Tabumania, beberapa waktu lalu Qbukatabu menayangkan sebuah esai yang ditulis dengan apik oleh Ayun mengenai dampak penggunaan AI terhadap komunitas Queer. Di esai tersebut, Ayun menyoroti bagaimana “karya seni” yang dihasilkan oleh AI “…mengabaikan kenyataan bahwa bagi pekerja kreatif, karya seni merupakan hasil pengalaman hidup, trauma, relasi sosial, perjuangan politik, memori kolektif, dan ikatan komunitas.” Dalam konteks komunitas, ini tentu penting diperhatikan sebab seperti banyak kebudayaan lainnya, kebudayaan Queer juga sangat erat berkaitan dengan produksi kesenian.
Sebetulnya, perbincangan soal Artificial Intelligence atau kerap disebut Akal Imitasi (AI) di ranah industri seni ini pertama kali mencuat sejak sebuah mesin bernama Midjourney dirilis dan ramai diperbincangkan pada 2022. Mesin itu mendapat sorotan publik karena tugas utamanya yang “berbeda” dari AI pada umumnya: menciptakan sebuah gambar hanya dengan mengetikkan instruksi atau prompt. Lukisan dan rekayasa foto yang dihasilkannya tak kalah dengan karya dari para seniman grafis ternama. Antusiasme lantas berubah menjadi euforia.
Minat pengguna media sosial meningkat sangat tajam terhadap mesin ini dengan adanya tren-tren mengubah foto tangkapan kamera menjadi ilustrasi bergaya cat minyak, cat air, atau bahkan menjadikannya video secara instan. Jika Tabumania ingat, di tahun itu kita masih berkutat dengan PPKM akibat pandemi Covid-19. Durasi bermain-main di dunia maya pada masa itu jauh melebihi frekuensi seumur hidup masing-masing dari kita yang bahkan sudah berkenalan dengan media sosial di awal kelahirannya.
Orang awam menganggap keberadaan teknologi baru itu sebagai sesuatu yang seru, patut dicoba. Tidak banyak yang menyadari bahwa Midjourney bekerja dengan cara “meniru” jutaan ilustrasi dan lukisan asli yang dibuat oleh para seniman dari berbagai zaman untuk melatih “otaknya”. Ia mengambil data-data dari internet—foto dari media, lukisan digital di platform karya seni, bahkan juga gambar-gambar dari media sosial. Begitu kita memasukkan instruksi (prompt) seperti “ubah foto saya menjadi lukisan dengan gaya Seniman A”, ia akan mengakses data terkait kata kunci itu, lalu memprosesnya menjadi “karya”. Bukan sebagai referensi, tapi sebagai materi mentah.
Yang menjadi pertanyaan, apakah Seniman A memberi izin mesin itu untuk memakai ciri khas karyanya sebagai acuan utama dan menghasilkan produk gambar baru? Ayun sempat membahas ini dalam esainya, dan inilah salah satu penyebab munculnya diskursus tentang regulasi penggunaan AI dalam bidang kesenian.
Masih di tahun yang sama, sebuah kasus yang baru pertama kali muncul di dunia seni mencuat: Jason M. Allen, seorang desainer gim dari Pueblo West memenangkan Colorado State Fair Fine Arts Competition dengan mengajukan karya yang dihasilkan dari Midjourney. Kategori yang dipakainya adalah “seni digital/rekayasa foto digital”. Peristiwa itu menimbulkan kemarahan dan perdebatan panjang di kalangan pelaku industri seni. Para seniman mempertanyakan keabsahan “karya seni” yang dihasilkan dari sebuah mesin yang mengakses jutaan data tanpa persetujuan seniman aslinya untuk membuat karya baru—sehingga bisa disebut plagiarisme. Sementara itu, para programmer yang turut andil dalam penciptaan teknologi AI menekankan kemajuan zaman yang ditunjukkan dengan teknologi, termasuk dalam bidang seni, dan AI hanyalah sebagai “alat” untuk manusia berkarya.
Hingga 2026, kontroversi tentang AI masih juga bergulir dengan sudut pandang berbeda-beda. Argumen yang sering ditemui dalam perdebatan ini adalah “AI merebut pekerjaan manusia”, “etika penggunaan AI dalam seni”, “regulasi yang mengatur penggunaan AI”, hingga “manusia kolot menolak pembaruan”, tergantung pada bidang apa penggunaan AI diterapkan. Saat ini, penelitian akan teknologi AI masih terus berlanjut dan memberi kita pandangan-pandangan baru. Yang paling menarik adalah bagaimana AI rupanya berpotensi menimbulkan bencana ekologis, selain juga menumpulkan kecerdasan otak manusia itu sendiri.
Language Learning Model (LLM) dan Generative AI
Midjourney, seperti juga rekan AI seangkatannya—ChatGPT, termasuk dalam kategori Generative AI (GenAI), yaitu sistem Akal Imitasi yang dapat berproses menghasilkan (generate) sebuah karya berupa teks, gambar, video, audio, dan bahkan kode pemrograman.
GenAI berbeda dari Akal Imitasi tradisional, yang disebut sebagai Predictive AI. Predictive AI hanya mampu menganalisis data, mengenali sebuah pola, atau membantu pengambilan keputusan berdasar analisis tersebut. Contohnya saja ketika sebuah mobil diberi pemrograman AI yang mampu membaca kondisi di sekitar mobil tersebut sehingga dapat melakukan mode penyetiran otomatis tanpa risiko kecelakaan. Kalau Tabumania masih ingat, dulu kita pernah mengenal sebuah sistem komando bernama Siri pada perangkat Apple (iOS), atau Alexa pada Android. Siri dan Alexa adalah AI tradisional juga, yang berbentuk asisten maya. Di masa lampau, AI hanyalah “alat” pendamping manusia, tak akan berfungsi maksimal dengan sendirinya. Namun, GenAI berbeda, ia bisa “berpikir” seperti manusia dan membuat sesuatu yang sama sekali baru—”karya”. Pada GenAI, manusia justru melakukan upaya seminim mungkin—mengetik prompt—dan AI yang akan mengerjakan sisanya.
Dalam kategori GenAI, ada juga sebuah model yang dikenal sebagai Language Learning Model (LLM), fungsi utamanya adalah untuk pembuatan teks. Salah satu yang paling terkenal tentu saja ChatGPT. Penggunaan ChatGPT sangat masif sejak awal diperkenalkan ke publik dan ironisnya justru banyak digunakan di bidang penulisan baik akademis atau profesional.
Yang (lagi-lagi) mungkin tidak banyak disadari oleh para penggunanya, setiap mereka memberikan materi berupa gambar atau contoh teks pada ChatGPT untuk diolah menjadi sesuatu yang baru dan “orisinil”, mereka jugalah yang melatih AI tersebut agar makin adaptif dan canggih. Ketika ChatGPT memberikan jawaban atau hasil yang keliru, pengguna akan meralatnya. Koreksi itu akan disimpan oleh sistemnya dan kemudian terus mengulang proses hingga hasilnya mendekati akurasi yang diharapkan.
Peran ChatGPT sebagai “alat bantu” dalam proses pengkaryaan mulai menimbulkan konflik ketika ternyata kapasitasnya melebihi sebuah mesin belaka. Ia bahkan dapat menuliskan sebuah esai dengan pola yang mirip seperti buah pikir seorang manusia—punya susunan struktur tulisan yang rapi dengan pembuka hingga penutup, dilengkapi sumber referensi, bahkan lengkap akan parafrase yang cair. Jika dibaca pertama kali dan hanya sekali, orang awam akan mengira bahwa esai itu ditulis oleh manusia. Namun, bagi mata yang terlatih, lama-kelamaan karya-karya hasil GenAI itu dapat dikenali dengan mudah karena pola gaya penulisannya mirip dan pendekatan analisisnya kaku.
Ya, GenAI tetap tak mampu mengimbangi kreativitas akal asli manusia.
Bom Waktu
Setelah sekian versi pengembangan selama beberapa tahun terakhir, kemampuan GenAI seperti ChatGPT, Midjourney, Gemini (milik Google), Grok (milik X), dan semacamnya dalam merespon percakapan atau menghasilkan produk kreatif kini menjadi semakin alami. Sekitar 2024 lalu ChatGPT sempat diperbincangkan berfungsi sebagai teman curhat bagi para laki-laki yang kerap dituntut untuk menyimpan emosinya sendiri. Pada penderita gangguan kesehatan mental, banyak juga yang mengaku menggunakan ChatGPT untuk bercerita, bahkan meminta didiagnosis.
Di sinilah keberadaan GenAI dirasa membahayakan. Diagnosis klinis tentu memerlukan pemeriksaan yang berlapis, dan sebuah mesin (yang dilatih oleh para penggunanya walau tak disadari) tentu tidak punya pengalaman dan pengetahuan yang sama dengan para tenaga profesional di dunia nyata.
Penggunaan GenAI yang intens juga dikeluhkan oleh para pendidik ketika siswa-siswa justru mengandalkan ChatGPT untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Fenomena ini tak hanya terjadi di tingkat kelas menengah, tapi juga di perguruan tinggi, padahal para mahasiswa diharapkan sudah mampu berpikir kritis secara mandiri. Dengan adanya ChatGPT yang mengerjakan tugas-tugas mereka, target nilai tetap terpenuhi, tapi kapasitas logika tak juga terisi.
Di industri seperti agensi periklanan, branding, bahkan media jurnalistik dan lembaga penelitian, ChatGPT juga acap digunakan tidak hanya untuk mencari ide, brainstorming, atau merangkum bacaan dari sebuah dokumen, tetapi juga menghasilkan copywriting, gambar, terjemahan, atau juga konten tulisan itu sendiri. Fungsi tersebut, kalau kita mau mengamati lebih lanjut: telah menggantikan sedikitnya dua pekerjaan yaitu penyunting dan penerjemah, selain juga penulis itu sendiri. Artinya, ya, GenAI ikut berebut tempat dalam kompetisi pencarian sumber penghasilan yang berfokus pada penulisan.
Jika ditambah dengan tren desain dan ilustrasi dari “tangan” GenAI, maka posisi ilustrator dan desainer grafis tentu juga dapat dicoret dari daftar pekerjaan yang tersedia untuk manusia. Walaupun produk-produk itu minim rasa dan tidak eksklusif (karena kemampuan imajinasi GenAI tetap terbatas, ia tak mengalami ragam kehidupan layaknya manusia), perusahaan yang hanya mementingkan profit tentu tetap melihat GenAI sebagai alternatif lebih murah dibanding mempekerjakan manusia yang punya kebutuhan dan harus dipenuhi kesejahteraannya sesuai undang-undang.
Pada esai Ayun, ia menyebutkan soal risiko kerugian non-material dari penggunaan GenAI secara terus-menerus, seperti penyalahgunaan data pribadi, disinformasi, juga soal etika plagiarisme karya seni. Kemudian Ayun menyarankan agar fungsi AI sebaiknya tetap dipertahankan sebatas “…sebagai kolaborator yang membantu proses brainstorming, riset awal, eksplorasi visual, penyuntingan, penerjemahan, atau peningkatan aksesibilitas melalui caption, alt-text, dan transkripsi”.
Tapi, selain soal risiko hilangnya tenaga ahli manusia yang tergantikan itu, apakah benar pembatasan itu saja sudah cukup?
Baru-baru ini, MIT menerbitkan sebuah penelitian terkait dampak penggunaan LLM pada kemampuan kognitif penggunanya dalam menghasilkan esai tulisan. 54 partisipan dikelompokkan ke dalam tiga bagian: Brain-only (hanya menggunakan akal sendiri), Search Engine atau mesin pencarian (Google), dan LLM (ChatGPT). Masing-masing diberi tugas membuat esai dan hanya boleh menggunakan alat yang ditentukan sesuai kelompok per sesi penelitian. Pengamatan yang dilakukan tidak hanya tentang kualitas esai, tapi juga pada aktivitas otak di sesi-sesi itu.
Dari studi tersebut, ditemukan bahwa masing-masing kelompok menunjukkan hasil yang cukup kontras. Pada kelompok Brain-only, kepemilikan esai dinyatakan secara kuat. Mereka juga dapat mengutip isi esai yang telah mereka tulis sendiri, menunjukkan daya kognitif dan pemahaman semantik yang tinggi. Hal ini juga dibuktikan oleh statistik gelombang otak yang aktif dan kuat saat mereka menyerap informasi visual dan mengakses memori di kepala.
Sebaliknya, kelompok pengguna LLM justru menunjukkan gelombang otak yang lemah ketika mengolah informasi. Bahkan, mereka tidak berupaya menyunting atau memahami ulang isi esai yang telah dihasilkan oleh LLM, menyebabkan kesulitan mengutip isi esai yang baru mereka tulis beberapa menit sebelumnya. Ketika percobaan diubah menjadi LLM-to-Brain, di mana kelompok pengguna LLM diminta mengerjakan tugas tanpa bantuan alat, koneksi saraf otaknya tetap tidak dapat mengejar pola yang muncul pada dua kelompok lainnya di sesi-sesi sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok pengguna LLM mengalami penurunan daya serap informasi. Temuan ini tentu mengkhawatirkan, mengingat frekuensi dan intensitas penggunaan LLM saat ini begitu tinggi, tak jarang hingga ke tingkatan mencarikan ide dan membuat keputusan. Ketergantungan pada asistensi LLM tentu akan mengganggu proses pembelajaran jangka panjang dan berdampak pada fungsi kerja otak manusia.
Dari segi lingkungan, GenAI juga ternyata menggunakan daya 10x lipat lebih tinggi dibandingkan mesin pencarian biasa, berdampak pada konsumsi listrik yang tinggi (dan bahan baku nikelnya). Ini juga menjadi salah satu penyebab tingginya harga perlengkapan elektronik 1-2 tahun belakangan. Perlengkapan pengoperasiannya pun memerlukan volume air bersih skala besar, yang mengancam kebutuhan makhluk hidup di sekitaran sumber air tersebut. Ditambah dengan krisis iklim yang menimbulkan bencana kekeringan di banyak wilayah, isu ekologis ini akan terus bertambah buruk jika penggunaan GenAI tidak dibatasi.
Tabumania, kemajuan teknologi memang tak bisa terelakkan, sebab ia memang bertumbuh bersama peradaban yang menciptakannya. Namun, kita perlu juga mengenali kapasitasnya. Apakah penggunaan teknologi tersebut memang mutlak dalam keseharian kita? Apa yang harus kita korbankan untuk menggunakannya? Dalam komunitas yang mengandalkan perawatan ingatan dan pengetahuan secara berkeadilan, ada baiknya jika kita kembali mempertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk menggunakan sebuah teknologi baru dalam waktu yang lama. Jangan sampai, keinginan untuk dapat mengikuti zaman justru menimbulkan bahaya terhadap kehidupan kita dan orang-orang terdekat.
***
Oleh Inez Kriya. Inez Kriya adalah ilustrator dan penulis yang bergiat di isu-isu gender, kesehatan mental, dan pangan. Latar studi di bidang sastra menumbuhkan ketertarikannya dalam semiotika, dan akhirnya mengantarkan Inez pada kampanye pentingnya peran ilustrasi dalam jurnalisme dan gerakan publik. Untuk berjejaring, silakan menghubungi Inez di IG: @inkriya atau email: inkriyaco@gmail.com

0 comments on “Ketika Penggunaan Akal Imitasi Mengancam Fungsi Akal Asli Kita”