Buka Layar

Cintai Diri dan Hidupmu

Ya, hidup ini milik kita, kita yang tahu, hidup seperti apa dan bagaimana yang mau kita jalani. Kita yang menentukan apakah ini membuatku bahagia? Atau apakah ini yang membuat mereka bahagia?

Pada Sabtu, 5 November 2022, dengan mengendarai sepeda motor dari Bogor, aku bersama pasanganku datang ke Jakarta menghadiri undangan dari Kak Edith Qbukatabu yang juga penulis dan penggerak queer. Undangan ini kudapat melalui salah satu temanku di Jakarta, yaitu Kak Annod, seorang aktivis gerakan. Dia adalah salah satu mentorku. Perjalanan santai dari Bogor menuju tempat acara tersebut memakan waktu kurang lebih 2 jam, diiringi suasana langit mendung dan sayup-sayup suara gemuruh menandakan hujan akan turun seakan tidak merestui kedatangan kami ke kota Jakarta.

Setibanya di tempat tersebut, kami diminta mengisi formulir pendaftaran festival film karena kami belum pernah menghadiri acara tersebut. Dengan menggunakan handphone salah satu panitia, karena saat itu handphone-ku sedang rusak, malu-malu aku meminjam handphone-nya dan mengabaikan rasa malu yang muncul.

Ttaarrraaa!

Pendaftaran berhasil dan tiket pun kupegang. Dengan wajah sumringah aku dan pasanganku menaiki tangga menuju lantai dua. Alasanku datang ke acara tersebut adalah selain karena menerima undangan, juga untuk menambah pengalaman dan melihat narasumber yang hadir, dan salah satunya teman lama yang sudah kukenal.

Sesampainya di lantai dua, aku melihat seorang laki-laki berkacamata duduk di depan meja sembari memainkan handphone. “Ini kayanya tiketnya dikasihin kesini?” kataku dalam hati. Belum sempat pertanyaan itu keluar dari mulutku, seorang perempuan menegur kami, “Halo, silahkan Kak. Acaranya di sana ya.” Ia menunjuk kursi-kursi yang sudah berbaris rapi.

Kami masuk dan aku lihat Kak Edith sedang bersandar di tembok sambil berbincang dengan teman-temannya, yang tentunya wajah-wajah baru dan asing untukku. “Itu Kak Edith.” ucapku pada Kak Annod. Kami menghampirinya, bersalaman dan berbincang. “Ini tiketnya dikasih kemana ya?” tanya Kak Annod. “Oh simpan aja, ini kan teman-teman belum pernah menghadiri festival film, jadi ini buat daftar aja. Nanti kalau ada undangan acara festival film lagi, teman-teman nggak usah daftar lagi. Jadi daftarnya sekali ini aja.” ucapnya. Setelah itu kami melakukan obrolan kecil sembari menunggu acara dimulai.

Kami mengambil posisi kursi baris kedua dari depan, duduk dibaris paling depan sepertinya membuat rasa percaya diriku ambruk, walaupun sebenarnya duduk di depan membuat fokus kami lebih maksimal. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mengobrol sambil berdiri, ada yang bersandar ke tembok. Ada yang berkerumun di depan meja yang berisi setumpuk buku. Ada juga yang sibuk membenahi mikrofon dan kursi-kursi untuk moderator dan pembicara lainnya.

Tidak berapa lama kemudian acara pun berlangsung, diawali dengan pembukaan moderator, Putri Minangsari dengan memperkenalkan sejarah berdirinya Qbukatabu. Lalu, dilanjutkan dengan pemutaran cuplikan-cuplikan dari beberapa kisah yang ditulis dibuku Cerita Sehari-Hari Diri dan Semua yang Mengitari (CSSM). Yulia Dwi Andriyanti (Edith, nama panggilannya) membacakan tulisannya di buku CSSM. Acara berlanjut dengan diskusi yang dihadiri narasumber yang cerita atau kisah hidupnya tertulis di buku CSSM, seperti Ajeng Kartika Dzhievie, Bhete, dan Zevan Nugraha. Masing-masing narasumber memiliki jalan cerita yang berbeda dan permasalahan yang berbeda. Setelah diskusi dan tanya jawab, pembacaan kembali oleh Ayunita Xiao Wei dan R. Miyano. Diskusi ditutup dengan tayangan film pendek dari kisah Vica Larasati. Setelahnya, beberapa teman-teman membeli buku CSSM, termasuk aku.

Aku membeli buku CSSM menggunakan dana dari komunitas, karena nantinya buku tersebut akan dipajang di kantor komunitas dan bisa dipinjam oleh teman-teman yang ingin membaca.

Sesuatu hal baru yang menyenangkan karena bertemu dan mendengar cerita orang lain yang menurutku sangat unik dan menarik. Bercerita pengalaman hidup yang tidak mudah dan sangat berat dibagikan adalah tantangan yang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukan hal hebat itu. Dengan begitu aku menyadari bahwa di luar sana sangat tidak terhitung berapa puluh juta manusia sepertiku yang memiliki persoalan bahkan mengalami trauma yang sangat berat, hanya karena menurut sebagian orang pilihan ini berbeda.

Mengharukan perjuangan para penulis melewati masa traumatik, yang mungkin mereka melewati fase itu seorang diri. Aku sangat bersyukur dapat menghadiri acara ini karena dengan begitu aku mengetahui bahwa ada tempat dan media untuk orang-orang seperti aku agar bisa berkembang menjadi seseorang yang lebih baik secara mental dan psikis. Tidak ada alasan untuk tidak bisa mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan positif terlepas dari gender dan orientasi seksual.
Seperti peristiwa yang kualami bersama pasanganku. Di daerah kosan kami dulu, terjadi pengusiran besar yang mengharuskan semua orang berambut pendek atau cepak pergi karena salah satu istri dari warga setempat diketahui memiliki hubungan sesama jenis dengan orang perantauan. Peristiwa tersebut sangat membekas dan menaruh trauma hebat hingga kami memutuskan menjauh dari dunia pelangi. Tetapi Tuhan berkehendak lain, kami bertemu Kak Annod. Kami saling bercerita, bertemu orang dan lingkungan baru, berkomunitas, belajar ini dan itu. Semua hal dilakukan untuk mengobati trauma itu. Akhirnya kami berani untuk berdiri berjalan dan memulai karya. Tidak harus menjadi seperti aku atau mereka untuk bisa mengembangkan diri, cukup menjadi diri sendiri dan mampu berdamai dengan diri sendiri.

Ada satu cerita yang menarik perhatianku dari diskusi buku CSSM, yaitu mengenai transcouple, dimana transpuan menjalin hubungan dengan transman. Ini adalah sesuatu yang tabu, bukan hanya bagiku tapi mungkin bagi sebagian teman-teman lain, walaupun salah satu pasangan tersebut adalah kawan lamaku, yang bertahun-tahun tidak jumpa. Tetap saja itu menjadi sesuatu yang baru. Pasti ada banyak sekali cerita dan juga perjuangan besar dalam menjalin dan menjalankan hubungan sebagai transcouple. Dari situ aku tertarik membaca lebih jauh kisah cinta transcouple di buku CSSM yang ditulis dan diceritakan Ajeng Kartika Dzhivie.

Ajeng adalah tokoh utama di tulisan ini, seorang transpuan. Dia memahami dan mengilhami bahwa “cinta adalah cinta tanpa memandang siapa dan apa SOGIESCnya” (hal 103). Tetapi tidak dengan orang-orang disekitarnya yang mempunyai tanda tanya besar dan sangat terheran-heran dengan hubungan asmara yang dijalin Ajeng. Bahkan Ajeng sendiri tidak tahu dan tidak ingat sejak kapan dia jatuh cinta, tertarik dan akhirnya melabuhkan hati pada seorang transman yaitu pasangannya (hal 104)
“Aku merasa berbeda dari teman-teman transpuanku“ (hal 105). Ajeng merasa berbeda karena dia tertarik dengan seorang transman, hubungan yang mungkin tidak semua teman-teman transpuan mau menerima, menjadi bahan bully, bahkan hal baru dikalangan teman-teman trans lainnya. Salah satu kakak tertuanya berkata “Lagian lo tuh ya dik, sudah bener kemarin pacaran sama cowok, ngapain lo pacaran sama lesbian? Sudah tau dia doyannya cewek” (hal 111), “lagian kalo lo mau sama cewek ngapain jadi transpuan? Mendingan lo laki saja. Cari cewek yang bener” (hal 111) “apa enaknya sih pacaran sesama trans?” atau “bagaimana sih caranya trans ML?” (hal 108).

Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang tidak seharusnya dari orang-orang terdekatnya, tentu sangat menyakiti Ajeng. Pada masa itu, Ajeng membenci dirinya sendiri, membenci pasangannya hingga berujung saling menyakiti.

Akan selalu ada rintangan dan halangan di setiap perjalanan cinta. Hubungan asmara yang dilihat berbeda akan melahirkan banyak komentar, mulai dari pujian hingga ledekan. Ajeng menceritakan bahwa awalnya dia biasa saja dengan semua komentar itu tetapi lama kelamaan membuatnya lelah dan terganggu (hal 108). Komunitas yang harusnya menjadi tempatnya bernaung tetapi membuatnya malas dan menjauhi komunitas. Hampir satu tahun ia bersembunyi dibalik teori, materi dan gengsi (hal 112). Bukan hanya Ajeng yang terdampak dari komentar-komentar negatif, pasangannya pun merasakan dampak buruk terhadap diri lingkungan kerjanya, seperti perundungan, intimidasi diikuti dengan tindakan merendahkan bahkan melecehkan dari atasan perusahaan (hal 109).

Tulisan ini memuat pesan yang mendalam: apapun orientasi seksualmu, apapun gendermu, kepada siapa pun kamu tertarik, menyayangi dan mencintai, jalani saja. “Kebahagiaanku adalah tanggung jawabku, aku tak bisa menaruh kebahagiaanku pada orang lain”, “hidup ini terlalu singkat dan cepat untuk membiarkan orang lain mengatur hidupmu” (hal 113). Ya, hidup ini milik kita, kita yang tahu, hidup seperti apa dan bagaimana yang mau kita jalani. Kita yang menentukan apakah ini membuatku bahagia? Atau apakah ini yang membuat mereka bahagia?

Membaca tulisan Ajeng membuat aku merasa bahwa dunia ini luas. Masih banyak hal yang harus kita ketahui agar kita paham bahwa tidak serta merta bahagia itu mengenai apa yang mereka inginkan, apa yang keluarga kita inginkan, apa yang lingkungan inginkan. Tetapi mengenai apa yang baik untuk hidup kita tanpa ada yang merasa dirugikan.

Aku berharap besar ke depannya akan ada banyak media yang menjadi wadah bagi teman-teman mengekspresikan gagasan, ide dan pikiran secara berkala dan efektif. Media seperti inilah yang dapat menjadi sarana pembelajaran agar teman-teman sepertiku, terlepas dari gender maupun orientasi seksualnya, dapat mengetahui dunia ini tidak hanya warna hitam dan putih tetapi ada warna pelangi yang begitu indah.

Artikel ini ditulis oleh Maura.

Maura, anggota dari salah satu komunitas dengan latar belakang buruh dan pedagang. Lahir di Tasikmalaya, besar di Jakarta. Pecinta hewan. Penyuka makanan pedas.

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

3 comments on “Cintai Diri dan Hidupmu

  1. Semangat… ☺️😊👍

    Like

  2. Gudjob 👍🏽 MauRa

    Like

  3. Wah.. Semangat!!😊😊☺️

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: