Buka Akses

Alami Ancaman Terapi Konversi, Harus Kemana?

“Normal” dan “tidak normal” merupakan penilaian yang sering dilakukan ketika menghadapi  sesuatu yang dianggap berbeda dan di luar kebiasaan. Tak sekedar menilai, seringkali juga diikuti dengan upaya untuk “mengembalikan” pada “kenormalan”. Seperti halnya yang terjadi pada individu LGBTIQ. Situasi ini selalu berangkat dari asumsi bahwa LGBT merupakan sebuah penyakit dan kelainan yang harus “disembuhkan” serta anggapan bahwa menjadi heteroseksual merupakan jalan terbaik sebagai kodrat manusia. Upaya untuk “mengembalikan” individu LGBTIQ menjadi “normal” inilah yang dikenal sebagai terapi konversi.

Terapi konversi terhadap individu homoseksual, biseksual dan transgender ini bertentangan dengan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III serta ICD-11 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems). Oleh karena itu, terapi konversi ini berbahaya bagi kesehatan mental karena tindakan ini justru dapat membuat individu LGBTIQ menjadi merasa bersalah, tertekan dan terisolasi dari kehidupannya. Padahal, individu yang sehat secara mental berarti bahwa ia dapat mewujudkan berbagai potensi dalam diri, menghadapi stres dan kelelahan yang dialami dalam hidupnya, bekerja secara produktif dan mampu berkontribusi pada komunitas (Badan Kesehatan Dunia, 2014).

Meskipun kesehatan mental pengguna layanan seharusnya menjadi prioritas bagi para praktisi kesehatan jiwa, namun ternyata psikiater dan psikolog juga menjadi pelaku terapi konversi. Salah satu alasannya karena dipengaruhi oleh nilai pribadi dan kepercayaan yang diyakini bahwa individu LGBTIQ itu berdosa, menyimpang atau melanggar ‘kodrat’. Hal ini kemudian membuat individu LGBTIQ ragu untuk melakukan konsultasi dengan praktisi kesehatan jiwa. Sementara di sisi lain, individu LGBTIQmemiliki potensi sangat besar mengalami kekerasan sehingga membutuhkan keberadaan praktisi medis dan psikologis.

Pentingnya menghindari bias nilai pribadi dan kepercayaan tertentu dalam memberi layanan serta memastikan persetujuan dalam memberikan layanan sebenarnya tertuang dengan cukup jelas, salah satunya dalam Kode Etik Psikologi Indonesia. Pedoman ini dikeluarkan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) pada 2010. Dalam pedoman tersebut, khususnya pasal 13 dan 20, dijelaskan bahwa :

  1. Profesional maupun ilmuwan psikologi wajib:
  • melindungi pemakai layanan dari akibat yang merugikan sebagai dampak layanan yang diterimanya;
  • mengutamakan ketidakberpihakan dalam kepentingan pemakai layanan serta pihak-pihak yang terkait dalam pemberian pelayanan tersebut, serta
  • memberitahukan terlebih dulu dampak negatif yang mungkin akan dihadapi oleh pemakai layanan
  1. Setiap intervensi yang melibatkan manusia harus disertai dengan persetujuan tertulis. Aspek-aspek yang dicantumkan adalah
  • Kesediaan untuk mengikuti proses tanpa paksaan.
  • Perkiraan waktu yang dibutuhkan
  • Gambaran tentang apa yang akan dilakukan
  • Keuntungan dan/atau risiko yang dialami selama proses tersebut
  • Jaminan kerahasiaan selama proses tersebut.
  • Orang yang bertanggung jawab jika terjadi efek samping yang merugikan selama proses tersebut.

Persetujuan merupakan syarat utama sebelum sebuah intervensi psikologis dilakukan. Oleh karena itu, jika Tabumania dihadapkan dengan situasi yang penuh paksaan dan tidak ada penjelasan apapun terhadap intervensi yang akan dilakukan, maka Tabumania bisa menyatakan bahwa layanan tersebut tidak profesional, patut dipertanyakan, serta merupakan tindakan kekerasan.

Selain kehati-hatian dalam memilih layanan, hal-hal apa yang bisa dilakukan saat mengalami ancaman terapi konversi?

Jika Tabumania adalah individu LGBTIQ :

  1. Bercerita tentang peristiwa yang tidak menyenangkan memang tidak mudah. Untuk itu, berceritalah dan minta pertolongan pada orang yang kamu merasa nyaman dan percaya
  2. Cari kelompok dukungan dan komunitasmu untuk saling berbagi karena bukan hanya kamu yang mengalami peristiwa ini
  3. Datang ke layanan konsultasi kesehatan jiwa, baik di rumah sakit, biro psikologi atau lembaga penyedia layanan non-pemerintah yang ramah dengan individu LGBTIQ.

Jika Tabumania memiliki teman atau saudara yang LGBTIQ :

  1. Dengarkan cerita mereka seperti kamu sedang merasakan pengalaman mereka. Mungkin kamu tidak menghadapi situasi yang mereka hadapi, tapi kamu bisa merasakan emosi mereka.
  2. Bantu untuk mencari informasi yang mereka butuhkan, seperti komunitas, kelompok dukungan atau lembaga penyedia layanan yang ramah.

Tabumania memperhatikan kesehatan mental adalah kebutuhan setiap orang. Membicarakan tentang apa yang dirasakan adalah salah satu hal yang bisa membantumu. Jika kamu butuh orang lain untuk mendengarkan namun enggan bercerita dengan orang di sekitar, Tabumania dapat menghubungi Buka Layanan Qbukatabu. Tabumania dapat mengakses Buka Layanan melalui whatsapp 085314364084 atau email : bukalayanan@protonmail.com setiap Senin hingga Jum’at pukul 10.00 s/d 17.00. Buka Layanan Qbukatabu menyimpan ceritamu menjadi rahasia kita berdua. (RR)

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Alami Ancaman Terapi Konversi, Harus Kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: