Buka Perspektif

Surat Pertama: Apa itu Patriarki?

Hari ini, bayangkan Tabumania menerima selembar surat dari Qbukatabu. Surat tersebut hanya berisi satu kalimat:

“Mengapa separuh manusia di bumi ini hidup dengan rasa takut yang tidak dialami separuh lainnya?”

Sebelum bisa memproses pertanyaan di atas, mungkin Tabumania juga bertanya-tanya, mengapa kami mengirim surat ini? 

Tabumania, surat ini kami kirim karena hari-hari kita tengah diliputi oleh kegelisahan. Berita kekerasan berbasis gender semakin marak. Penculikan dan pembunuhan terhadap perempuan menjadi judul yang terus muncul di media. Video trending berupa kekerasan terhadap kelompok queer menerima banyak dukungan. Itulah kehidupan yang sedang kita jalani, sambil terlunta karena harga semakin melambung, begitu juga angka pengangguran dan PHK yang tak kalah naik.

Dengan kehidupan yang makin sulit ini, mengapa kekerasan terhadap kelompok marjinal semakin menjadi? Mengapa di setiap kondisi, perempuan dan queer ditempatkan pada posisi yang rentan, dan mengapa kerentanan tersebut selalu semakin bertambah ketika hidup semakin susah? Mengapa separuh dari kita diperlakukan dengan buruk? Sedangkan ada separuh lagi dari kita, memperlakukan kelompok yang lain dengan buruk.

Bukan Sekadar Sebuah Istilah

Bagi sebagian orang, patriarki mungkin hanya sebuah istilah asing yang hanya digunakan untuk melawan status quo. Istilah yang membuat orang tidak nyaman, menimbulkan kontroversi belaka. Namun, bagi sebagian orang lainnya, itu adalah rantai yang mengekang kebebasan mereka. Baik yang mengetahui atau tidak makna kata tersebut, sama-sama terdampak dan hidup di dalamnya. Itulah patriarki, sebuah sistem di mana ada yang menjadi penindas dan ada yang tertindas. 

Patriarki adalah sebuah sistem yang dibangun selama ribuan tahun, lewat berbagai institusi: negara, hukum, pendidikan, hingga yang terkecil–keluarga, semuanya mengatur relasi kita dalam keseharian. Patriarki diatur secara tertulis dan tidak, sampai kita tidak tahu sejauh apa kehidupan kita telah diatur oleh sistem ini.

Istilah patriarki dipopulerkan oleh tokoh-tokoh feminis gelombang kedua pada sekitar 1960-1980. Kita bisa menemukannya pada literatur yang dibuat pada masa itu, seperti Sexual Politics (1970) oleh Kate Millet, The Creation of Patriarchy (1986) oleh Gerda Lerner. Filsuf kenamaan dan tokoh feminis gelombang dua yang sering menjadi rujukan, Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949) juga memberikan kritik terhadap masyarakat yang menindas perempuan secara sistematis, mengonstruksi peran gender, dan memosisikan perempuan sebagai makhluk yang lain.

Pada Theorizing Patriarchy (1990), sosiolog Sylvia Walby menyebutkan bahwa patriarki merupakan sistem struktur dan praktik sosial di mana laki-laki mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan. Sylvia mengidentifikasi eksploitasi ini beroperasi dalam enam struktur yaitu, pekerjaan berupah, produksi rumah tangga, budaya, seksualitas, kekerasan, dan negara. Maka, patriarki tidak bisa dilihat sebagai masalah personal tetapi sebuah sistem yang mengikat di masyarakat. 

Tabumania, jika kita membahas isu feminisme, maka kita tidak bisa lepas dari pembahasan patriarki, sebab ada masalah sistemik yang menempatkan perempuan pada posisi subordinasi, sedangkan laki-laki ditempatkan pada posisi dominan.

Lewat Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity (1990), Judith Butler mengenalkan kerangka matriks heteroseksual (heterosexual matrix), sebuah kerangka kultural otoritatif masyarakat kita yang mengatur bahwa gender harus hanya terdiri dari laki-laki (lahir dengan penis) dan perempuan (lahir dengan vagina). Hal ini yang kemudian diterapkan menjadi sistem heteronormativitas oleh masyarakat, yaitu sistem di mana heteroseksualitas dianggap sebagai satu-satunya hal yang normal.  Heteronormativitas juga menghasilkan standar peran sosial yang kaku sehingga memunculkan marjinalisasi terhadap kelompok yang dianggap lebih rendah, yaitu perempuan dan queer. Lebih buruk lagi, identitas gender dan seksual di luar norma biner tadi kemudian dianggap menyimpang.

Lompat ke 2026: Krisis Kembali Memuncak

Diskusi feminisme sudah ada sejak lama, dunia pun katanya sudah maju. Bukannya perempuan sudah bisa sekolah, bekerja, dan punya hak ikut pemilu? Sudah 2026, bukankah kelompok queer sudah dianggap sebagai manusia utuh yang bisa memilih jalan hidupnya sendiri? Masih relevankah pembahasan patriarki?

Tabumania, hak yang bisa kita nikmati sekarang tidaklah terberi begitu saja, tetapi berasal dari perjuangan keras kolektif. Bagi yang sudah mendapatkan haknya, tentu dapat kita rayakan bersama. Tetapi kenyataannya, masih banyak sekali hak yang masih belum bisa dimiliki perempuan dan queer seperti hak berketubuhan. Di banyak negara termasuk di Indonesia, perempuan masih belum bisa memilih untuk melanjutkan kehamilan atau menyudahinya. Bahkan, kita juga masih kerap menemukan individu queer yang diserang hanya karena pilihan berpakaiannya.

Di tahun 2026 ini, kita melihat ada banyak sekali kekerasan sistemik yang dilakukan oleh negara. Pengabaian laporan orang hilang dan kekerasan, kerusakan alam akibat pembangunan yang tak bijak dan menyebabkan bencana, disunatnya banyak anggaran termasuk alokasi dana penanggulangan bencana, kebijakan pemerintah yang diambil berdasarkan nilai-nilai heternormativitas telah berpengaruh besar kepada kehidupan kita bersama.

Pola yang ada menunjukkan bahwa kekerasan terhadap kelompok rentan meningkat di kondisi krisis seperti sekarang. Beberapa kekerasan terhadap transpuan yang dipertontonkan bahkan tidak terlihat organik dan terstruktur, seolah-olah memang ingin hal itu didukung oleh lebih banyak pihak lagi.

Diskusi Patriarki Perlu Terus Digaungkan

Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia cukup mengejutkan. Sepanjang 2025 saja tercatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, meningkat 14,07% dari tahun sebelumnya. Angka ini menjadi puncak tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Seperti laporan yang sudah-sudah, sebagian besar kekerasan itu terjadi bukan di jalanan gelap, melainkan di ranah personal yang dianggap sebagai tempat paling aman, dengan jumlah mendominasi hampir 90% dari total kasus.

Angka yang naik ini punya dua wajah. Di satu sisi, ia bisa berarti kabar baik yang menyakitkan bahwa kini semakin banyak korban yang berani melapor atau sistem pendataan yang ada semakin luas dalam menjangkau kasus yang dulu tersembunyi. Tapi di sisi lain, menunjukkan kenyataan pahit bahwa patriarki masih mengakar dan masih memberi ruang bagi kekerasan itu untuk terjadi berulang-ulang.

Ironisnya, dalam sistem patriarki yang menjunjung peran laki-laki sebagai kelompok dominan dalam struktur sosial, banyak juga sesama laki-laki yang ikut mendapatkan tekanan dari masyarakat. Jika seorang laki-laki tidak dapat memenuhi standar yang dianggap maskulin oleh sekitarnya, maka ia dinilai lebih lemah dan privilese statusnya turut dikelompokkan bersama perempuan dan queer sebagai liyan. Jika demikian, maka pertanyaannya, siapa sebetulnya yang diuntungkan oleh sistem patriarki ini?

Tabumania, kita baru membuka surat pertama: merefleksikan apa yang sedang terjadi kini, yang ternyata berakar dari langgengnya sistem patriarki. Untuk memahami bagaimana kelindan nilai patriarki ini menghasilkan alur realita, akan ada surat berikutnya yang  kami kirimkan kepada Tabumania. Di surat kedua, kita akan membahasnya lebih lanjut lagi, ya!

***

Oleh Yuviniar Ekawati, penulis adalah lulusan kejurnalistikan dan seorang penulis lepas pada beberapa media massa yang memiliki fokus pada isu gender dan anak.

0 comments on “Surat Pertama: Apa itu Patriarki?”

Leave a comment