Buka Layar

Datang Lagi Nanti

Datang lagi nanti, kini dan ke depannya maknanya berbeda. Datang lagi nanti, bukan untuk diabaikan, bukan untuk disudahi sesegera mungkin dan dikesampingkan. Datang lagi nanti, untuk dicari tahu bersama, untuk didengar, untuk diakui, dan dipenuhi kebutuhannya… sebuah cerpen tentang disabilitas tak nampak sudah tayang di Qbukatabu.org

Tubuh Yuni setiap hari serasa di awang-awang, setiap kali dia berdiri rasanya kaki tak napak. Bak melayang, jarak yang ada membuat tubuhnya tak stabil dan rasanya dia bisa terjatuh kapan saja. Maka, dia berpegangan pada meja makan, pada kabinet televisi di ruang keluarga, pada gagang yang kebetulan ada di dekatnya, pada tubuh siapapun yang berdiri di sampingnya.

Berkali-kali ia juga menyadari tubuhnya tak bisa berdiri tegap. Rasa sakit sering muncul di sekitar perut bagian bawah, menjalar hingga ke paha, terkadang diikuti kilatan rasa sakit di anusnya yang menyerang tiba-tiba. Saat sakit semakin kuat, ia menyerah untuk tegap, mengaku kalah pada rasa sakit, ia membungkukkan badan. Meski ia berusaha menang, tubuhnya seperti tertarik ke bawah, jatuh. Sebungkuk apapun, rasa sakit sebenarnya tak pernah benar-benar hilang, ia terus ada, seperti mengingatkan bahwa tubuhnya bisa rubuh kapan saja. Yuni meringkuk seperti bayi, menunggu rasa sakit pergi.

Berbagai cara telah ia lakukan untuk menekan rasa sakit yang menjalar. Pada saat bekerja, secara tak sadar tangannya menarik laptopnya yang panas, tepat duduk di atas perut bawahnya. Rasa hangat memberikan rasa nyaman sesaat. Tubuhnya ingin lebih untuk menutup rasa sakit hingga panas tersebut membakar, memberi bekas merah pada kulitnya. Rasa sakit akibat panas, kadang terasa lebih baik daripada rasa sakit yang menjalar dalam tubuhnya, yang tak terlihat itu bagaimana rupanya. Setidaknya bekas panas itu bisa ia lihat.

Meski seharian ia kelelahan hebat. Ia tetap kesulitan untuk memulai tidur. Tidak hanya memulai, ia juga kesulitan untuk mempertahankan tidurnya. Tidak hanya memulai dan mempertahankan tidurnya, ia juga kesulitan untuk mengakhiri tidurnya. Setiap hari, ia dibangunkan bukan oleh alarm tapi oleh rasa sakit yang membuatnya terus terjaga hingga akhirnya alarm berbunyi di telinganya. Alarm kedua menyusul membangunkannya, hingga alarm ketiga dan keempat ikut berbunyi. Namun, meski ia sudah tersadar, ia tak bisa benar-benar bangun, tubuhnya tak bisa bangun dari kasur dan memulai aktivitas. Ditimpa alarm demi alarm, membuatnya merasa semakin terbenam di dalam kasur. Yuni sadar bahwa harinya tak akan baik, ia akan menjalaninya dengan pikiran bahwa ia lagi-lagi sudah membuang waktu hidupnya. 

Alarm yang ia pasang, berbunyi tiap lima belas menit sekali hingga satu jam berlalu, dua jam berlalu. Tubuhnya mulai bisa digerakkan. Lagi-lagi, ia memulai harinya dengan tergesa, mempersiapkan harinya dengan waktu yang tipis. Diikuti rasa bersalah karena tidak produktif.

Setiap hari, Yuni menghitung sisa tenaga yang ada. Sudah ia habiskan untuk tidur yang tidak berkualitas, yang memberinya pengalaman bangun tidur penuh penyesalan. Dia menghitung, tenaga yang tersisa dari jumlah yang terbatas itu. Dia menghitung pekerjaan apa saja yang bisa ia selesaikan. Dia menghitung, apa saja yang bisa ia lakukan untuk tak membebani orang sekitar. Dia menghitung seberapa bergunanya ia, masih seberapa bernilainya ia di dunia ini. Dia juga menghitung skala sakit hari ini.

“Dari satu sampai sepuluh, berapa rasa sakitnya?” dokter di depannya bertanya.

“Delapan. Sama seperti ketika saya kontraksi waktu melahirkan,” jawab Yuni yakin. Masih ingat jelas, seorang ners memintanya datang lagi ke obgyn jika anaknya sudah lahir karena Yuni tak sadar bahwa rasa sakit yang dia alami selama ini ternyata tak normal. Rasa sakit menstruasinya selama ini sebanding dengan rasa sakit ketika pembukaan lahiran.

“Hasil ultrasonografi tidak ditemukan miom, tapi dari penjelasan kamu sepertinya ini endometriosis. Sebelumnya kamu pernah didiagnosis polycystic ovary syndrome ya? Tetapi ini juga tidak ditemukan kista ya. Untung sudah punya anak, bersyukur. Banyak yang susah punya anak,” 

“Saya kira sakit ini karena PCOS karena ketika dapat diagnosis PCOS, saya cerita juga soal keluhan rasa sakit ini,”

“PCOS nggak menyebabkan sakit hebat, kalau gini ada masalah lain, tapi ini nggak kelihatan apa-apa ya lewat USG. Memang endometriosis sering nggak kelihatan, ketika pembedahan baru ketahuan, lewat laparoskopi,”

“Saya butuh laparoskopi?”

“Tidak usah, nanti kalau ternyata sudah tindakan nggak ditemukan, ‘kan sayang,”

“Terus kalau sakit terus gimana, dok?”

“Coba kita lihat efeknya kalau kamu pakai pil KB kombinasi ya, harus kombinasi, itu ada hormon estrogen dan progestin yang menghambat ovulasi, saya lihat hasil track rasa sakit kamu, ini kemungkinan kamu sakit pada saat masa ovulasi juga,”

“Minum pil ini mengobati, dok?”

“Tidak mengobati, tidak ada obatnya. Diangkat rahim pun bisa muncul lagi, minum pil KB saja,”

“Jadi untuk mengobatinya harus apa, dok?”

“Kan saya bilang tidak ada obatnya. Ini pil bisa menutupi gejala sakitnya, datang lagi bulan depan,” tutup dokter.

Tak ada yang berbeda dari belasan tahun yang lalu ketika Yuni pertama kali mendatangi dokter kandungan saat ia masih remaja. Tidak ditemukan apapun. Tak ada yang bisa dilakukan. Coba datang lagi nanti. Nanti, setelah kamu menikah, nanti setelah kamu punya anak.

Sebelumnya, tidak ditemukan apapun karena rasa sakit Yuni diabaikan. Rasa sakit ketika menstruasi normal, katanya. Sudah pernah seks? Tanyanya. Menikah dulu, datang lagi nanti, suruhnya. 

“Tidak bisa USG transvaginal ya, kamu ‘kan belum menikah, ‘kan sayang kalau perawannya hilang sama alat bukan sama suami,” ucap dokter.

“Kasihan suaminya kalau calon istrinya tidak perawan lagi,” ucap dokter.

“Kamu masih terlalu muda untuk mendapatkan tindakan. Coba diet dulu, turun berat badan. Ini badan kamu gemuk ya. Kelihatannya ada masalah metabolisme, saya resepkan metformin untuk mengatasi resistensi insulin. Datang lagi nanti,” ucap dokter.

Belasan tahun berlalu, rasa sakitnya semakin hebat. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, dari diagnosisnya, tak ada perkembangan apapun. Rasa sakit tak bisa ditutupi lagi dengan kata-kata pengabaian. Benar, KB tak bisa mengatasinya, hanya menutupi gejalanya. Diet dan eliminasi sudah dilakukan, hingga setiap hari ia kelaparan. Namun, setiap kali datang ke dokter, yang didapat adalah penghakiman atas pola hidupnya, yang dokter pun tak tahu.

Yuni mencari pengobatan swadaya. Lewat buku dan layar di tangannya, pengabaian yang ada, nampaknya lebih besar dari yang pernah ia pikirkan sebelumnya. Penelitian soal kebotakan pada pria masih lebih banyak daripada penelitian endometriosis. Beberapa tahun terakhir sebenarnya lebih baik, setelah endometriosis ditemukan pada laki-laki. Brengsek!

Kanan-kiri, Yuni berkenalan dengan orang-orang yang mengalami apa yang dia alami. Saling berbagi kabar dan informasi. Laparoskopi dilakukan oleh kawan A, pengobatan hormonal yang dilakukan oleh kawan B, histerektomi yang dilakukan oleh kawan C. Tetapi, tahun demi tahun kegagalan pengobatan yang didengar dan diterimanya. Inositol yang dibelinya secara online dengan menyisihkan upahnya yang ia dengan berat ia terima selama bekerja dengan menahan rasa sakit bahkan palsu.  Berharap tak ada kepalsuan dari teh herbal campuran spearmint yang ia minum menjelang tidur sambil berdoa, ia serupa eliksir ajaib yang dapat mengangkat penyakitnya.

“Kamu kapan sehatnya?”; “Kemarin aku lihat kamu baik-baik saja, kenapa hari ini drop lagi?”; “Kamu sudah bisa kerja seperti dulu nggak? Ini harus dipegang sama kamu lagi!”; “Kok nggak bisa diajak ketemuan kayak dulu? Padahal anak kamu ‘kan sudah makin besar,”; “Janjian hari ini batal lagi?”; “Kenapa kamu sakit terus?”; “Kamu kelihatan baik-baik saja kok, jangan mengada-ada!”

Daftar dokter yang harus ditemui Yuni bertambah, kali ini psikiater. Kondisi mentalnya kini sama buruk dengan kondisi tubuhnya. Padahal tubuhnya, bergantung kepada kondisi mentalnya. Seperti lingkaran setan yang tiada henti, mentalnya kena karena ia sakit dan sakitnya kambuh karena mentalnya kena. 

“Jangan stress, nanti kamu makin sakit,” kata dokter. Tetapi, siapa yang tak stress, ketika tubuhmu terasa mengkhianatimu. Setiap hari ia merasa berduka terhadap dirinya. Berduka atas versi dirinya yang sudah lama meninggalkannya. 

“Kamu harus bisa mengelola rasa sakitmu, bagaimana pun rasa sakit itu adanya di otak kok. Bagaimana pun kamu masih muda, tubuh kamu seharusnya bisa melawan kalau kamu yakin. Saya juga sudah resepkan obat penenang,” kata dokter.

“Sakit saya bukan di kepala saja saja, dok,” Yuni menolak. Bingung atas respon yang ia dapatkan dari seseorang yang seharusnya lebih memahami bahwa sakit, tak selalu terlihat.

“Saya nggak bilang sakit kamu hanya di kepala saja. Hanya saja, ini ‘kan kamu saja masih bisa aktivitas. Perempuan memang sakit kok setiap menstruasi, normal. Anak perempuan saya juga sering mengeluh sakit. Masih bisa ke sini, ketemu saya, berarti kamu masih baik-baik saja,” tutup dokter. Kata penutup itu menyadarkannya, apa yang tak terlihat dari luar, memang sulit untuk mendapatkan pehamahaman, apalagi ketika itu dialami perempuan.

Seumur hidupnya, Yuni selalu tahu bahwa ia harus selalu sehat. Ketika mengeluh sakit, ia akan dicap dramatis. Bolak-balik rumah sakit, Yuni bergumam, “sampai kapan ini? Aku harap tubuhku tak diabaikan lagi. Aku harap tubuh ini mendapatkan apa yang dibutuhkan.”

“PCOS kini telah berubah nama menjadi PMOS, kini ia diakui sebagai masalah metabolisme,” kata-kata tersebut membangunkan Yuni dari lamunannya.

“PMOS, Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome,” lanjutnya. “Sebelumnya diperiksa kembali pada rahim kamu tidak ditemukan kista ya, sehingga sebelumnya sulit untuk menentukan ini PCOS atau bukan walau gejalanya ada. Dari satu dokter dan dokter lain kadang ada beda pendapat. Sekarang meski tidak ditemukan kista, kondisimu tetap diakui. Dari dokter lama pernah diresepkan metformin ya untuk resistensi insulin?” kata demi kata yang keluar dari mulut dokter baru di depannya, masih berusaha ia cerna. Yuni sebelumnya terus berpindah dari satu dokter ke dokter lain sejak ia remaja.

“Untuk keluhan kamu seperti mudah lelah dan migraine, sakit kepala hebat, kemungkinan juga disebabkan PMOS. Kondisi ini tidak hanya berpengaruh kepada organ reproduksi saja tapi juga keseluruhan tubuh kamu. Lalu untuk rasa sakit saat menstruasi, mari kita periksa lebih jauh lagi, kemungkinan besar memang itu endometriosis. Kamu sudah melalui banyak hal. Datang lagi nanti,” tutup dokter.

Tubuhku mungkin bukan gagal, melainkan bekerja dalam mode bertahan hidup yang kacau.

Datang lagi nanti kali ini terasa berbeda. Yuni bisa merasakannya. Datang lagi nanti, kini dan ke depannya maknanya berbeda. Datang lagi nanti, bukan untuk diabaikan, bukan untuk disudahi sesegera mungkin dan dikesampingkan. Datang lagi nanti, untuk dicari tahu bersama, untuk didengar, untuk diakui, dan dipenuhi kebutuhannya.

***

Oleh Yuviniar Ekawati, penulis adalah lulusan kejurnalistikan dan seorang penulis lepas pada beberapa media massa yang memiliki fokus pada isu gender dan anak.

Unknown's avatar

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Datang Lagi Nanti

Leave a comment