Buka Layar

Teori Trans-Queers dalam Praktik Keagamaan Inklusif-Berkeadilan

Masih banyak ketidakadilan gender, kekerasan berbasis gender, konservatisme dan radikalisme agama terjadi dan menjadi berita utama media serta viral di media sosial. Banyak berita yang menyebutkan kekerasan seksual terjadi di berbagai ruang sosial bahkan di lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan keagamaan. Korbannya adalah anak-anak perempuan.

Pada Kamis 2 Februari 2023, Inayah Rohmaniyah menyampaikan pidato pengukuhan guru besarnya di bidang sosiologi agama dengan judul Trans-Queers sebagai Basis Epistem Pemahaman dan Praktik Keagamaan Inklusif-Berkeadilan (Belajar dari Studi Gender Kontemporer). Pidato ini bisa Tabumania lihat juga di channel Youtube.

Dalam pidatonya, Inayah menegaskan bahwa agama yang diharapkan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan ternyata justru dalam batas tertentu menjadi sumber kebingungan. Hal ini disebabkan karena tidak mencerdaskan dan tidak lagi relevan dengan realitas kehidupan. Bahkan, banyak orang mencari jawaban terhadap rasa ingin tahu mereka tentang agama. Namun, mereka terpapar pembelajaran agama di media sosial yang cenderung sempit, konservatif, dan tidak menunjukkan wajah agama penuh rahmah dan ramah terhadap semesta.

Menurutnya penting untuk menghadirkan teori yang bisa dijadikan bahan rujukan dan dapat diturunkan dalam praksis kehidupan. Paradigma trans-queer sebagai pengembangan kajian gender kontemporer dan seksualitas maupun masyarakat multi-identitas adalah kuncinya. Pengembangan kajian tersebut bertujuan mengungkap dominasi dan persekusi terhadap pengetahuan dan suara kelompok-kelompok yang dipinggirkan, termasuk perempuan.

Ia menjelaskan seks dan gender seringkali menjadi titik berangkat para pengkaji dan penggerak kesetaraan gender untuk menarik garis pemisah perbedaan antara sesuatu yang diidentifikasi sebagai taken for granted (sesuatu yang tidak dihargai keberadaannya karena sudah dianggap wajar). Selain itu seks dan gender juga dikatakan sebagai sesuatu yang merupakan hasil kontruksi sosial. Kata seks memiliki arti ganda, pertama merujuk pada orang perempuan atau laki-laki dan kedua, menunjukkan perilaku (tindakan seks). Lalu istilah gender merujuk pada konstruksi sosial tentang perbedaan laki-laki dan perempuan.

Seksualitas berbeda dengan seks dan gender meskipun ketiganya saling berkaitan. Seksualitas merupakan konstruksi subyektif tentang pengetahuan, norma, dan perilaku yang erat dengan sistem pengetahuan. Sebagai hasil konstruksi, pandangan, norma dan praktik seseorang atau komunitas terkait seksualitas tentu bersifat relatif. Ia bisa berubah dan berbeda dalam ruang dan waktu serta situasi berbeda. Sayangnya, gender dan seksualitas sebagai konstruksi sosial seringkali mengalami pelembagaan dan diterima sebagai kebenaran yang diwariskan lintas generasi. Lebih memprihatinkan lagi, konstruksi gender dan seksualitas mainstream, mengalami pelembagaan serta pelanggengan ini adalah konstruksi yang patriarki dan diskriminatif terhadap gender tertentu. Patriarki merupakan sistem sosial yang tidak adil. Patriarki mensubordinasikan, mendiskriminasikan, atau opresif terhadap perempuan. Patriarki mencakup berbagai aspek yang kompleks baik pengetahuan atau paradigma, norma, praktik dan mekanisme sosio-politis yang mereproduksi dan menerapkan dominasi laki-laki atas perempuan.

Inayah menempatkan teori queer sebagai metode untuk membongkar norma-norma tradisional yang bias gender, seks maupun seksualitas yang patriarki. Berbagai norma tersebut diskriminatif terhadap gender dan identitas gender atau seksualitas tertentu. Istilah queer yang ia gunakan merujuk pada pengertiannya yang secara integral mencakup perspektif feminis. Sebagai sebuah pendekatan kritis, bangunan dasar teori queer adalah anti-normativitas atau selalu mempertanyakan dominasi norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Inayah menggambarkan bahwa teori queer bekerja dalam ruang pemahaman keagamaan Islam, terutama terkait pemahaman gender, seks, dan seksualitas, dalam wacana maupun praktik. Epistemologi queer diperlukan karena perbedaan dan keberagaman menjadi realitas yang tidak dapat dielakkan. Ia mengatakan semua manusia itu berbeda, dan perbedaan membawa konsekuensi pada keunikan mulai dari cara berfikir hingga cara representasi.

Sementara itu teori trans yang dimaksud Inayah adalah mengambil arti diksi trans dalam kamus Merriam-Webstren. Trans artinya melampaui atau ke sisi lain. Ia menyebutkan konsep transdisiplin. Tidak mudah memberikan contoh konkrit peleburan disiplin dalam bentuk teori baru sebagaimana yang diinginkan paradigma (konsep dasar) transdisiplin. Itulah mengapa menurutnya, mekanisme sebuah perubahan sosial membutuhkan teori queer yang transgresif dan berorientasi pada praksis-etis. Ia menyebutnya sebagai teori trans-queer.

Trans-queer menunjukkan perpaduan ranah epistemologis (teori pengetahuan) dan aksiologis (teori tentang nilai) yang ditandai perwujudannya dalam ranah praksis. Pada ranah epistemologis, diksi queer mengandaikan upaya mempertanyakan ulang norma-norma yang ada, terutama norma-norma yang mendiskriminasi dan menghambat gender tertentu.

Lalu konsep perubahan dalam konteks paradigma Trans-queer menunjukkan sebuah proses ketergantungan seseorang atau kelompok (identitas, eksistensi, keberlanjutan) pada hubungannya dengan identitas dan eksistensi yang lain. Selain itu identitas dominan didefinisikan bersama (bukan hanya oleh kelompok dominan atau yang berkuasa). Trans menjadi langkah dalam proses membangun norma dan etika yang inklusif. Ia menjadi rujukan dalam mewujudkan tindakan berkeadilan, penuh respek dan terbuka bagi perubahan yang lebih baik.

Ia juga menguraikan istilah queer feminism yang selalu mempertanyakan kemapanan sebuah perubahan, yang memberikan ruang pada semua identitas termasuk mereka yang terpinggirkan. Sedangkan istilah trans digunakan untuk menunjukkan bahwa bangunan ini (queer feminism) melampaui wacana. Namun, ia sampai pada praktik yang menjadi bukti adanya wacana idealis tentang keadilan dan inklusivitas.

Ia mencontohkan gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) sebagai gerakan yang menerapkan teori Trans-Queer dalam ruang agama, gender, dan seksualitas. Menurutnya, gerakan KUPI dapat dijadikan contoh nalar dan praktik trans-queer. Gerakan KUPI menggambarkan paradigma trans-queer beroperasi hingga ke ranah etis dan praktik. Jaringan KUPI hadir sebagai respons terhadap struktur dan kultur patriarki serta dominasi maskulin dalam lembaga dan praktik keagamaan masyarakat.

Teori baru yang disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar Inayah Rohmaniyah mungkin menjadi hal baru bagi Tabumania. Tentu kita berharap bisa pengetahuan tersebut bisa benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sosial keagamaan.

0 comments on “Teori Trans-Queers dalam Praktik Keagamaan Inklusif-Berkeadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: