Buka Perspektif

Kenalan dengan Platform Aksi Beijing Yuk!

Hai Tabumania, pernah bayangin gak sih gimana penyelenggaraan Konferensi Perempuan Sedunia? Proses ini jadi ruang ngumpul dan diskusi para perwakilan organisasi perempuan di berbagai negara hingga ngehasilin berbagai kebijakan. Salah satunya saat Konferensi Perempuan Sedunia ke-4 yang netapin Beijing Platform for Action (BPFA) atau Deklarasi dan Platform Aksi Beijing 1995. Tabumania ngerasa asing gak dengan istilah itu? Biar Tabumania gak perlu mikir-mikir lagi kalau baca istilah ini, yuk yuk kenalan!

Sejarah Deklarasi dan Platform Aksi Beijing 1995

Mulai dari mana ini enaknya ceritanya ya… Ah ini saja! Tabumania, Konferensi Perempuan Sedunia ini sudah dimulai hampir lima dekade yang lalu loh! Konferensi ini diselenggarakan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). PBB menyelenggarakan empat Konferensi Perempuan Sedunia. Apa aja isinya? Yuk, kita lihat kilas balik tiga Konferensi Perempuan sebelumnya

• 1975 di Mexico City menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Perempuan Sedunia pertama kali yang dihadiri 133 negara. Konferensi ini menghasilkan rencana aksi dunia atau World Plan of Action untuk Implementasi Tujuan Hari Perempuan Sedunia. Konferensi ini menawarkan serangkaian pedoman untuk kemajuan perempuan hingga 1985.
• 1980 di Copenhagen menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Perempuan Sedunia kedua dihadiri 145 negara. Konferensi ini membahas pencapaian-pencapaian dari rencana aksi yang ditetapkan pada konferensi pertama. Pada konferensi ini, area yang menjadi fokus adalah dunia kerja, kesehatan dan pendidikan. Selain itu, terdapat langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memastikan perlindungan hak-hak perempuan, khususnya tentang kepemilikan dan kontrol perempuan terhadap properti, perlindungan terhadap hak waris, penjagaan anak dan kewarganegaraan.
• Konferensi Perempuan Sedunia ketiga terjadi di Nairobi pada 1985 dan dihadiri 157 negara. Konferensi ini bertujuan untuk mengatasi segala hambatan dalam mencapai upaya perlindungan terhadap hak-hak perempuan selama satu dekade. Selain itu konferensi ini menyepakati tentang langkah-langkah yang perlu ditempuh negara di tingkat nasional untuk mempromosikan keterlibatan perempuan dalam upaya perdamaian dan pembangunan.

Paska tiga Konferensi Perempuan tahun 1975, 1980 dan 1985, maka diselenggarakan Konferensi Perempuan Sedunia keempat pada 1995 di Beijing. Konferensi ini menjadi titik balik upaya mencapai kesetaraan gender secara global. Di Konferensi inilah disepakati Deklarasi dan Platform Aksi Beijing atau Beijing Platform for Action (BPFA) 1995. BPFA diadopsi 189 negara termasuk Indonesia. Dalam konferensi ini, dihasilkan Deklarasi dan Platform Aksi Bejing atau yang dikenal juga dengan BPFA. Selain itu, saat konferensi juga terdapat pernyataan Beverley Palesa Ditsi, perempuan lesbian dari Afrika Selatan yang secara terbuka pertama kali membuat pernyataan di Konferensi Perempuan Beijing tentang pentingnya menyertakan hak-hak lesbian dalam diskusi tentang pemberdayaan perempuan. Ini adalah pertama kalinya PBB “disentil” untuk mempertimbangkan hak lesbian sebagai bagian dari perlindungan hak asasi perempuan. Dalam pidatonya, Ditsi mengatakan bahwa konferensi tentang perempuan berarti juga membahas masalah-masalah perempuan yang bukan heteroseksual. Maka, diskriminasi berdasarkan orientasi seksual adalah suatu pelanggaran hak asasi manusia.

12 Area Kritis Pemajuan dan Pencapaian Kesetaraan Gender

BPFA memiliki 12 area kritis yang menjadi panduan terhadap dokumen kebijakan global untuk mencapai kesetaraan gender. 12 area ini menyoroti persoalan yang dihadapi perempuan di seluruh dunia serta mendorong tindakan mendesak untuk memastikan peluang dan kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, negara-negara memiliki langkah-langkah yang nyata untuk melakukan perubahan.

Mengutip laman unwomen.org, 12 bidang penting tersebut antara lain:

1. Perempuan dan kemiskinan.
Ketika perempuan miskin, hak-hak mereka tidak terlindungi dan mereka mengalami diskriminasi ganda yaitu berdasarkan gender dan keadaan ekonomi mereka.
2. Perempuan dalam pendidikan dan pelatihan
Pendidikan sangat penting bagi perempuan untuk memperoleh kesetaraan dan melakukan perubahan. Meskipun saat ini perempuan jauh lebih banyak yang berpendidikan, namun masih ada kesenjangan, terutama mengenai stereotip gender.
3. Perempuan dan kesehatan
Perempuan perlu sehat agar bisa menyadari potensi mereka. Hal ini mencakup nutrisi yang seimbang, hak-hak seksual dan reproduksi, kesehatan mental dan bebas dari kekerasan.
4. Kekerasan terhadap perempuan
Kekerasan menghambat kemampuan perempuan dan anak perempuan untuk berkembang melalui berbagai sektor. Sejak pelaksanaan Konferensi Beijing, dua pertiga negara telah menetapkan undang-undang untuk menghentikan kekerasan dalam rumah tangga. Namun, masih ada kesenjangan dalam implementasinya.
5. Perempuan dalam situasi konflik bersenjata
Perang dan konflik bersenjata menghancurkan banyak keluarga dalam masyarakat yang menempatkan perempuan dan anak perempuan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kekerasan seksual sering terjadi dan digunakan sebagai strategi perang.
6. Perempuan dalam ekonomi
Perempuan memiliki kontribusi besar dalam situasi ekonomi, baik dalam dunia bisnis, pertanian, maupun dalam pekerjaan rumah tangga. Sayangnya, masih sering terjadi diskriminasi yang berakibat pada upah rendah, hilangnya pekerjaan, maupun masih minimnya posisi strategis (senior) bagi perempuan di dunia kerja.
7. Perempuan dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan
Perempuan seharusnya memperoleh kesempatan peran-peran penting dalam kepemimpinan mereka dalam melakukan perubahan. Hanya saja, posisi perempuan kurang terwakili baik sebagai pemilih maupun untuk memperoleh posisi penting. Hal ini terjadi di berbagai lingkup, mulai dari kantor, akses sebagai pegawai negeri sipil, ruang rapat/diskusi maupun akademisi/pendidikan.
8. Perempuan dalam mekanisme institusional untuk pemajuan perempuan
143 negara dari 195 negara menyatakan menjamin kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, tetapi diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi di berbagai area secara langsung maupun tak langsung. Situasi ini dapat dicermati dari bidang hukum dan pelayanannya, stereotip berdasarkan gender, dan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.
9. Hak asasi perempuan
Perempuan dan anak perempuan memiliki hak untuk menikmati hak-hak mereka sebagai manusia.
10. Perempuan dan media
Media memiliki peranan penting dalam melanggengkan atau melawan diskriminasi maupun kekerasan terhadap perempuan. Media bisa menempatkan perempuan sebagai objek diskriminasi dan di sisi lain juga bisa memperlihatkan perempuan yang bisa dijadikan panutan.
11. Perempuan dan lingkungan hidup
Ketika terjadi perubahan iklim, perempuan yang paling terkena dampaknya. Sayangnya, suara perempuan sering diabaikan dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan. Perempuan juga kurang memiliki akses terhadap lahan maupun sumber daya produktif lainnya.
12. Anak perempuan
Anak perempuan rentan mengalami bentuk-bentuk kekerasan, seperti sunat perempuan atau mutilasi alat kelamin, perkawinan anak, maupun pelecehan seksual.

Mengawal Komitmen Beijing Lewat Review 5 tahunan

Tabumania, pelaksanaan BPFA memerlukan pengawalan agar benar-benar dilaksanakan karena yang kita tagih ini adalah komitmen negara! Nah, proses ini dilakukan dalam skala nasional, regional dan global. Nasional berarti setiap negara membuat laporan perkembangan. Regional berarti terdapat pembahasan mengenai komitmen Beijing di setiap wilayah berdasarkan kedekatan geografis. Nah, pelaporan di lingkup nasional dan regional ini biasa disebut persiapan menuju Commission on the Status of Women (CSW) yang diselenggarakan di markas PBB di New York.

Mengutip Siaran Pers Komnas Perempuan tanggal 21 November 2019  “Refleksi 25 Tahun Pelaksanaan Beijing Platform for Action di Indonesia : Komitmen Negara dalam Menjawab Tantangan 12 Bidang Kritis Bidang Perempuan” sejak 1995, Indonesia dan negara lain yang menyepakati BPFA wajib melaporkan implementasi BPFA. Indonesia juga melaporkan perkembangan pelaksanaan BPFA di forum Asia Pasifik setiap lima tahun. Selanjutnya, CSW akan me-review secara utuh. Setiap review laporan akan menghasilkan dokumen keluaran yang mendorong komitmen global untuk pemberdayaan perempuan dan anak perempuan serta menegaskan aksi-aksi prioritas untuk lima tahun selanjutnya.

Gimana Tabumania, apa udah mulai tercerahkan tentang BPfA ini? Upaya mencapai kesetaraan maupun penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan telah mengalami proses panjang. Meskipun sudah terdapat kemajuan, namun masih banyak pe-er (pekerjaan rumah) yang belum selesai. Upaya pelaksanaan BPFA pun harus terus dikawal dan kita, Tabumania, jangan ragu terus suarakan segala bentuk diskriminasi yang terjadi disekitar kita!

2 comments on “Kenalan dengan Platform Aksi Beijing Yuk!

  1. Pingback: Ngobrolin BPFA Bareng PEKKA dan Kalyanamitra – qbukatabu.org

  2. Pingback: Tetap Kritis di Tengah Ekonomi yang Sulit. – qbukatabu.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: