Buka Cerita

Bale Perempuan Bekasi : Membangun Rumah Perempuan Korban Kekerasan dari Pinggiran Jakarta

Bagi Tabumania yang tinggal di Jakarta, apa yang terlintas saat mendengar kata Bekasi? Awwe, komika asal Bekasi, sendiri bilang Bekasi itu identik dengan tempat pembuangan sampah bantar gebang, macet, jaraknya yang jauh minta ampun sampai bisa berhari-hari kalau dari Jakarta, tapi punya nama-nama tempat yang mirip-mirip sama Jakarta, mulai dari bundaran HI (Harapan Indah), PI (Pondok Ijo), sampai Kemang Pratama.

Meskipun luas Kota Bekasi hanya 210 km2, luas Kabupaten Bekasi itu 1.480 km2 alias dua kali lebih luas dari DKI Jakarta! Tapi, wilayah DKI Jakarta masih jadi magnet kegiatan ekonomi dan sosial bagi orang-orang yang tinggal diluar DKI Jakarta, termasuk Bekasi. Terbukti dari angka para komuter, orang-orang yang pulang pergi keluar kota atau kabupaten secara rutin untuk sekolah atau bekerja, yang sangat tinggi. Dari 3,6 juta komuter, hampir 40% merupakan komuter yang berasal dari wilayah Bodetabek (Survei Komuter se-Jabodetabek, 2014).

Menyadari Bekasi jadi wilayah ‘pinggiran’ terhadap sentral magnet Jakarta, tim Qbukatabu ingin tahu lebih banyak tentang kaitan antara situasi ini dengan persoalan ketimpangan gender, khususnya kekerasan terhadap perempuan di Bekasi. Kami sangat senang bisa bertemu dan berbincang langsung dengan Nisha, salah satu pendiri Bale Perempuan, lembaga layanan berbasis komunitas untuk penanganan bagi perempuan korban kekerasan.

Didirikan 19 Juni 2016, Bale Perempuan berawal dari kegelisahan lima orang perempuan yang aktif sebagai relawan di Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) maupun badan pekerja di Komnas Perempuan, yakni Iin Indriani, Dahlia Madanih, Nong Choirunnisa, Asmaul Khusnaeny dan Ummi Habsyah. Mereka semua memiliki latarbelakang yang beragam, seperti pengacara, ibu rumah tangga, akademisi dan konselor. Sebagai orang Bekasi yang bekerja di Jakarta dan berpengalaman dalam menghadapi perempuan korban kekerasan, mereka mendapati tidak adanya layanan bagi perempuan korban di Bekasi. “Kita kerja di Jakarta, belajar disitu, tapi pas kita balik ke daerah sendiri, sedih gitu, ternyata Bekasi nggak ada layanan yang spesifik perempuan. Jadi kita sering kesulitan setiap merujuk (kasus). Akhirnya kita bikin Bale Perempuan. Bale itu artinya rumah.” jelas Nisha. Meski ada pusat layanan pemerintah Kota Bekasi, tapi masih minim pembekalan bagi para pendamping korban. Selain itu, layanan tersebut hanya berlaku untuk warga kota Bekasi sehingga kasus yang berasal dari warga kabupaten Bekasi otomatis ditolak.

Pendampingan kasus menjadi hal prioritas dilakukan. Dalam satu tahun, Bale Perempuan telah menangani 40 kasus. Kebanyakan adalah kasus kekerasan terhadap istri (KTI) dan kekerasan dalam pacaran (KDP). Kasus KTI ada yang berlanjut ke proses hukum, sementara untuk KDP lebih sulit sehingga pendampingan psikologis yang jadi prioritas. “Yang masuk proses hukum adalah KTI, tapi korban lebih banyak memilih cerai dibanding mengurusi kekerasannya karena (ia) melaporkan orang terdekat ya. Kalau suami yang dilaporkan, emosinya sudah campur aduk, kalaupun dilaporkan dan suaminya keluar (dari tahanan), bisa jadi ngancem lagi, (melakukan) kekerasan lagi. Atau malu bagi anaknya karena bapaknya dipenjara. Jadi umumnya, pilihan korban adalah memutuskan bercerai.” tutur Nisha.

Para pendiri Bale Perempuan pun menerima pengaduan korban, baik melalui email maupun langsung bertemu dengan membuat janji serta melakukan pendampingan langsung. Saat bertemu, korban biasanya bertanya berbagai hal, mulai dari apakah tindakan yang dilakukan oleh suami dan pasangannya adalah kekerasan atau bukan, hingga langkah-langkah hukum yang dapat ditempuh terhadap kekerasan yang mereka alami. Keberpihakan pada korban dan pemahaman terhadap kondisi psikologis korban sebagai dampak dari siklus kekerasan jadi hal utama saat menghadapi korban. Meskipun kadang melelahkan dalam prosesnya, tapi mendampingi korban menjadi hal yang berkesan. “Mereka bisa kapan aja dapat kekerasan lagi, misal dipukul malam-malam. Kan aku juga punya keluarga, sementara mereka nggak punya teman, nggak berani cerita ke siapapun. Jadi aku biarin mereka tumpahkan cerita lewat whatsapp meski malam hari, dan aku bilang besok pagi dilanjutkan ya. Ada korban yang setelah sekian lama cerita, lalu bilang bahwa dia sudah berani memutuskan untuk berkata tidak (pada kekerasan yang dialami). Aku merasa senang banget mendengarnya karena aku bisa menemani dia berproses untuk mengatakan “aku berani”. Akhirnya, korban itu jadi teman, saudara, bagian dari keluarga.”

Menguatkan diri sendiri menjadi hal harus diperhatikan oleh pendamping korban dan hal ini berhubungan juga dengan membahagiakan diri sendiri. “Kita kuat (dulu) baru kita nguatin orang. Kalau kita lagi kelelahan, maka kasih jarak dulu atau buat kesepakatan dengan korban bahwa ada jam-jam tertentu yang kita nggak bisa respon. Kita harus bahagia, baru bisa bahagiain orang lain. Kita harus kuat, baru bisa nguatin orang lain.” jelas Nisha. Salah satu cara yang dilakukan adalah saat ada pertemuan wajib pengurus, yang dilakukan hari sabtu dan minggu, mereka membawa suami, pasangan dan anak-anak agar juga bisa saling berkumpul dan bermain bersama.

Sebagai sebuah kolektif, Nisha juga berbagi tentang tips bagaimana jika Tabumania ingin melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Bale Perempuan. Pertama, sebenarnya setiap orang pasti sudah pernah melakukan bantuan pertama psikologis, seperti mendengar cerita yang dihadapi oleh teman atau saudara. Kedua, saat ada seseorang yang bercerita tentang persoalannya, jangan menyalahkan dan menghakimi. Ketiga, karena melakukan pendampingan tidak bisa sendirian, maka daftar orang-orang yang punya semangat yang sama untuk menguatkan perempuan korban. Mulai dari teman-teman kita sendiri, selebritis sampai tokoh-tokoh yang berpengaruh. Keempat, komunikasikan dan kelola apa yang bisa mereka kontribusikan, bisa berupa keahlian, dana, jaringan pertemanan yang lebih luas, ruangan pertemuan atau tempat yang bisa dipakai sebagai rumah aman, dsb.

Saat ini, Bale Perempuan sudah memiliki rumah aman yang dapat diakses oleh perempuan korban. Rumah aman ini berfungsi menjaga keamanan perempuan korban yang tidak mungkin atau sulit didapatkannya dari keluarga atau masyarakat disekitarnya. Tak berhenti pada pendampingan kasus saja, Bale Perempuan punya cita-cita untuk memiliki binaan komunitas bagi para korban dimana mereka tak hanya mendapatkan keadilan hukum, pulih secara psikologis, namun juga bisa kuat secara ekonomi.

Jadi, mulai sekarang kalau Tabumania terlintas kata Bekasi, langsung ingat Bale Perempuan ya!

(ED)
________________________

Mau tahu lebih lagi info dan pengetahuan kece dari Qbukatabu?
Ikuti kita di Twitter | Facebook | Instagram
Cari akun kita, cukup dengan ketik : Qbukatabu
Temukan logo Qbukatabu
________________________

#KomunitasPenggerak #BalePerempuan #PengadaLayanan#PendampinganPsikologi #PendampinginganHukum #LayananBagiKorban#LayananUntukPerempuan #Qbukatabu #BekasiPunyaCerita

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Bale Perempuan Bekasi : Membangun Rumah Perempuan Korban Kekerasan dari Pinggiran Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: