan kisah yang mengalun getir, sembunyi-sembunyi, namun pasti dan menuju satu identitas yang tak bisa dipungkiri. Tokoh-tokoh yang dihadirkan tidak menegasi diri mereka. Ucu Agustin, dengan kisah “Lelaki yang Menetas di Tubuhku” menghadirkan tokoh aku sebagai gadis kecil usia delapan tahun dengan gaun putih berbalut pita merah di tali pinggang, jenis pakaian yang dilekatkan pada siapa saja yang berkelamin vagina sedari lahir ke dunia. Tokoh aku terus menerus mempertanyakan eksistensinya sebagai perempuan, meski secara fisik wajahnya halus, kulitnya putih, dadanya busung, pinggangnya kecil dan memiliki senyum simpul yang cantik. Definisi perempuan yang dianggap sempurna. Sejumlah pertanyaan tentang diri terus berkelindan di kepalanya. Di usia dua puluh lima, ia berjumpa dengan Devina. Sosok yang tak asing baginya, karena sudah ia kenal saat belia pada pesta ulang tahun.

Kepahitan kisah Davina yang janinnya disusupi laki-laki tak bertanggung jawab menjadi awal keberanian tokoh aku mengutarakan kasih pada perempuan yang murung itu. Di akhir kisah, aku memilih untuk jujur pada dirinya, meski kenyataan ini selalu dilawan oleh orang terdekatnya. Aku kemudian memilih “memasuki sebuah pintu yang ia lewati dengan gamang, tapi akhirnya dijalani dengan kepastian”. Aku memilih berdamai dengan dirinya karena diri ialah kehidupan itu sendiri. Aku memilih untuk mengaktifkan kembali pendengarannya serta memulihkan kembali penglihatannya. Dalam kisah ini, Ucu Agustin menyampaikan muatan sosial yang menohok bahwa “ketahuilah sayang, jika pria bisa hamil, aborsi akan menjadi sakramen.” Kalimat yang sangat ‘bertenaga’ untuk menentang patriarki dan stigma sepihak pada perempuan heteroseksual yang hamil, terutama di luar pernikahan yang disahkan hukum maupun agama.

Kemudian, cerita “Menulis Langit” karya Abmi Handayani. Kisah ini adalah jalinan antara perempuan yang mencintai di luar laki-laki, di luar makhluk. Ketertarikan ini juga terinspirasi dari sang guru perempuan yang mengajarinya menulis sedari kecil. Bentuk-bentuk seperti langit, bulan, matahari hingga bintang dipilihnya untuk menceritakan sebuah cinta yang luas dan luwes, menggapai fantasi-fantasi baru yang selama ini tidak ditemui dalam jalinan cinta antar manusia. Melukis langit ialah sebentuk metafor, bahwa seorang anak bernama Dayu, sejak kecil pandai menulis, bertaruh bahwa kelak ia bisa menulis langit, mempersembahkan puisi-puisinya yang indah pada semesta.

‘Percakapan’ Dayu dengan matahari tidak selalu terjalin puitis. Pernah satu waktu, ia bercanda dengan menuliskan ‘welcome to the spectacular world of homosexuality!’ (selamat datang pada dunia homoseksual yang spektakuler!). Keriaan yang ia berikan ini disambut matahari dengan ‘wajah yang menekuk’ dan kesal, respon yang umumnya diterima oleh mereka yang asing dengan kata homoseksualitas. Di akhir, kisah cinta metafor ditutup secara menggantung. Abmi mengakhirinya dengan “kalian reka-reka saja sendiri lanjutannya. Bebas, sesuka hati kalian. Dan jangan lupa beritahu langit. Ia menunggu.” Menulis langit menghamparkan kisahnya seraya memberitahu bahwa dalam hidup tidak pernah ada kata final. Karena tidak ada yang final, maka amat baik jika kita tidak saling tuduh atas pilihan hidup orang lain.

Saga, yang secara harfiah artinya berseri, merupakan kisah bergenre realis yang ditulis oleh Shantined. Cerita ini memberikan bentuk yang tidak asing bagi lesbian, di mana banyak mereka yang tunduk pada konstruksi sosial, lalu menikah secara heteroseksual agar dianggap ‘normal’ di masyarakat. Ialah tentang aku yang menikah dengan Erald. Syahdan, Erald rupanya duda perlente berpenampilan menarik, berperawakan tegap yang meminang aku, setelah orangtua aku mendapati dia tengah bercinta dengan Lorena di waktu silam. Agar ‘kembali ke jalan yang benar’, aku menerima pinangan Erald dan berupaya menghapus jejak indahnya dengan Lorena. Mudah diduga memang, pasangan ini tidak pernah menuai bahagia. Hubungan suami istri hanya terjalin dengan datar, terlebih tokoh aku tidak dikarunia anak, kontras dengan Erald yang memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya. Tokoh aku tak lebih dari sekedar ‘properti seks’ bagi Erald. Ia tidak pernah merasa ‘ada’ bahkan ketika Erald menjamahinya sebagaimana kebutuhan biologis yang lumrah.

“Kami lalu cair dalam dekapan semu yang selama bertahun-tahun ini kami lakukan. Seperti raungan serigala yang mendambakan bulan purnama, kami menuntaskan hasrat yang sebenarnya buatku tak lebih dari upacara sang serigala itu sendiri,” begitu salah satu potongan kalimat demi kalimat yang menggambarkan duka lara tokoh aku selama berumah tangga dengan Erald. Dengan rapat, kebahagiaan milik aku ia temui dalam sosok Aini, perempuan manis yang ia temui di sebuah kafe pinggir laut. Ketertarikan aku dan Aini terjalin dalam untaian kasih sayang, yang disetujui sekaligus tidak disadari oleh Erald. Aku dan Aini menyimpan kisah mereka secara sembunyi-sembunyi, mencuri kesempatan dalam pertemuan-pertemuan yang tidak rahasia; misalnya saat orang tua Aini ke luar kota, mereka memindai janji untuk belajar masak bersama, dilanjutkan dengan bercinta. Romansa yang sempat dibuang oleh tokoh aku karena hubungan yang dianggap terlarang bersama Lorena, kini ia gapai lewat sosok Aini. Cerpen ini ditutup oleh semangat dan harapan. “Saga, dunia kisahku, kini kembara lagi akhirnya. Demi jiwaku yang luka.”

Un Soir du Paris, salah satu cerita sekaligus judul buku ini adalah kisah getir pasangan lesbian yang ditulis oleh Stefanny Irawan. Ketika membacanya, kita akan terhanyut akan cerita dua insan. Kisahnya mengalir bak Romeo dan Juliet yang terluka, atau Rose dan Jack yang akhirnya harus berpisah karena keadaan. Suatu Petang di Paris menyoal dua insan lesbian yang memilih terpisah karena tekanan keluarga. Tokoh aku dan Louisa larut dalam ciuman yang panjang dan dalam di bawah langit temaram kota Paris. Ciuman yang eksotis sekaligus lirih itu terjadi secara bertahap; awalnya saling pandang, hasrat yang mengendap-endap lalu memuncak dan berakhir dengan bibir bertaut.

Tokoh aku mengetahui bahwa yang barusan ia cium adalah Louisa, kekasih yang dulu, kenangan yang sudah terkubur dalam. Aku memilih untuk tidak memberitahu identitasnya, karena nama bukanlah hal yang penting jika toh akhirnya mereka akan tetap berpisah. “Satu perih lolos ke permukaan. Loui, Loui, kau telah lama lupa. Aku hanya bisa menutupinya dengan tertawa. Untuk sedetik, kusangka kau mengerti. Namun tidak. Kau melambaikan tanganmu, berbalik, dan melangkah dalam hujan,” tutup kisah ini.

Membaca empat kisah di atas dan delapan kisah lain dalam Un Soir du Paris mengantarkan kita pada beberapa pemahaman. Kisah perempuan penyuka perempuan tak lebih dari sekadar kisah cinta antar manusia. Cinta yang sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan merupakan lika-liku kehidupan yang terjadi pada insan manapun. Sebagaimana manusia lain, mereka adalah orang-orang yang terus bertumbuh dan melejitkan kreativitasnya. Kita dapat mengambil contoh, bagaimana tokoh aku dan Aini dalam cerita “Saga” larut dalam diskusi yang berkualitas mengenai buku dan puisi.

Dalam cerita Ucu pada “Lelaki yang Menetas di Tubuhku” ada sebuah pertanyaan yang secara terus-menerus diajukan; sebuah proses mengenali apa yang paling baik bagi tubuh dan kehidupannya. Tulisan Ucu juga seolah mengetengahkan sosok transgender yang mungkin muncul dalam diri siapapun. Nasib bagi individu yang memilih untuk mencintai gender yang sama juga tergambar jelas dalam cerita tersebut. “Un Soir du Paris” dan “Saga” adalah sebentuk potret kekerasan pada perempuan lesbian, mulai dari pengusiran hingga perkosaan, di mana orangtua atau suami adalah pelakunya.

Tabumania, Un Soir du Paris adalah kumpulan cerita yang asyik untuk memperkenalkan sekaligus membuat terang pandangan kita tentang kisah-kasih lesbian. Tidak hanya itu, empat cerita yang diulas juga turut memberi gambaran bagi kita mengenai situasi muram relasi gender non-biner yang masih sangat rentan menerima stigma, diskriminasi hingga kekerasan. Sebuah petang di Paris, semoga mampu membuat petang yang indah di bumi manapun tempat kita berpijak.

Apa kisah menarik lain tentang ragam seksualitas yang dapat Tabumania bagikan?

 

About Finrub

Merupakan kepanjangan dari Fini Rubianti. Selain menyenangi studi Gender dan HAM, ia tengah berpikir bagaimana cara melestarikan lenong perempuan untuk identitas betawi pinggiran sepertinya. Pegiat diskusi emperan dan penyuka film horor. Merasa beruntung (lebih tepatnya narsis) diberi nama Fini, karena pada kata (F)em(ini)sme terkandung namanya. Kontak di finirubianti@gmail.com.

0 comments on “Un Soir du Paris, Tak Ada yang Salah dengan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: