Buka Layar

Sejahtera di Mata Trans

 

Tabumania, pernah nggak sih merasa jenuh dengan segala aktifitas? Mau ngapa-ngapain rasanya malas. Perasaan jenuh tersebut tidak muncul tiba-tiba lho, biasanya ada pemicunya. Pemicunya bisa saja terjadi dari kejadian-kejadian kecil yang terus menerus kita pendam atau bisa juga karena kejadian besar yang akhirnya membuat semangat jadi hilang. Contohnya nih, ketika bekerja hasil yang kita lakukan tidak pernah diapresiasi oleh atasan, justru kesannya kita salah mulu, belum lagi kalau kena omel dan harus lembur tanpa dibayar. Kejadian itu akan berpotensi membuat kita kurang bersemangat dalam bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Nah, kalau mengabaikan kondisi ini, lama-lama kita bisa stress dan berada dalam kondisi yang tidak sejahtera.

Memang sih ketika bekerja harus siap dengan risikonya, tetapi kita juga harus mulai sadar mengenai kesejahteraan diri, karena kesejahteraan diri akan berkontribusi pada pencapaian kerja-kerja yang lebih produktif dan maksimal. Dan, perlu diperhatikan, sejahtera seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali. Sejahtera bukan hanya milik orang yang bekerja di kawasan elite ibukota, bukan hanya dapat dinikmati anak-anak pejabat, dan bukan hanya dirasakan oleh orang yang sudah dapat jodoh. Sejahtera itu milik kita semua, karena makna sejahtera tidak hanya berkutat pada persoalan pundi-pundi dan status sosial, tetapi juga menekankan unsur kebahagiaan diri; baik secara emosional dan spiritual.

Seringkali kita tidak merasa sejahtera dan stres karena banyak tekanan yang terjadi. Kemudian menuntut diri sendiri serba sempurna dan justru membuat kita menjadi kurang menghargai diri sendiri. Contoh rasa jenuh di tempat kerja merupakan gambaran secara umum yang mungkin dirasakan oleh para pekerja di berbagai tempat. Lalu, bagaimana dengan para pekerja sosial yang secara langsung berhadapan dengan sistem dan regulasi di negara kita yang masih kurang berpihak kepada kelompok yang terpinggirkan?

Pernah nggak sih Tabumania membayangkan, gimana jadinya kalau pekerja sosial jenuh memperjuangkan hak-hak orang lain? Wah, jangan sampai ya! Soalnya kalau jenuh, bisa-bisa Tabumania yang hari Sabtu Minggu libur kerja dan yayang-yayangan sama doi bisa-bisa kudu masuk kerja dan menghadap bos hehe.

Eniwe… ngomong-ngomong soal pekerja sosial, Tabumania tahu dong belum lama ini ada perayaan Transgender Day of Remembrance (TDOR). Masih dalam rangka hangat-hangatnya perayaan TDOR, Redaksi Qbukatabu berkesempatan melakukan wawancara dengan satu sahabat trans laki-laki dan satu sahabat transpuan. Keduanya menyempatkan waktu untuk berbagi cerita tentang kesejahteraan diri di negara dengan aturan-aturan yang masih tidak adil kepada warga negara dengan SOGIESC yang tertindas.

Amek, trans laki-laki asal Medan berusia 30 tahun, dan saat ini aktif di sebuah organisasi bernama Cangkang Queer (CQ). Amek memaknai kesejahteraan diri dari beberapa aspek yaitu sejahtera secara psikologis, ekonomi, ekspresi dan ruang aman. “Jadi kalau psikologis ketika kita tidak lagi merasa diri kita itu tertekan, bisa senang melakukan apapun. Kalau ekonomi ya tidak susah untuk kebutuhan sehari-hari, kalau untuk ruang aman, kita tahu trans menjadi target kelompok yang tidak menyukai, sementara dia seara ekspresi dia sudah terlihat. Kalau ruang aman ini harusnya negara menyediakan untuk warga negaranya.” Ketika ditanya mengenai cara yang digunakan untuk mendapat kesejahteraan, Amek menceritakan mulai memikirkan kesejahteraannya dengan mencegah stress, memiliki teman pendukung, serta turut mengembangkan bisnis yang dimilikinya. Amek berharap bisnis yang dikembangkannya dapat memberikan bantuan kepada teman-teman trans sebagai sarana untuk membuka lapangan pekerjaan. “Aku melihat realitas teman-teman komunitas trans yang susah cari kerja, jadi aku juga memikirkan penguatan ekonomi untuk diri dan membuka lowongan pekerjaan untuk trans.”

Menurut Amek, ukuran kesejahteraan memang tidak hanya dapat dilihat sebatas materi, karena untuk memperjuangkan kesejahteraan juga menemui berbagai tantangan. “Aku sudah melakukan upaya ke arah sana (sejahtera) tapi masih sekitar 40%. Aku sudah memulai bisnis untuk kesejahteraan ekonomi, dan memiliki tim pendukung untuk kesehatan mentalku di tempat kerja.” Ketika ditanya lebih dalam mengenai tantangan, Amek menjelaskan bahwa dirinya kerap menemukan kendala ketika berurusan dengan administrasi terkait akses ke bank atau Rumah Sakit.

Dalam wawancara tersebut, sebagai ketua di CQ, Amek juga menceritakan kehidupan teman-teman trans bisa dibilang jauh dari kata sejahtera. Amek menceritakan, mereka masih kesulitan mendapatkan izin tempat tinggal dan masih terbatasnya pilihan pekerjaan. Dengan kondisi tersebut, Amek sebagai orang yang sudah terkapasitasi secara pengetahuan di organisasi juga tidak tinggal diam, dia pun melakukan upaya-upaya lain untuk membantu teman-teman trans agar lebih berdaya. “CQ fokus pada 5 pilar, salah satunya pengorganisasian, kita organisir teman-teman trans/LBQ dan GBQ, setelah itu CQ punya tanggung jawab ke teman-teman untuk penguatannya, bagaimana mereka bisa mengenal dirinya, dan menerima dirinya setelah itu psikososialnya, dan bagaimana mereka menghadapi kehidupan sosialnya.”

Selain mendorong pengorganisasian komunitas, CQ juga mempersilakan sekretariat yang dimilikinya dapat digunakan àteman-teman komunitas sebagai ruang nyaman dan aman untuk mengekspresikan dirinya. “Teman-teman bisa cerita apa aja dan memilih teman cerita di CQ, itu juga upaya agar teman bisa berbagi apa yang dia rasakan.” CQ menyadari sebagai organisasi, mereka masih belum sepenuhnya memberikan kontribusi yang maksimal meskipun sudah berupaya dengan berbagai cara. Menurut Amek, CQ masih membutuhkan konselor yang dapat membantu komunitas ketika ada yang membutuhkan bantuan, salah satunya terkait dengan kesehatan mental.

Menjawab tantangan tersebut, Amek dan CQ juga memiliki harapan ke depannya, di perayaan TDOR tahun ini khususnya tidak ada lagi teman-teman yang gugur dan mendapatkan kekerasan. Sementara harapan dalam waktu dekat melalui kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, menurut Amek seharusnya bisa menjadi momen untuk memperkuat jaringan dan HAKTP dapat dirayakan tidak hanya oleh cis perempuan tetapi juga untuk teman-teman transpuan.

Tabumania, cerita tadi berangkat dari pengalaman sahabat transmen yang berada di Medan, kita masih memiliki cerita satu sahabat transpuan yang berasal dari Jawa Barat lho.

Sahabat kita ini biasa dipanggil Okkeu, saat ini Okkeu aktif di Srikandi Priangan, sebuah organisasi komunitas di kota Bandung yang fokus pada isu kesehatan dan pemberdayaan kelompok transpuan.

Menurut Okkeu, makna kesejahteraannya terletak pada kenyamanan diri sendiri, dan sejahtera tidak juga dimaknai dengan banyaknya materi dan segala sesuatu yang dimiliki di dalam rumah. “Kenyamanan itu kita yang merasakan, nyaman dengan diri sendiri dan lingkungan itu sudah membuat kita sejahtera.” Okkeu menegaskan, untuk mencapai kesejahteraan memang dibutuhkan proses yang panjang. Ketika sudah dalam tahap nyaman dengan diri sendiri maka kesejahteraan akan mengikuti, seperti halnya mampu bersosialisasi dengan percaya diri tanpa merasa dirinya berbeda. Menurutnya itu akan berpeluang membuat dirinya berperan aktif di masyarakat. Sejahtera berdasarkan pengalaman Okkeu memiliki tingkatan, yaitu berangkat dari kenyamanan diri, keluarga, dan lingkungan.

Meskipun secara pribadi Okkeu merasa sudah cukup sejahtera karena sudah melewati proses dalam tingkatan tersebut, tetapi kadang dia juga merasa tidak senang karena dalam kehidupan transpuan banyak stigma dan diskriminasi yang diterima. “Saya terusik dengan pemberitaan mengenai LGBT yang negatif, sementara saya memiliki tanggungjawab untuk memberikan informasi kepada yang lain agar mereka tetap merasa aman dan nyaman pada dirinya sendiri. Kita juga harus melihat kondisi teman kita.”

Dengan tantangan tersebut, Okkeu juga kerap melakukan meditasi maupun olahraga. Selain itu Okkeu juga selalu mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru yang ditemuinya. “Kita pingin impian kita semua orang nerima keberadaan kita tanpa memandang kita sebagai apa tapi sebagai manusia.” Melalui wawancara, Okkeu juga bercerita bahwa di lingkungannya teman-teman transpuan yang lain juga masih belum benar-benar sejahtera. Banyak orang yang dikenalnya masih menjadi pengamen dan mendapatkan stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Dengan keadaan tersebut, Okkeu yang saat ini sudah cukup mendapatkan akses terkait pengalaman berorganisasi dan tercukupi pengetahuannya mencoba membantu teman-teman transpuan melalui jalur-jalur advokasi untuk mengakses layanan kesehatan, karena menurutnya identitas merupakan hak dasar manusia.

Selain bantuan pada pemenuhan hak dasar, menurut Okkeu, perlu juga dibangun sebuah gerakan sosial dengan saling berkumpul dan bertukar pikiran. Baginya berkumpul dan saling mendukung mampu menguatkan satu dan lainnya. Terkhusus di perayaan TDOR tahun ini, Okkeu juga tetap menggaungkan bahwa terkait dengan akses pada pendidikan, pekerjaan dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) merupakan hak dasar warga negara dan pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk memenuhinya.

Sementara melalui perayaan HAKTP, menurut Okkeu kelompok transpuan juga bisa turut andil dalam kampanyenya untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan karena transpuan juga seorang perempuan.

Tabumania, dua cerita di atas merupakan sekilas realita pekerja sosial dalam memaknai kesejahteraannya sebagai manusia di Indonesia. Poin penting dalam cerita tersebut adalah ketika kedua sahabat bertutur untuk kesejahteraannya yang paling dasar yaitu terkait kenyamanan dan keamanan diri. Kesejahteraan dapat dirasakan dengan dimulai dari diri sendiri dan kemudian dapat ditularkan kepada yang lain.

Ketika kita sejahtera lahir dan bathin, maka kita juga bisa menjadi bagian dari gerakan sosial untuk menciptakan lingkungan yang turut membantu satu dan lainnya dalam solidaritas. Agar semangat kesejahteraan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang dengan kemewahan dari lahir, tapi kemewahan yang memang didapatkan dari sebuah perjuangan.

 

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Sejahtera di Mata Trans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: