Buka Perspektif

Tolong Dirimu Dulu Sebelum Orang Lain

Pernah gak sih Tabumania lebih mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri? Misalnya ni ya, saat kondisi tubuh lagi tidak sehat kemudian tetap sekolah atau bekerja karena merasa itu sebagai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilakukan. Atau Tabumania menjadi panitia suatu acara, lalu karena menuntut semua berjalan lancar dan sempurna, segala kesibukan membuat lupa makan dan kurang tidur akibatnya jatuh sakit. Padahal, selain mengutamakan kegiatan, diri sendiri juga perlu diperhatikan lho.

Selama ini kebanyakan orang lupa merawat dirinya, apalagi bagi para pembela Hak Asasi Manusia (HAM), aktivis perempuan dan LGBTI. Kerap kali para aktivis lebih mengutamakan para penyintas maupun keberlangsungan organisasinya. Nah, pada 26 – 29 Agustus 2019 lalu The International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) World mengadakan lokakarya untuk keamanan/kesejahteraan secara menyeluruh (Holistic Security Workshop) di Korea Selatan. Lokakarya tersebut ditujukan bagi para aktivis pembela hak asasi LGBTI di Asia. Holistic Security ini menyangkut kesejahteraan/kesehatan tubuh dan psikososial (kondisi sosial seseorang berhubungan dengan kesehatan jiwa). Selain itu, ia menjadi ruang belajar berbagai cara mengenali dan mencegah kelelahan (burnout) serta cara menanganinya, baik secara personal maupun organisasi/gerakan. Dengan demikian, ruang ini dapat turut memperkuat dan mempertahankan gerakan LGBTI, termasuk para aktivisnya. Hanya 20 orang yang bisa mengikuti kegiatan ini dan Vica Larasati, Direktur Qbukatabu menjadi salah satu peserta.

“Total ada 19 peserta dari 13 negara yang mengikuti workshop ini. Selain Indonesia, ada yang berasal dari India, Libanon, Filipina, Malaysia, Singapura, Yordania, Palestina, Pakistan, India, Nepal, Sri Lanka, Mongolia dan Vietnam.” kata Vica pada Redaksi Qbukatabu. Menurut Vica, lokakarya tersebut memberikan ruang bagi para peserta untuk membicarakan kesejahteraan diri (well-being), sebagai undangan untuk berpartisipasi di ruang berani yang membuat nyaman dan ‘aman’ untuk menceritakan kendala/ancaman yang ditemui dalam gerakan LGBTI. Kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran para peserta terhadap dampak kesehatan mental dan fisik secara pribadi maupun organisasi. “Kami memiliki permasalahan masing-masing. Saat bertemu, kami menceritakan pengalaman tersebut, kendala dan tekanan yang ditemui, termasuk apa yang kami rasakan karena berada di titik di mana kami bingung bagaimana melepaskan (release).” urai Vica.

Selama empat hari, mereka memperoleh penjelasan tentang holistic security, kesejahteraan diri (personal well-being) baik secara fisik, mental, ekonomi, seksual, emosional, relasi dan spiritual. Vica menjelaskan bahwa personal well-being mencakup banyak hal dan saling berkaitan. Rima Athar dari Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies (CSBR) dan Lin Chew dari Institute for Women’s Empowerment menjadi fasilitator yang menjembatani diskusi yang dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil.

“Pada beberapa kesempatan, kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua hingga tiga orang. Masing-masing orang menceritakan apa yang selama ini dialami dan dirasakan, sehingga sesi ini dirasa benar-benar personal. Kemudian kami mem-breakdown (mengurai) personal well-being berdasarkan diskusi itu. Kami menemukan bahwa personal well-being itu multidimensional dan interconnected. Misalnya, seseorang aktif di gerakan perempuan atau LGBTIQ kemudian ia memperoleh banyak tekanan baik fisik maupun mental sementara ia juga punya pasangan atau keluarga, ia juga membutuhkan finansial untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ketika salah satu atau dua dari kesejahteraan diri tersebut tidak terpenuhi, akan memengaruhi dimensi well-being lainnya.” jelasnya.

Menurut Vica, ada tiga hal penting dalam holistic security, yaitu maksud/tujuan (intention), perhatian (attention) dan sikap (attitude). “Intention itu berkaitan dengan pikiran kita, lalu attention berkaitan dengan bagaimana kita menyadari kondisi tubuh. Misalnya, ada salah satu sesi di mana kami belajar memetakan tubuh. Kita perlu menyadari saat tubuh memberikan tanda. Tubuh biasanya akan memberikan sinyal seperti dada tidak nyaman, leher bagian belakang dan pundak menegang, atau ketidaknyamanan anggota tubuh lain ketika terlalu banyak pikiran. Kemudian attitude berkaitan dengan sikap kita untuk tidak menghakimi, penerimaan (acceptance), melepaskan (letting go) dan perasaan netral (neutral compassion)” kata Vica.

Vica mengaku dengan mengikuti lokakarya tersebut bisa menjadi ruang untuk merefleksikan dan lebih perhatian (aware) pada diri sendiri. Meskipun merasa bertanggung jawab terhadap sebuah gerakan, kolektif, organisasi atau kegiatan tertentu, ia tetap harus memikirkan atau bertanggung jawab pada diri sendiri dulu. “Seperti kalau kita naik pesawat, pramugari biasanya akan berpesan agar penumpang menolong diri sendiri sebelum menolong penumpang lain. Kita harus mengutamakan atau merawat diri sendiri terlebih dahulu.” tegasnya.

Di hari terakhir dalam lokakarya tersebut, setiap peserta diberikan kesempatan untuk membuat rencana atau langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memenuhi holistic security, baik personal maupun secara organisasi. Hal penting yang perlu diingat setelah lokakarya tersebut adalah penerapan langkah-langkah untuk memenuhi keamanan holistik “Jadi, fasilitator dalam workshop tersebut mengatakan bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan diibaratkan seperti sedang menanam biji, sedangkan ketika kami pulang dan kembali ke organisasi masing-masing di sanalah mulai dirawat dan ditumbuhkan.” jelas Vica.

Vica juga menguraikan langkah ke depan untuk memasukkan holistic security dalam Qbukatabu, misalnya dalam membagikan pengetahuan dengan memproduksi, mempublikasikan artikel dan gambar serta mempromosikan buku Tutur Feminis Meluruhkan yang Biner. “Lalu secara kolektif, baik tim manajemen dan volunteer membangun habit, salah satunya Sabtu-Minggu (weekend) tidak membahas pekerjaan. Meskipun masih belum benar-benar diterapkan, tetapi setidaknya sudah mulai dilakukan.” kata Vica sambil tertawa.

Gimana nih Tabumania? Seru kan pengalamannya? Sepenting apapun posisi dan tanggung jawab kita terhadap organisasi, gerakan, atau kegiatan apapun, jangan sampai melupakan diri sendiri ya. Kenali tubuh kalau mulai memberi tanda-tanda. Bisa sakit kepala, sakit perut, mual, diare, gatal-gatal, sesak nafas dan mungkin tanda lain karena tiap orang beda-beda. Bisa saja memang sakit atau karena pikiran? Tabumania yang paling mengetahui. Kalau sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan membutuhkan teman ngobrol, cari yang bisa dipercaya. Oh, atau bisa juga nih cerita ke Buka Layanan Qbukatabu. Jangan khawatir, rahasia Tabumania aman kok. Kuy Cuss!

0 comments on “Tolong Dirimu Dulu Sebelum Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: