Buka Cerita

Damai bagi Herga, Translaki-laki dari Palangkaraya

“Damai itu tidak ada hal-hal yang negatif masuk dalam pikiran dan hati akibat rasa takut, ancaman dan tekanan dari lingkungan sekitar dan masyarakat. (Hal-hal negatif) ini membuat kami akhirnya lebih baik tidak bergaul sama sekali. Daripada kami kehilangan pekerjaan, atau kami diusir dari pemukiman tempat kami tinggal.”

Aku adalah warga masyarakat yang tinggal di kota Palangkaraya. Namaku Herga Ragellber. Sebagai seorang translaki-laki aku cukup bisa merasakan tantangan yang harus aku hadapi dan teman-teman translaki-laki yang lain hadapi. Pergaulan, lingkungan kerja, keluarga dan lingkungan masyarakat masih memandang sisi lain dari aku dan teman-teman dengan sebelah mata. Dari pengalaman pribadiku, dalam pergaulan sama-sama mendapat pandangan negatif baik dari komunitas sendiri maupun dari mereka yang berorientasi heteroseksual.

Di kota Palangkaraya, dalam komunitas pun masih mengkotak-kotakan diri antara buchi dan translaki-laki, dalam artian membeda-bedakan dalam hal pergaulan. Sebagian teman-teman dalam komunitas menganggap aku dan teman translaki-laki yang lain adalah orang-orang yang melanggar kodrat manusia. Karena dari segi penampilan aku dan teman translaki-laki lebih maskulin, dengan kata lain seorang translaki-laki berpenampilan gagah, mulai dari cara berpakaian, dada lebar dan membusung, badan tegap, dada yang terlihat rata, gaya rambut cepak dan sikap yang lebih pendiam daripada teman-teman yang menganggap diri mereka seorang buchi. Mereka menganggap seorang buchi jauh lebih aman daripada seorang translaki-laki yang lebih kentara dalam penampilan dan sikap. Sebagian buchi memiliki postur tubuh seperti ‘layaknya’ perempuan feminim, memiliki payudara yang menonjol, ada yang rambut panjang dan ada juga yang berambut pendek.

Salah satu teman buchi pernah bicara seperti ini “Buat apa penggunaan hormon, binder dan berusaha terlihat maskulin di hadapan orang dan masyarakat. Toh orang-orang juga sudah tau pasti kalau kamu itu perempuan. Lebih baik apa adanya sajalah, daripada repot-repot harus mengubah yang sudah menjadi ciptaan Tuhan.” Kalimat tersebut tidak hanya berasal dari satu orang, bahkan dari teman-teman femme dan andro sependapat dengan perkataannya.

Tantangan dalam pergaulan aku alami dengan mereka yang memiliki orientasi heteroseksual tidak kalah peliknya. Ketika sedang berkumpul dengan teman-teman heteroseksual mereka sengaja membahas penampilan, caraku bicara dan postur tubuhku. Salah satu dari mereka ada yang bicara “Her, kamu kan perempuan harusnya berpakaian selayaknya seorang perempuan dong… Masa perempuan rambutnya cepak, suara ngebas kayak suara laki-laki, postur badan jalannya juga kayak laki-laki. Kamu itu kan perempuan yaa harusnya bersikap dan berpenampilan seperti perempuan lah… Kembali ke kodrat awal.”

Hal ini cukup membuat batin aku merasa tidak enak dan aku merasa di lecehkan juga dengan perkataan mereka begini:
“Dadamu kok rata Her? Sebenarnya kamu punya payudara atau tidak?”
“Kamu tidak punya pakaian perempuan Her di rumah?”
“Her, coba dong rambutmu dipanjangin pasti kamu cantik banget.”
Bagiku kalimat-kalimat seperti itu sifatnya merendahkan harga diriku sebagai translaki-laki.

Selalu ada kritikan yang mereka jadikan sebagai bahan candaan dan olok-olokan. Tidak semua dari mereka yang merendahkan, hanya saja aku kurang suka mereka mengatakan hal demikian “Her, suatu saat aku harap kamu bisa berubah, kembali ke kodrat awalmu.” Kalimat-kalimat tersebut bagiku sangat mengganggu pikiran dan mentalku awalnya. Lama kelamaan aku terbiasa, tetapi tetap saja aku tidak suka.

Aku juga punya pengalaman di lingkungan kerja di kantorku, bahkan pengalaman dari satu orang ke orang yang lain di kantor tersebut berbeda-beda. Sampai kadang ada rasa enggan untuk menjawab pertanyaan mereka yang aku rasa itu bukanlah pertanyaan yang pantas untuk dipertanyakan oleh sesama rekan kerja yang bekerja di lingkungan pemerintahan.

Ada salah satu atasan laki-laki divisi di kantor tersebut pernah bertanya begini denganku “Her, kamu itu perempuan atau laki-laki? Aku ini kan baru saja dipindahkan dari kantor lain dan bertugas di kantor ini, jadi aku melihatmu setiap hari ini masih bingung kamu laki-laki atau perempuan.” Dengan perasaan emosi dan jengkel aku menjawab pertanyaan beliau “panggil saja aku Herga pak.”

Kemudian dia bertanya lagi “baiklah Herga, tapi aku benar-benar masih penasaran dengan kamu ini laki-laki atau perempuan?” Hal itu cukup membuat perasaan tidak nyaman yang aku rasakan itu sangat menganggu pikiranku. Dan akhirnya aku hanya menjawab pertanyaan berikutnya dengan tersenyum simpul saja. Lalu kembali dia berkata dengan rekan-rekannya “Oke, dia tersenyum berarti dia perempuan.”

Apakah harus sebuah status atau gender seseorang diketahui sedetail itu? Bukankah mengenal namaku saja mereka sudah bisa memanggilku dengan nama Herga? Apa mereka merasa belum cukup puas dengan rasa penasaran dalam benak mereka?

Dan hal itu membuatku kurang merespon apapun yang dibincangkan oleh rekan-rekan di kantor mengenai privasi hidupku. Kemudian ada juga yang mengkritik sepatu dan pakaian yang aku kenakan. Kata mereka pakaian yang aku kenakan adalah pakaian model laki-laki, kalau model pakaian perempuan ada lekukan pinggangnya sedangkan pakaian dinasku tidak seperti itu. Ada juga yang mengkritik sepatu yang aku kenakan, karena aku mengenakan sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH) vantopel laki-laki dan tidak mengenakan sepatu PDH vantopel perempuan. Ya, aku katakan aku nyaman mengenakannya dan sepatu tersebut tidak melukai kakiku. Tetapi tetap hal itu menjadi bahan candaan mereka, yang aku tidak suka mendengarnya. 

Salah satu temanku translaki-laki pernah bercerita pengalamannya di lingkungan keluarga dan lingkungan tempatnya bekerja. Sebut saja namanya Roy. Roy berasal dari keluarga yang saat taat pada agama dan mereka sangat menentang pilihan hidup yang dijalani oleh Roy. Roy dibuang oleh keluarganya, tidak diakui saudara dan anak oleh kedua orangtua adik dan kakaknya.

Di tempatnya bekerja pun, dia mengalami kekerasan seksual. Dia dikatai bencong, diintimidasi, dikucilkan dan dilecehkan secara seksual – dadanya di pegang oleh satu rekan kerjanya untuk memastikan dia adalah seorang laki-laki bukan seorang perempuan. Roy juga mengalami tekanan mental yaitu diremehkan karena Roy memiliki pasangan. Rekan kerjanya berusaha memisahkan dia dari pasangannya dengan alasan menyadarkan pasangannya bahwa Roy adalah seorang perempuan berdada rata. Roy diolok-olok karena dia sebagai translaki-laki yang ingin terlihat maskulin padahal jenis kelaminnya perempuan.

Damai bagi sebagian orang menilai bahwa tidak ada keributan, perkelahian atau perdebatan-perdebatan yang dianggap penting padahal sama sekali tidak penting. Tetapi bagiku damai adalah dimana aku dan teman-teman sebagai seorang translaki-laki bisa mengekspresikan dan mengapresiasi sesuatu yang bisa kami berikan dan lakukan. Kami sebagai seorang taranslaki-laki juga memperhatikan mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang untuk dilakukan dan itu juga berlaku bagi warga masyarakat yang lain serta tidak mengidentifikasikannya hanya kepada kami.

Salah satu bentuk ekspresi dan apresiasi yang kami berikan yaitu dengan berpatisipasi dalam pawai karnaval atau pawai adat budaya kota Palangkaraya pada tanggal 17 Mei 2022 yang berpusat dari bundaran besar kota Palangkaraya. Bendera pelangi tidak dicekal dan para perserta lomba pawai tidak menjadi korban kekerasan akibat ketidaksukaan beberapa oknum terhadap kami translaki-laki.

Bagiku pribadi, makna damai adalah suatu ruang dimana tidak ada hal-hal yang negatif masuk dalam pikiran dan hati akibat rasa takut, ancaman dan tekanan dari lingkungan sekitar dan masyarakat. Damai berarti dapat meluapkan sesuatu yang terpendam dalam hati, tanpa adanya intimidasi dan pandangan dari sekelompok orang yang mengerucut kepada sudut pandang negatif yang kemudian akan membuat sudut pandang orang lain ikut berpikir negatif dan buruk kepada kami sebagai seorang translaki-laki.

Harapanku kepada kalian semua, bisakah tidak memandang aku dan teman-teman translaki-laki sebagai sesuatu yang salah, masalah dan disingkirkan di masyarakat? Apakah kalian bisa tidak menilai kami dari sudut pandang yang negatif? Jika kalian menganggap seorang translaki-laki sebagai hal yang negatif, hal itu akan mempengaruhi pola pikir kami. Nantinya setiap orang yang ingin mengenal kami, kami akan menganggap sebagai suatu ancaman dan membuat kami akhirnya lebih baik tidak bergaul sama sekali. Daripada kami kehilangan pekerjaan, atau diusir dari pemukiman tempat tinggal.

Artikel ini ditulis oleh Herga.

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

2 comments on “Damai bagi Herga, Translaki-laki dari Palangkaraya

  1. Terima kasih banyak Kak Herga atas sharingnya. Saya seorang nonbinary FTM merasa lebih lega dan merasa tidak sendiri setelah membaca cerita Kak Herga ini. Doa saya agar Kak Herga dan teman-teman translaki-laki semuanya tetap selalu aman dan sehat di manapun dan kapanpun tanpa diskriminasi dan ancaman apapun.

    Liked by 1 person

  2. Herga Ragellber

    Amin.
    Terima kasih banyak Carlos, telah membaca artikel ini.
    Harapanmu adalah harapanku dan harapan kita semua sebagai komunitas yang minoritas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: