“Boro-boro self-care, Kak, makan besok saja masih mikir.”
Menurut keyakinan saya, negara kita tercinta ini nggak pernah gagal membuat warganya susah dan resah. Buktinya, hari ini orang yang hidup hanya untuk memastikan kebutuhan hidup satu hari bisa terpenuhi sudah bukan cerita yang ada di reality show, tapi ada di dunia nyata. Bagus kalau bisa dapat gaji bulanan—paling enggak, adalah jaminan dapat uang setiap bulan walaupun tetap ada risiko dirumahkan atau gajinya nggak dibayar.
Bayangin! Orang-orang yang hidupnya untuk satu hari saja persis kayak yang ada di film In Time, yang mana kalau nggak kerja, ya nggak makan, lama-lama is dead toyyaaa. Jadilah mau nggak mau orang-orang harus kerja bagai kuda, bertahan di lingkungan yang nyebelin, atau bersedia tunduk pada pihak yang memiliki kuasa walaupun sebenarnya menggerus rasa berharga, demi bisa hidup satu hari lagi.
Dalam situasi serba sulit ini nyekrol media social adalah salah satu hal yang paling mungkin dilakukan untuk rehat sejenak di sela-sela aktivitas kerja bagai kuda. Mana pula di media sosial ini kita makin sering ketemu sama orang yang bikin konten tentang “lakukan apa yang kamu mau”, “memenangkan diri dan keluar dari lingkungan yang toxic”… Tapi, apa bisa semua itu berlaku sama ke setiap orang?
Nggak usah jauh-jauhlah, ngomongin soal “cuti atau rehat” aja deh, contohnya. Nggak semua orang punya keistimewaan ini. Kek manalah seseorang mau ambil cuti kalau kerjaannya adalah kerja upah harian, yang mana kalau kau nggak masuk (kerja), ya nggak masuk uangmu. Atau kek manalah mau meninggalkan lingkungan toxic kalau di tengah susahnya cari kerja ini cuma di tempat toxic itulah satu-satunya sumber pendapatan yang ada.
Rehat Bagi Komunitas Queer
Bagi orang-orang queer, pertimbangan di atas juga bukan cuma ekonomi, melainkan juga harus menghitung persoalan terkait dengan keamanan. Walaupun kerja bagai kuda, kalau di tempat kerja yang sekarang dia diperbolehkan menggunakan nama yang diinginkan, aman bicara soal pasangan atau aman berpakaian sesuai ekspresi gender, maka sekalipun tersiksa, ada keengganan meninggalkan lingkungan yang toxic karena muncul pikiran bahwa di tempat yang baru belum tentu ada yang “seaman ini”.
“Tinggal menyesuaikan diri saja apa susahnya, sih?”
Menurut keyakinan saya, susah. Bagi orang-orang queer, kewaspadaan itu bisa muncul dari hal-hal kecil yang terus berulang, seperti memilih kata ketika cerita soal pasangan, mengubah cara berpakaian, menyembunyikan foto, atau membaca situasi sebelum berani menjadi diri sendiri. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele bagi orang yang nggak pernah perlu melakukannya, tapi kalau terjadi setiap hari tentu ada tenaga yang terus terkuras. Tubuh akhirnya belajar untuk siaga, kepala terbiasa menghitung risiko, dan rasa aman jadi sesuatu yang harus dicari, bukan sesuatu yang otomatis dimiliki.
Sementara dalam berbagai diskusi, rasa takut, cemas, dan lelah itu dianggap sebagai persoalan pribadi, seolah yang perlu diperbaiki hanya cara seseorang mengelola emosinya. Padahal mungkin sebelum bertanya apakah seseorang sudah cukup self-care, kita perlu bertanya lebih dulu: hidup seperti apa yang membuat seseorang sampai harus terus bertahan setiap hari?
Kesehatan mental sering dibicarakan seolah-olah semuanya berawal dan berakhir di dalam diri seseorang. Kalau cemas, kita diminta belajar mengatur napas, kalau burnout kita disuruh istirahat, dan kalau terlalu banyak pikiran kita diminta belajar berpikir lebih positif. Padahal nggak semua kecemasan muncul tanpa sebab, karena kadang lingkungan memang bikin seseorang harus terus waspada.
Sampai sini, kita perlu melihat bahwa apa yang terasa personal sebenarnya sering terhubung dengan kondisi sosial yang lebih besar. Ada relasi kuasa, ekonomi, keluarga, norma gender, pekerjaan, agama, dan kebijakan yang ikut menentukan siapa yang bisa hidup dengan tenang dan siapa yang harus terus menyesuaikan diri. Jadi ketika seseorang merasa lelah, takut, atau cemas, pertanyaannya nggak selalu harus “apa yang salah dengan dirinya,” tapi juga perlu diihat “apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.”
Dalam kehidupan hari-hari, sering juga saya mendapati orang memuji komunitas queer karena dianggap kuat, tahan banting, dan mampu melewati banyak hal. Kata seperti “resilien” rasanya terdengar positif, bahkan sering dipakai untuk menunjukkan bahwa seseorang berhasil bertahan dari situasi yang berat. Tapi saya kadang bertanya, kenapa orang yang terus disakiti justru terus diminta menjadi lebih kuat? Kenapa bukan kondisi yang menyakitinya yang kita ubah?
Lama-lama tanggung jawab untuk pulih jadi sepenuhnya jatuh ke individu, sementara sumber luka tetap dibiarkan ada. Padahal ada masalah yang nggak bisa selesai hanya dengan konseling, journalling, meditasi, tidur cukup, atau belajar berpikir positif. Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat untuk menjadi lebih kuat, tapi membutuhkan dunia yang berhenti memaksanya bertahan sendirian.
Dari Self-Care ke Collective Care
Mungkin itulah kenapa kita perlu mulai menggeser pembicaraan dari self-care ke collective care. Bukan karena merawat diri nggak penting, tapi karena nggak semua beban hidup bisa diselesaikan sendirian. Ada hari ketika seseorang bisa bertahan bukan karena dia lebih kuat, tapi karena ada orang lain yang bersedia menopang. Kadang bentuknya sesederhana ditemani ke dokter, dibantu cari tempat tinggal, atau sekadar ditelepon saat malam terasa terlalu berat.
Di komunitas queer, praktik seperti ini sebenarnya sudah lama ada meskipun kita nggak selalu menyebutnya collective care. Kita saling berbagi informasi, saling mengingatkan risiko, saling menemani, dan kadang menjadi keluarga ketika keluarga biologis nggak bisa menerima. Care—keperawatan dalam bentuk seperti ini nggak selalu tersusun cantik, nggak selalu terencana, dan nggak selalu bisa dipamerkan di media sosial.
Kadang care bisa berupa nasi bungkus, boncengan motor, sofa sempit untuk tidur semalam, atau pesan singkat yang bilang “kalau nggak aman, ke sini aja.” Hal-hal kecil seperti itu mungkin nggak menyelesaikan seluruh masalah, tapi bisa membuat seseorang merasa bahwa dia nggak harus menghadapi semuanya sendirian. Dan mungkin di situlah kesehatan mental mulai terasa lebih manusiawi. Ketika care nggak lagi cuma menjadi tanggung jawab individu, tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama.
Tapi collective care juga bukan berarti kita harus selalu tersedia untuk semua orang setiap saat toyyaaa. Karena mampus kali, ya kan? Misal ada satu atau dua orang yang dianggap paling kuat, paling sabar, atau paling bisa menghadapi masalah. Lama-lama semua orang datang kepada orang yang sama ketika ada konflik, krisis, kebutuhan mendesak, atau sekadar butuh tempat untuk bercerita. Terus nggak ada yang sadar pula kalau orang yang selama ini merawat orang lain juga punya batas, punya masalah sendiri, dan bisa kehabisan tenaga.
Dalam banyak kesempatan, kerja merawat sering dianggap sesuatu yang alami, Padahal mendengarkan, menemani, mengatur konflik, dan menjaga orang lain semuanya membutuhkan waktu dan energi, ya waaaak! Kalau beban care terus jatuh ke orang yang sama, kita sebenarnya sedang mengulang pola yang selama ini kita kritik. Solidaritas seharusnya bukan alasan untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika dia bilang capek atau nggak sanggup membantu.
Orang yang biasanya paling kuat tetap berhak punya hari ketika dia nggak ingin mendengar masalah siapapun. Orang yang sering menjadi tempat pulang juga butuh tempat untuk pulang. Karena collective care yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi bagaimana kita membangun cara untuk saling menjaga tanpa membuat siapa pun habis di tengah jalan.
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin self-care memang perlu kita rebut kembali maknanya dari sekadar produk, layanan, atau aktivitas yang bisa dibeli. Merawat diri nggak selalu harus berarti liburan, spa, skincare mahal, atau pergi ke tempat yang jauh untuk mencari ketenangan. Buat sebagian orang, self-care justru bisa berarti berani bilang tidak, berhenti memaksakan diri, makan dengan cukup, tidur tanpa rasa bersalah, atau menjauh sebentar dari hal yang bikin tubuh terus tegang. Tapi bahkan pilihan-pilihan sederhana itu tetap gak selalu mudah ketika hidup seseorang dikontrol oleh tuntutan ekonomi, keluarga, pekerjaan, atau lingkungan yang nggak aman.
Makanya, kita juga perlu berhenti menjadikan self-care sebagai ukuran seberapa baik seseorang mengelola hidupnya. Orang yang belum bisa istirahat bukan berarti dia nggak peduli pada dirinya sendiri. Orang yang belum bisa keluar dari lingkungan yang buruk juga bukan berarti dia memilih untuk terus terluka. Kadang dia sedang bertahan dengan pilihan yang sangat terbatas, dan itu adalah hal yang perlu kita pahami sebelum buru-buru memberi nasihat.
Mungkin care yang lebih adil dimulai dari kemampuan untuk melihat kondisi hidup seseorang secara utuh, bukan hanya melihat gejala yang muncul di permukaan. Sebab sebelum meminta seseorang merawat dirinya lebih baik, kita juga perlu bertanya apakah dunia di sekitarnya sudah memberi cukup ruang untuk dia bisa bernapas. (RR)
***
Radif Rahadian adalah pekerja komunitas, peneliti, konselor, dan fasilitator asal Aceh yang berkecimpung pada isu kesehatan mental, keamanan holistik, keberagaman, dan perawatan kolektif. Sangat tertarik mendalami persoalan struktural yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan rasa aman, kesejahteraan, dan kemampuan seseorang untuk merawat diri.

0 comments on “Self-Care Saja Tidak Cukup”