Buka Akses

Solidaritas : Tentang Keberpihakan yang Inklusif

Tabumania, mungkin kamu pernah mengetahui aksi cor kaki yang dilakukan 20 orang berasal dari berbagai kalangan sebagai bentuk dukungan bagi petani Kendeng yang menuntut pemerintah menghentikan seluruh kegiatan pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng. Atau mungkin pernah ikut menandatangani petisi? Jika dipikir-pikir kenapa seseorang mau bergerak dan melakukan sesuatu untuk orang yang sama sekali tidak dikenal, bahkan masalah yang dialaminya tidak ada sangkut paut apapun?  Nah Tabumania, hal tersebutlah yang dinamakan solidaritas. Bersolidaritas berarti memilih untuk berpihak, berbagi dan bersimpati serta memiliki rasa senasib dan sepenanggungan.

Namun, saat ini solidaritas yang seharusnya digunakan untuk mendukung kebaikan justru digunakan untuk menghancurkan individu atau kelompok tertentu. Solidaritas digunakan sebagai ‘alat’ untuk menebar berita provokatif sehingga membuat pikiran jadi sempit dan emosi mudah tersulut. Misalnya, peristiwa tsunami 28 September 2018 di Palu yang dikait-kaitkan dengan maraknya LGBT. di Palu. Faktanya, masih ada media menulis judul utama dalam beritanya seperti Sebelum Gempa dan Tsunami, Video ini Ungkap Kota Palu Sarang LGBT atau Sebelum Tsunami Menerjang, Pelaku LGBT di Kota Palu Meningkat Tajam. Tak hanya media, bahkan pemimpin oposisi Malaysia, Ahmad Zahid Amidi, juga berkomentar serupa. Hal ini langsung ditepis oleh Hidayat, Wali Kota Palu bahwa peristiwa gempa dan tsunami Palu seharusnya menjadi sarana untuk introspeksi semua pihak, bukan mengangkat isu kontroversi (kumparan.com, 2018). Hidayat juga menyampaikan bahwa jika musibah dikaitkan dengan komunitas LGBT, maka penilaian ini jauh dari akal sehat (benarnews.org, 2018). Berbagai berita dan statemen yang tidak logis inilah yang kemudian menjadikan makna solidaritas  kehilangan maknanya karena memicu pada diskriminasi dan kekerasan pada kelompok tertentu.

Setiap orang memang memiliki kedaulatan dan kebebasan dalam bersolidaritas. Namun Tabumania, pernahkah berpikir apa yang menyebabkan orang-orang mudah dipengaruhi pihak-pihak yang mengatasnamakan solidaritas untuk melakukan hal-hal yang jauh dari akal sehat dan menyulut emosi?

Tabumania, rasa solidaritas dipengaruhi kondisi sosial yang menjadikan individu memiliki keinginan agar disukai atau agar tidak ditolak oleh orang lain – masyarakat sekitar. Ketika kita menyetujui orang-orang di sekitar kita dan bertindak seperti mereka, maka akan membuat mereka menyukai kita. Penghargaan berupa pujian dan persetujuan diberikan kepada kita karena menunjukkan kesamaan kita dengan lingkungan tersebut yang perlahan-lahan mengikis kekritisan seseorang (Baron & Byrne, 2003).

Pengetahuan dan nilai-nilai yang sudah diinternalisasi seseorang juga, seperti nilai agama, keyakinan dan adat tertentu juga menjadi pendorong seseorang bersolidaritas. Contohnya, aksi solidaritas masyarakat Aceh yang memberikan dukungan kepada mantan kapolres Aceh Utara AKBP Ahmad Untung Surianata Sangaji terhadap ‘tindakan pembinaannya’ pada 12 orang waria di Aceh Utara. Tgk Bulqaini, perwakilan Dayah Aceh yang dalam aksi tersebut menyampaikan secara tegas bahwa masyarakat Aceh bersama dengan para ulama sangat mendukung tindakan tersebut Kapolres Aceh Utara itu. (Jawapos, 2018). Namun, seperti yang disampaikan Ketua Bidang Advokasi YLBHI, Muhammad Isnur, AKBP Untung Sangaji sebagai polisi tidak mengindahkan kaidah hukum dan bertindak sewenang-wenang (Tirto.id, 2018). Paska tindakan tersebut, berdasarkan perintah Tito Karnavian, Polda Aceh mengirimkan Tim Propam (Profesi dan Pengamanan) ke Polres Aceh Utara untuk menyelidiki prosedur yang dilakukan dalam menindak para waria tersebut (Tribunnews.com, 2018).

Dalam peristiwa diatas, meskipun seseorang sebetulnya memiliki pilihan untuk membuka pikiran dan memikirkan ulang tentang munculnya aksi tersebut, namun banyak orang yang tetap mengikuti aksi solidaritas tersebut tanpa pertimbangan atau pendapat kritis.

Sebagaimana yang terjadi saat individu memutuskan untuk bergabung dalam solidaritas yang membenci LGBT. Orang tidak berusaha memahami secara menyeluruh alasan kenapa mereka harus membenci, menghakimi bahkan melakukan kekerasan fisik. Satu hal yang mempersatukan mereka adalah “pokoknya Tuhan hanya menciptakan manusia berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan. Jadi, selain pasangan itu akan terkena azab sebagaimana kaum Luth sehingga mereka pantas untuk dimusnahkan”. Pengetahuan semacam itu selalu saja dijadikan alasan untuk membangun solidaritas yang berujung pada pembenaran melakukan tindak kekerasan terhadap LGBT.  Ada pula pihak yang sebenarnya tidak setuju dengan perbuatan-perbuatan tersebut misalnya warga yang sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan keberadaan LGBT namun ikut serta karena adanya rasa “tidak enak” jika tidak ikut bergabung dan menunjukkan solidaritas pada kelompok yang membenci LGBT.

Namun bukan berarti tidak ada orang yang memilih untuk berpikiran terbuka dan melakukan hal yang berbeda dengan kebanyakan orang. Lantas hal apa saja yang harus diperhatikan ketika diajak bersolidaritas? Solidaritas selayaknya inklusif. Menjadi sarana untuk membuka diri dan memahami sekat-sekat yang muncul selama ini di masyarakat, bukan jadi alat untuk menyulut kebencian yang makin mengkotak-kotakkan kehidupan sosial.

Nah, Tabumania sebelum melakukan solidaritas, agar tidak terjebak, kamu bisa mengecek berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

  1. Solidaritas haruslah dibarengi dengan kekritisan. Jangan hanya ikut-ikutan. Kamu harus mengetahui dengan jelas asal-usul aksi solidaritas tersebut, bentuk solidaritas seperti apa yang diharapkan darimu, tujuan, manfaat dan dampaknya, termasuk apakah aksi yang kamu ikuti berkontribusi untuk meningkatkan potensi diskriminasi dan kekerasan bagi kelompok tertentu.
  2. Solidaritas selayaknya dibarengi dengan kerelaan dan keinginan yang muncul dari diri sendiri, tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Kamu memiliki otoritas atas tubuh, pikiran dan perasaanmu, termasuk pilihan-pilihan yang kamu ambil.

Tabumania, sebagai individu yang kritis dan memiliki otoritas atas pikiran dan perasaan, kita tentu bisa menentukan kepada apa dan siapa kita bersolidaritas. Jangan sampai kita menyatakan solidaritas dan keberpihakan pada individu atau kelompok yang menyakiti atau mencederai hak orang lain. Perlakukan orang lain layaknya kita memperlakukan diri kita sendiri.

Jika kamu butuh orang lain untuk mendengarkan ceritamu sementara kamu enggan bercerita dengan orang yang ada dilingkungamu, kamu boleh menghubungi Buka Layanan Qbukatabu. Buka layanan Qbukatabu dapat kamu akses melalui whatsapp : 085314364084 atau email : bukalayanan@protonmail.com setiap hari senin – jumat pukul 10.00 s/d 17.00. Buka layanan Qbukatabu menyimpan ceritamu menjadi rahasia kita berdua.

Buka layanan hadir untuk menjadi ruang bagi Tabumania untuk mendapatkan infornmasi dan berbagi cerita tentang permasalahan yang dihadapi oleh Tabumania, melalui layanan konseling yang ramah. Tabumania bisa mengakses #BukaLayanan melalui e-mail (bukalayanan@protonmail.com) atau WhatsApp (0853 1436 4084) pada hari Senin s.d Jumat pukul 10.00 s.d 17.00.

0 comments on “Solidaritas : Tentang Keberpihakan yang Inklusif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: