Buka Layar

Through the Night

“Aku dapat diskon. Tapi, gimana tukarnya?”

Jujur saja, pertanyaan itu hanya kubiarkan menggantung di udara karena aku sedang sibuk membaca komposisi pelembab bibir di etalase merek yang paling murah. Aku membandingkannya dengan merek lain yang sedikit lebih mahal, tapi ternyata isi kemasannya lebih banyak dan keduanya hanya selisih sedikit saja. Karena itu, sekarang aku bingung memilih antara aroma teh hijau atau stroberi di merek sebelumnya.

“Jadi, otomatis terpotong sepuluh persen dari harga asli di kasir nanti, ya?” tanya Tasya pada seseorang dengan setelan formal berwarna merah muda terang. Sebuah logo dari salah satu merek tersemat di salah satu sisi dadanya. Sepertinya dia menyerah memberiku pertanyaan yang tak pernah kujawab saat sedang serius seperti ini.

Setelah berpikir lama, pilihanku jatuh pada aroma vanila yang ternyata sedang ada potongan harga. Aku menghampiri temanku yang kini berdiri di ujung etalase sambil melihat dua balita tantrum sedang berebut sebuah balon pemasaran supermarket. “Jadi beli apa?”

Tasya mendengus kesal. “Sekali-kali tuh temennya didengerin, dong.” Ia lanjut memasang penglihatannya ke arah dua balita yang kini tangisnya mereda setelah melihat mamanya pura-pura menangis dengan alasan tak punya uang untuk beli dua balon, meski sebenarnya gratis. “Beli cushion. Lumayan juga potongan harganya. Jadi, beli apa kamu? Tumben pilih produk lama banget. Biasanya cuma baca sekilas dan nggak jadi beli, kalau butuh tinggal tanya aku, lanjut check-out di online store.” Aku meringis saja menanggapi omelannya itu.

“Tumben di sini diskonnya gede. Jadi, mending langsung beli saja. Toh, nggak pakai ongkos kirim.” Obrolan kami terhenti setelah seorang karyawan menghampiri Tasya dan mengonfirmasi potongan harga barang yang ia beli, menggantinya dengan secarik ‘tiket’ untuk ditukar dengan barang asli setelah pembayaran di kasir. Kemudian kami bergeser ke etalase sebelah, sebelahnya, berlanjut ke sebelahnya lagi sambil mendengarkan omongan Tasya soal produk ini dan itu.

Sebuah produk menghentikanku, membuat jarak antara aku dan Tasya. “Mohon maaf, permisi. Bisa minta waktunya sebentar?” tanya seseorang padaku. Ia mengenakan setelan putih-hitam, tak sama dengan karyawan lain. Keringatnya membulir di dahi, tangannya penuh dengan buku catatan dan produk yang mungkin akan ia tawarkan.

Aku mencari sosok Tasya agar dia saja yang menanggapi wanita ini, karena aku kurang pintar meladeni orang asing. Itu sebabnya ke manapun aku pergi, Tasya akan membuatku mengekorinya seperti anak ayam. Sayangnya, ia tak kutemukan di radius penglihatanku dengan lensa kacamata cekung dan tebal ini. Tubuh mungilnya itu selain kesit, juga menyulitkan jika di keramaian.

“Perkenalkan, saya Santi…” Lalu ia menyerocos tanpa henti soal nomor provider yang ia tawarkan, potongan harganya, keuntungannya, dan lain sebagainya. Awalnya semua lancar, hingga saat aku bertanya soal kecepatan internetnya. Ia terbata, seakan ingatannya rontok begitu saja. Aku tak enak hati melihatnya gugup seperti itu, hingga aku menawarkan tisu untuk keringatnya yang membulir dan sukses membuat riasannya memudar. Sepertinya ia tak ada waktu untuk sekadar berkaca dan meninjau riasannya yang memburuk itu.

“Nggak apa, Kak. Terima kasih,” ungkapnya agak ketus. Sepertinya ia salah sangka pada niat baikku.

“Jadi, syaratnya apa saja untuk beli kartu perdana itu?” kataku, ingin cepat mengakhiri. Wajahnya langsung sumringah, senyumnya melebar, kemudian ia menjelaskan bahwa aku hanya perlu mencatatkan nama, nomor ponsel yang kupilih, dan kota asal sebagai bukti pembelian. Sebuah buku disodorkannya padaku, tepat saat Tasya menghampiri—akhirnya. Aku memberinya isyarat untuk nanti-saja-tanyanya sambil mulai mengisi halaman buku dengan namaku di barisan kedua. Kubayarkan selembar uang pas padanya dan kukembalikan buku catatan miliknya yang sepertinya sakti itu.

“Terima kasih banyak ya, Kak! Ini silakan dipilih nomor yang Kakak mau,” ucapnya bersemangat. Ia bahkan menawari Tasya dan berhasil meraih hati nuraninya juga. Aku dan Tasya memilih nomor ponsel yang sama, dengan dua digit terakhir yang berurutan. Dia 5, aku 6. Manis dan kekanakan sekali seperti pertemanan bocah di sekolah dasar.

Wanita itu pamit keliling lagi meski sebenarnya sudah pesimis karena hanya tersisa 10 menit lamanya sebelum supermarket tutup. Aku dan Tasya sepakat mendoakan saja agar ia mencapai hasil yang terbaik. 

“Aku benar-benar menahan tanganku buat nggak menyambar wajahnya dengan kapas dan micellar water, terus pakein riasan lagi yang bagus!” kata Tasya menggebu sesaat setelah kami keluar. Ternyata pikiran dan pandangan kami tertuju pada hal yang sama. Riasannya sudah terlalu rusak untuk dibenahi. Foundation yang ia pakai sudah terlanjur pecah di banyak sisi, bedaknya luntur, gincunya sudah pudar entah sejak kapan, bulu matanya hampir lepas di sisi kirinya.

“Mau balik, nggak?” tawarku padanya.

“Gila, ah. Takut dianggap sok pinter nanti. Toh setelah ini supermarket tutup dan wanita itu akan pulang. Ada waktu buat introspeksi di depan cermin toiletnya bareng senior-seniornya itu,” jawab Tasya yang kuharap benar. Gadis ini kemudian mengajakku mampir ke kios minuman di bagian teras yang saking sepinya, penjualnya tertidur di depan mesin segel dan membuat kami  membeokan kata beli untuk sekian kali.

Kami berpisah di depan setelah driver ojol pesanan Tasya datang. Kemudian aku berbalik untuk pergi ke tempat parkir motor di samping bangunan. Tapi sebelum melakukannya, aku duduk di sebuah halte yang kosong untuk menghabiskan minumanku. Padahal jam sudah terlalu malam untukku yang masih pulang ke rumah orang tua.

“Permisi, saya duduk sini, ya,” kata seseorang mengambil duduk di sebelahku. Suaranya yang familiar membuatku menoleh ke arahnya. Ternyata benar, wanita di supermarket tadi. “Eh? Nunggu jemputan, Kak?”

Aku mengusap lenganku beberapa kali karena terasa canggung. Pasalnya, sesaat yang lalu aku membicarakan sosoknya dengan temanku. “Eh, Kak. Enggak, saya bawa motor. Cuma mau habisin minuman.”

“Oh, buruan pulang, Kak. Sudah malam.” Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian ia menjelaskan umurnya yang ternyata lebih muda dua tahun dariku, sehingga aku tak perlu menyebutnya dengan ‘Kak’. “Panggil saja Santi,” usulnya.

Ia kemudian menanyakan apakah aku punya kapas dan cermin yang bisa dipinjamnya. Kebetulan sekali tasku hari ini penuh sedia perlengkapan, karena aku dan Tasya sudah keluar rumah dari siang. Aku pun meminjamkannya.

Santi menghapus riasannya yang memang berantakan dan terus-terusan meracau tentang betapa melelahkan pekerjaannya. “Sebenarnya, saya nggak perlu duduk di sini sambil mengganggu Kakak. Tapi pulang ke kost, atau setidaknya menghapus riasan saya di toilet.”

“Kenapa sekarang di sini?”

“Pengelola supermarket pelit. Kalau sudah tutup, semua lampu dan akses air dimatikan. Tidak ada yang menyala sekalipun pendingin ruangan, kecuali chiller. Padahal semua orang perlu waktu untuk berkemas.”

Diam-diam aku teringat pada sistem exhaust dan pembuangan chiller raksasa berbentuk cerobong di pusat atap gedung yang memang hampir pantang berhenti di beberapa titik saat pertokoan tutup, karena aku bagian dari konsultan gedung yang dimiliki dosenku. “Terus Santi duduk di halte sekarang ngapain? Kenapa nggak pulang ke rumah?”

“Saya merantau, Kak. Rumah saya di desa yang lebih dekat ke kaki Gunung Bromo dibandingkan ke pusat kota ini,” ucapnya sambil mengembalikan barang-barang yang ia pinjam. “Saya harus menunggu hingga jam melewati angka 10 agar anak tongkrongan di gang kost saya bubar.” Kemudian ia menjelaskan pengalaman buruknya lewat gang di malam hari.

“Buatmu saja cerminnya. Aku antar pulang yuk, sekarang,” tawarku yang akhirnya ia terima dengan malu-malu setelah menolak berkali-kali.

Roknya terlalu pendek untuk laki-laki tongkrongan dengan kapasitas otak tidak lebih dari seekor udang ditambah dengan nafsu besarnya pada wanita. Hingga Santi harus memakai celana training di balik roknya, tidak mengganti pantofelnya dengan sandal meski kakinya sudah lecet, mengganti gantungan tas bebeknya yang lucu dengan semprotan cabai. Setidaknya gadis ini punya tingkat kewaspadaan yang cukup.

Aku sengaja mampir ke warung bubur ayam dan membeli sebungkus untuk Santi karena dia ternyata tidak ada jam makan malam selama masa probation. Cerita kami berakhir di depan kostnya, dengan belasan kata terima kasih yang ia ucapkan untukku. Setidaknya, satu-dua laki-laki tidak berguna di gang itu sudah tahu kalau Santi berteman dengan orang yang tidak perlu mereka cari gara-garanya. Karena secara kebetulan, hari ini aku memakai motor Ayah yang punya tanda khusus aparat di plat nomernya—meski itu palsu, alih-alih memakai motorku yang baru saja menginap di bengkel setelah kubawa dari luar kota.

Santi bahkan memelukku lumayan lama. Sepertinya ia punya maksud untuk mempertegas pertemanan kami ke orang-orang bodoh itu, karena aku mengenakan jaket kulit jelek dan norak dari komunitas motor sangar milik Ayah di bagasi yang jarang dipakainya. Rambutku yang pendek juga tak tersembunyi sempurna di balik helm. “Ganteng juga kamu, Kak. Haha!” bisik Santi di dekat liang telingaku.

Little did she know, I’m not that straight. Santi, jangan suka berbisik lirih seperti itu selain ke aku, ya! Aku berdeham, berusaha membasahi kerongkongan yang mendadak terasa kering. “Mulai besok, boleh aku yang antar-jemput?”

— end —

Penulis : Kabuttebal

Wattpad Penulis : @amlifm

Instagram Penulis : @amlifm 

0 comments on “Through the Night”

Leave a comment