Buka Layar

Benarkah Bali Ramah LGBT?

Tabumania mungkin mengikuti berita yang sempet bikin heboh di kalangan warganet Indonesia. Berita tentang warga negara Amerika Serikat bernama Kristen Grey. Mbak Kristen ini menuai tanggapan negatif dari warganet Indonesia akibat twit-nya yang viral tentang pengalamannya tinggal di Bali.

Melalui utasnya di akun Twitter @kristentootie, ia mengaku pindah ke Bali bersama pasangannya bernama Saundra Alexander pada 2019 setelah kehilangan pekerjaan. Semula, ia akan tinggal di Bali selama enam bulan, namun pandemi membuat ia tak bisa kembali ke AS. Ia mengatakan Bali merupakan tempat yang ramah bagi queer. Selama di Bali, ia mengaku menikmati hidup serba murah dibandingkan di AS. Ia mengajak Warga Negara Asing (WNA) mengikuti jejaknya selama di Bali. Ia membagikan cara memasuki Bali di masa pandemi Covid-19 dan cara-cara yang diperlukan selama tinggal di Bali dalam e-book berjudul Our Bali Live is Yours yang dijual seharga 30 dollar AS. Pandemi belum mereda dan apabila ada WNA yang mengikuti jejak Kristen ke Bali maka masuknya WNA tersebut dianggap tidak tepat. Hal-hal inilah yang membuatnya dikecam warganet. Cuitan mengajak WNA untuk ke Bali saat pandemi bertentangan dengan Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Dalam Masa Pandemi Covid-19. Kantor Wilayah Kemenkumham Bali kemudian mendeportasi keduanya karena menyebarkan informasi yang dianggap meresahkan masyarakat.

Bali dan LGBT

Pengalaman Kristen Grey yang mengatakan Bali ramah bagi queer mendorong Redaksi Qbukatabu mencari tahu benarkah Bali menjadi surga bagi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT)? Ketika Redaksi Qbukatabu mencoba mengetikkan kata kunci “bali lgbt friendly”, ditemukan sebanyak 750.000 hasil sedangkan ketika diketikkan “bali ramah lgbt” ditemukan sebanyak 139.000 hasil. Hasil penelusuran tersebut mengindikasikan banyaknya sumber atau website yang memuat tentang Bali sebagai tempat yang ramah bagi LGBT.

cnnindonesia.com menuliskan agen travel OutofOffice yang berlokasi di Inggris menyebutkan Seminyak, Bali ramah bagi LGBT. Keramahan yang dimaksud meliputi amenitas (ketersediaan fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan) di daerah wisata, mulai penginapan hingga tempat makan. Sementara itu, website www.lonelyplanet.com/ menyebutkan Bali sebagai tempat yang populer bagi pelancong LGBT. Selain Seminyak, website ini menyebutkan Bali Selatan dan Ubud sebagai tempat populer bagi wisatawan LGBT. Situs web TravelGay.com juga turut menyantumkan Seminyak sebagai destinasi andalan. Sementara TripAdvisor.com pada kolom “Klub & Bar Gay di Bali” menyebut Bali Joe Bar dan Mixwell Bar yang terletak di Seminyak sebagai rekomendasi bagi wisatawan LGBT.

Windy Wijaya dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bali International, Denpasar pada 2018 membuat penelitian tentang Persepsi Masyarakat Lokal terhadap Peran Komunitas LGBT dalam Mendukung Pariwisata di Bali – Studi Kasus di Kelurahan Seminyak, Kuta. Dalam penelitian tersebut, Windy mengatakan bahwa peran komunitas LGBT telah memberikan dampak positif dalam mendongkrak pariwisata Bali. Hal ini dikarenakan wisatawan LGBT mendatangkan teman-teman sesama LGBT ke Bali untuk bersosialisasi langsung. Komunitas LGBT di Bali juga sering membuat sebuah event ataupun acara dalam menarik pengunjung datang ke sebuah acara pertunjukan yang sering mereka selenggarakan, seperti event Drag Queen dan lain-lain (2018, hal 4-5).

Dalam penelitiannya tersebut Windy menjelaskan keberadaan wisatawan LGBT yang mampu meningkatkan pariwisata di Bali. Hal ini dapat dilihat dari adanya wisatawan-wisatawan yang datang mengunjungi klub-klub di Bali. Setelah melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat di daerah Seminyak, Windy menyimpulkan bahwa ada yang memang setuju dengan keberadaan klub-klub LGBT, ada juga yang tidak setuju. Pihak yang setuju beralasan bahwa hal tersebut selama tidak mengangganggu warga sekitar maka tidak masalah. Kalangan masyarakat yang tidak setuju sebagian besar memberikan alasan bahwa hal tersebut merupakan tindakan negatif yang dapat memberikan dampak bagi kepribadian generasi muda (2018, hal 5).

Kasus LGBT di Bali

Terlepas dari banyaknya situs yang memuat bahwa Bali sebagai destinasi ramah LGBT, namun masih ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa masih adanya diskriminasi bagi LGBT di Bali. Hal ini mengindikasikan kondisi di lapangan berbeda dengan ujaran Kristen Grey. Misalnya pada pemberitaan republika.co.id pada 10 Oktober 2018 tentang Kontes LGBT di Bali Dibatalkan. Pada berita tersebut memperlihatkan bahwasanya pihak MUI Provinsi Bali menyatakan sikap penolakan terhadap segala bentuk kegiatan yang mengatasnamakan LGBT di Indonesia dan Bali khususnya. Penolakan tersebut menjadi alasan Kepolisian Daerah (Polda) Bali membatalkan penyelenggaraan Grand Final Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali. Sementara itu pada pemberitaan radarbali.jawapos.com pada 15 Januari 2020 tentang Kasus Gay, LBH Bali Tuding Satpol PP Badung Lakukan Pelanggaran HAM memperlihatkan Satpol PP yang mendatangi vila yang diduga menjadi tempat berkumpulnya gay di Badung. Kemudian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali mengeluarkan pernyataan bahwa apa yang dilakukan Satpol PP Badung merupakan pelanggaran HAM. Sedangkan pada pemberitaan radarbali.jawapos.com pada 11 Maret 2020 Kerap Jadi Korban Bully, Sekali Operasi Payudara Habiskan Rp 30 Juta memperlihatkan situasi yang dihadapi transpuan di Bali, mulai dari perundungan yang diterima hingga penolakan keluarga. Lalu pada artikel gshrudayana.org tentang Diskriminasi terhadap Transpuan di Indonesia, Casamira Gitta menuliskan tantangan dan hambatan besar yang dialami transpuan untuk menjalani hidup sebagai dirinya yang seutuhnya. Transpuan masih rentan mengalami tindak kekerasan, diskriminasi, dan kriminalisasi oleh masyarakat dan aparat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Berita-berita tersebut tentu tidak serta-merta diacuhkan begitu saja. Lalu bagaimana menurut Tabumania? Apakah bisa dikatakan Bali ramah terhadap LGBT seperti perkataan Kristen Grey atau tidak?

0 comments on “Benarkah Bali Ramah LGBT?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: