Buka Layar

IDAHOBIT Menjadi Ruang Bersuara di Tengah Ketidakpastian

Tabumania, peringatan International Day Against Homophobia, Biphobia and Transphobia (IDAHOBIT) pada 17 Mei bisa menjadi ruang bagi komunitas LBTIQ+ untuk menyuarakan keresahan yang dirasakan. Apalagi dalam kondisi perekonomian dan politik yang tidak menentu saat ini.

Komunitas LBTIQ+ menjadi kelompok yang rentan dalam situasi perekonomian saat ini. Terjadi ketimpangan dalam mengakses lapangan pekerjaan. Belum lagi ekspresi gender membuat mereka rentan mengalami diskriminasi.

Kesulitan lapangan pekerjaan juga dialami teman-teman komunitas Bara Numbay yang ada di Jayapura. Salah satu teman dari Bara Numbay, Dalang menceritakan bagaimana kesulitan teman-teman memperoleh akses pekerjaan. Sebagian besar teman-temannya bekerja serabutan. Kebetulan mereka tinggal di lingkungan pasar. Sehingga mereka bisa bekerja apa saja, kadang menjadi tukang parkir atau kadang menjadi buruh angkat barang. Bahkan kalau tidak ada pekerjaan mereka memancing di mana ikannya dijual atau cukup untuk makan saja. 

Menurut Dalang di Jayapura teman-teman komunitas belum memperoleh ruang kerja yang lebih baik. Bahkan sekadar pelatihan atau peningkatan kapasitas pun belum ada. “Kami tidak punya akses untuk itu. Kami coba berjejaring dengan dinas sosial maupun lainnya tetapi habis di janji saja. Tidak ada akses pekerjaan maupun pelatihan sehingga upaya untuk memperbaiki ekonomi tidak ada.”jelasnya.

Ia juga menambahkan selama ini yang bisa dilakukan teman-temannya ketika bekerja setidaknya bisa dipakai untuk makan sehari dan memperoleh tempat tinggal yang layak. Selama ini kosan mereka hanya seadanya. Cukup untuk melindungi mereka dari panas. Karena saat hujan pun mereka kebanjiran. “Ketika bekerja setidaknya bisa buat makan dan bayar kos.”katanya.

Sementara itu Pen di Bali menceritakan kesehariannya untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dengan sebagai pekerja lepas maupun jualan-jualan seperti thrifting dan lainnya. “Belum cukup sebetulnya tapi aku bersyukur (ada sumber penghasilan yang dimiliki)”katanya.

Ia pun seringkali berkolaborasi dengan teman lain atau mencari sumber penghasilan alternatif. Agar uang bisa terus berputar. “Selain itu penting juga untuk menanam sayuran yang dibutuhkan untuk masak, agar bisa mengurangi kebutuhan belanja.”tambahnya.

Pen juga mengingatkan pentingnya bergabung dengan serikat kerja yang mungkin berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan. Menurutnya ini penting agar punya ruang untuk menyuarakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan misalnya terjadi praktik kerja yang tidak adil, upah dan lainnya. “Cari informasi apakah ada serikat kerja di daerah sekitarmu.”katanya.

MRA di Kediri memiliki pengalaman lain di pekerjaan yang dilakukannya yaitu usaha kopi. Usaha yang dijalankan di rumah dengan mengandalkan pesanan online dari layanan ojek daring. Usahanya ini dimulai sejak akhir 2023. Bisnisnya ini mengalami pasang surut dengan berbagai adaptasi yang dilakukan ketika menemui kesulitan-kesulitan di lapangan.

Awalnya dilakukan keliling menggunakan motor. Ia kesulitan mencari lapak untuk menjajakan kopinya. Ia harus berhadapan dengan para pedagang senior yang seringkali tidak bersedia tempat di sebelahnya diisi pedagang lain. Belum lagi preman-preman nakal yang minta nominal tertentu ketika ia menjajakan di suatu tempat. “Kalau kopi kita gak ada yang beli, mau dibayar pakai apa? Apalagi saat itu produk baru, perlu mengenalkan ke calon konsumen dan itu tidak mudah. Jadi, saat itu belum banyak yang mau beli produkku.”katanya.

Ia pun sering bernegosiasi dengan para preman tersebut. Mereka punya power dan sering memanfaatkannya untuk pedagang-pedagang yang baru merintis seperti dirinya. Kalau ia tidak membayar, ia tidak boleh berjualan di tempat itu. Ada kalanya ia diusir secara halus, dengan menempatkan pedagang lain di tempatnya. “Aku pun memutuskan untuk tidak jualan keliling, karena jalanan sangat kompetitif. The real kompetisi itu jualan di jalanan.”katanya.

Kemudian ia mencoba untuk menyewa tempat. Namun, karena Kediri sedang populernya pertumbuhan UMKM khususnya tempat ngopi sehingga banyak ditempatkan di wilayah strategis dengan sewa yang mahal. Sisanya ditempatkan di wilayah tidak strategis dengan sewa lumayan. “Aku dapat tempat, sebulan Rp350.000,00 hanya tempat aja, tanpa atap, tanpa listrik. Itu aku perlu mikirin kalau hujan gimana, kalau sampai malam gimana. Itu harga paling murah. Belum lagi wilayah gak strategis, aku perlu usaha lebih keras untuk mengenalkan produkku. Akhirnya aku putuskan buka di rumah saja mengandalkan aplikasi online.”katanya.

MRA pun menyampaikan keresahannya terkait pengelolaan keuangan. Ia mengatakan sejauh ini banyak temannya yang memiliki semangat untuk memiliki usaha sendiri. Karena memang ketika memiliki usaha sendiri, artinya tidak dikontrol orang lain. Tetapi menurutnya perlu juga memahami bagaimana mengelola keuangan.

“Ini kan bisa jadi malapetaka, hanya dengan modal pas-pasan, kita memaksakan diri. Kemudian terjun membuka usaha tapi ketika usaha sudah berjalan seramai apapun, ketika teman-teman tidak bisa mengelola keuangan dengan baik bisa menjadi bumerang. Jadi, menurutku sangat penting adanya peningkatan kapasitas tentang pengelolaan keuangan. Orang seringkali mengatakan jangan lupa menabung. Tetapi mereka lupa bagaimana cara teman-teman menabung kalau pendapatan yang mereka dapatkan sebagai pekerja, misalnya serabutan, sana-sini dikerjain yang penting dapat duit, hari ini bisa makan. Gimana cara mereka menabung? Untuk menyisihkan sekian persen dari pendapatan mereka.”katanya.

IDAHOBIT sebagai ruang bersuara

Meskipun menemui kendala perekonomian sehari-hari yang menempatkan komunitas LBTIQ+ rentan. Di tengah situasi tersebut IDAHOBIT tidak hanya hadir sebagai sekadar peringatan tahunan, tetapi menjadi ruang untuk bersuara. Membagikan pengalaman yang dimiliki dan membangun solidaritas.

Ketiga teman yang ditemui redaksi Qbukatabu melalui telepon tersebut mengungkapkan bahwa IDAHOBIT bisa menjadi ruang untuk menyuarakan hak-hak komunitas. Menurut Dalang banyak suara-suara kecil kecil yang ingin disampaikan dari teman-teman translaki-laki di Jayapura. “Setiap daerah pasti punya tantangan masing-masing. Setidaknya bisa menjadi teman bersolidaritas dan bercerita di manapun berada.”harapnya.

Sementara Pen menyampaikan dalam kondisi ekonomi politik saat ini ia melihat semakin meningkat kesadaran tentang IDAHOBIT. “Aku melihat adanya kesadaran dengan mulai adanya pertanyaan-pertanyaan kecil misalnya apa itu IDAHOBIT di kalangan teman-teman komunitas. Bahkan ada seorang teman yang berencana mengadakan diskusi SOGIESC di tempat kerjanya untuk membangun kesadaran. Aku pun berharap makin banyak komunitas yang menyuarakan hak-hak teman-teman dalam IDAHOBIT tahun ini.”katanya.

Pun MRA juga sepakat bahwa IDAHOBIT bisa menjadi ruang menyuarakan hak-hak LBTIQ+. Selama ini teman-teman transgender seringkali memperoleh diskriminasi. Apalagi dari segi ekspresi kelihatan, terutama teman-teman yang belum menjalani terapi hormon. Itu juga menjadi kendala dirinya ketika berinteraksi dengan konsumennya. 

Selama ini ia tidak begitu terbuka dengan identitasnya. “Terutama ketika aku gak pakai hormon (terapi hormon) sangat besar pengaruhnya pada bentuk pinggulku. Ketika berinteraksi dengan konsumen itu tantangannya bagaimana mengenalkan produk. Kan mereka beli produk bukan fokus di aku. Kadang ada beberapa konsumen yang ngliatin, tapi gak berani ngomong. Ya aku yang penting melayani saja.”katanya.

Ia pun berharap pada IDAHOBIT tahun ini bagaimana kita bisa melawan struktur perekonomian yang rentan saat ini hanya dikuasai orang-orang tertentu. Dan orang itu kebanyakan heteroseksual. “Aku berharap teman-teman hetero ikut turut melihat ekonomi teman-teman LBTIQ+, begitupun teman-teman LBTIQ+ melihat mereka juga. Jadi kita sama-sama berkaca gitu. Dengan hanya kita merasa kita yang paling terpuruk. Kadang kita lupa kadang orang lain juga terpuruk. Sama-sama terpuruk ayuk sama-sama bareng. Ada sistem yang harus diubah. Mengerucutnya ya kepada solidaritas bersama.”tandasnya. 

0 comments on “IDAHOBIT Menjadi Ruang Bersuara di Tengah Ketidakpastian

Leave a comment