Buka Cerita

IndoFemaleBeatbox: Para ‘Kartini Online’ yang Punya Tujuan

Apa tabumania masih ingat dengan lagu ‘Bebas’-nya Iwa K atau ‘Kujelang Hari’-nya Denada? Kedua lagu tersebut sangat populer di tahun 1990an dan kedua seniman yang memperkenalkan hiphop tersebut jadi ikon rapper di Indonesia. Hiphop sendiri lahir dari komunitas Afro-Amerika dan Latin-Amerika di 1970an saat politik rasialisme di Amerika Serikat masih sangat kuat. Jadi, wajar kalau lagu-lagu hiphop selalu dekat dengan lirik dan ritme seputar keluh kesah terhadap situasi sekitar dan gelora untuk melakukan perlawanan.

Hiphop ternyata tidak bisa dipisahkan dari beatbox. Beatbox merupakan seni perkusi yang menggunakan mulut, bibir, lidah dan suara seseorang untuk menggantikan instrumen musik listrik. Ketukan B-T-K, menjadi hal dasar bagi tabumania yang ingin belajar beatbox. Berkembang di Indonesia tahun 2008, beatbox tak hanya menjadi seni kontemporer tapi juga komunitas yang dikenal dengan nama Indobeatbox. Qbukatabu berkesempatan untuk ngobrol lebih banyak dengan Nisa, satu-satunya female beatbox asal Aceh yang terdorong untuk membentuk IndoFemaleBeatbox.

Tertarik dengan keunikan beatbox, yakni bermusik dari mulut, Nisa bergabung di Aceh beatbox community – komunitas beatbox yang khusus berada di Banda Aceh sejak tahun 2013 saat ia masih duduk di kelas dua SMK. Tak hanya itu, ia juga mengikuti perkembangan beatbox melalui kanal online di youtube, seperti swiss beatbox, beatbox battle tv, dan human beatbox.
Berbeda dengan Indobeatbox yang sudah berkembang lebih dulu, Indofemalebeatbox lahir pada 2 Februari 2016 oleh Nisa dan tiga female beatbox lainnya. “(Kita) ngelihat female beatbox semakin banyak dan (ingin) supaya mereka terdorong untuk beatbox sehingga setiap daerah jadi punya tujuan. kita ingin semangatin female-nya.” Meskipun sudah banyak kompetisi beatbox di Indonesia, namun belum ada yang khusus membuat kompetisi bagi female beatbox. Ini membuat para female beatbox sulit berkembang karena disetiap komunitas, apalagi untuk komunitas yang masih kecil, tidak ada yang khusus untuk perempuannya. Terbukti bahwa setidaknya di Aceh, Nisa masih menjadi satu-satunya female beatbox yang muncul. Sementara itu, jika diluar Aceh, ada beberapa female beatbox yang punya teman sesama female beatbox.

Masih minimnya female beatbox yang muncul sangat berkaitan dengan rasa tidak percaya diri atau tidak ada komunitas beatbox di lingkungan tempat tinggalnya. “Saingannya banyak. Mereka mikir orang lain keren dan mereka mana bisa kayak gitu. Minder. Bahkan Nisa pun, kadang masih demam panggung. Kalau mereka ga punya komunitas juga agak susah berkembang. Ngga ada support.” tutur Nisa. Untuk itu,
Indofemalebeatbox hadir untuk menyemangati para female beatbox dengan mendorong mereka membuat video sendiri di Instagram. “Mereka bikin video dan cantumin hastag. Kita cari hastagnya promosiin biar (mereka) semangat. Itulah alasan terbentuknya Indofemalebeatbox: buat semangatin female beatbox di Indonesia, mau dia komunitas, mau dia sendiri.”

Tak hanya berhenti di promosi video para female beatbox, Indofemalebeatbox juga membuat kompetisi online, yang dikenal dengan Kartini Challenge. Kompetisi ini berlangsung setiap tahunnya sejak 2016. Ide Kartini dipilih karena identik dengan perempuan yang tangguh agar para female beatbox pantang menyerah untuk menunjukkan kemampuannya ke masyarakat luas. Nisa berharap agar Indofemalebeatbox suatu saat bisa mengadakan kompetisi secara langsung yang dikhususkan bagi para female beatbox di seluruh Indonesia.

Para penggagas Indofemalebeatbox berasal dari berbagai tempat, seperti Aceh, Tangerang dan Makasar. Menariknya, mereka belum pernah bertemu satu sama lain secara langsung namun bersepakat untuk membuat komunitas online dan saling membagi peran dalam mengelola akun online. Mereka memaksimalkan sarana seperti whatsapp untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman serta mempersiapkan berbagai kegiatan online, termasuk mengadakan rapat. Hingga kini, Indofemalebeatbox sudah memiliki 7,800 follower dan semakin banyak female beatbox yang muncul, seperti dari Palembang, Bekasi, Bandung, Bengkulu, Padang, dan Bali. “Inilah beatbox, inilah hiphop. Kita terbuka, lebih mudah bergabung walaupun kita sama sekali belum pernah ketemu. Kalau beatbox itu rata-rata yang Nisa tahu; mereka ramah dan suka sharing.”

Bagi Nisa, beatbox itu harus ada tujuan. Tak hanya sekedar hobi, tapi juga sebagai sarana menunjukkan kemampuan sehingga penting untuk membagikan kemampuan tersebut ke banyak orang. Nisa menjadi female beatbox Indonesia pertama yang berhasil masuk dalam swissbeatbox; platform beatbox dunia yang menyediakan berbagai video seniman beatbox yang berkualitas tinggi dari berbagai negara. Setelahnya, diikuti oleh Minawening dari Kalimantan Utara. Nisa yakin female beatbox di Indonesia bisa meraih tujuannya. Selain latihan bareng dengan komunitas atau belajar online dari berbagai tutorial beatbox yang berhamburan di youtube, ikut serta dalam kompetisi akan semakin mengasah kemampuan. “Yang masih belum berani (ikut kompetisi), banyakin ikutan challenge meskipun di media sosial. Pasti bisa!”, ujarnya penuh semangat.

Penasaran sama penampilan Nisa, bisa dicek di tautan ini https://www.youtube.com/watch?v=01LzCHNtkZk

Penasaran sama Komunitas Indo Female Beatbox? Tabumania bisa intip IG mereka di @indofemalebeatbox

(ED)

#HariSumpahPemuda #IndoFemaleBeatbox #PerempuananMudaHebat#CeritaPerempuan #BeatboxIndonesia #Qbukatabu #YukBelajarSeksualitas

About Edith

Yulia Dwi Andriyanti, biasa dipanggil Edith. Salah satu penggagas Qbukatabu dan berperan sebagai Editor in Chief. Memiliki minat yang besar di topik feminisme, queer, gerakan sosial, keimanan, memori dan emosi kolektif, sosiologi, filsafat dan hak asasi manusia. Pecinta serial Fruitbasket, Little Prince, suka menyanyi, nonton film dan pertunjukan, bisa sedikit main gitar dan ukulele. Ingin terus menulis, termasuk di blog sendiri: queerinlife.blogspot.com

0 comments on “IndoFemaleBeatbox: Para ‘Kartini Online’ yang Punya Tujuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: