Buka Cerita

Flambe : Tentang Cinta, Persahabatan dan Mimpi Bersama

Manusia setidaknya sekali dalam seumur hidupnya pasti pernah merasa jatuh cinta, bahkan ada yang berkali-kali. Jatuh cinta, membangun harapan, kemudian mencapai cita-cita bersama; itu mimpi indahnya. Tetapi, prakteknya tak sedikit yang jatuh bangun membangun mimpi tersebut, terlebih bila ia memiliki seksualitas non biner.

Sebut saja teman-teman lesbian dan trans* yang sekadar untuk jatuh cinta dan mencintai seseorang saja harus berhadapan dengan sistem sosial yang sama sekali tidak mendukung. Mencintai dalam diam tentu menyesakkan, tetapi berani mengungkapkan juga tak kalah menakutkan. Merdeka untuk jatuh cinta dan mencintai hanya menjadi kata. Bila jatuh cinta saja belum merdeka, bagaimana dengan mimpi untuk membentuk keluarga? Keluarga tentubisa hadir dalam berbagai bentuk: teman, kekasih, bahkan anjing yang diadopsi. Namun, bila hal mendasar dalam diri manusia ini dilarang, tentulah pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan kehidupannya.

Perasaan senasib mampu membangun rasa persaudaraan dan persahabatan untuk saling menguatkan. Ini yang dialami oleh teman-teman lesbian dan trans* saat menghadapi sistem sosial yang terus menerus memperlakukan mereka secara tidak adil. Mereka bertemu, membahas dan berdiskusi berbagai hal. Saling memberikan dukungan bila ada salah satu sedang dalam proses penerimaan diri dan galau, dari yang awalnya menyalahkan diri sendiri menjadi menerima dan tak lagi menyalahkan ayam tetangga. Rasa persaudaraan dan persahabatan ini kadang juga hadir diluar lingkaran mereka. Hal inilah yang sesaat mengingatkan : bahwa ditengah situasi yang belum merdeka ini, tetap masih ada ruang penerimaan tanpa pandangan dan ujaran kebencian.

Nah Tabumania, cinta, persahabatan dan mimpi bersama yang dialami teman-teman lesbian dan trans* di atas sebenarnya sangat mirip dengan penggambaran cerita dari sebuah novel berjudul Flambe yang akan kita ulas kali ini.

Flambe, yang ditulis oleh Club Camilan dan dicetak pertama kali pada 2014, diambil dari kata yang berasal dari Perancis. Flambe menjelaskan teknik memasak dengan menyalakan api di atas masakan yang telah ditambah sedikit alkohol agar api tersebut tetap bisa menyala. Walaupun novel ini cukup tebal, namun jalan cerita yang tersirat sangat lekat dengan harapan teman-teman lesbian dan trans*, seperti untuk dapat hidup bersama dengan orang yang dicintai tanpa ada lagi rasa khawatir. Oh iya, di novel ini memang tidak ada tokoh trans*, tetapi persoalan yang dihadapi hampir serupa bila berbicara mengenai urusan percintaan. Misalnya, bila jatuh cinta kepada orang lain, maka terkadang kita mempunyai rasa takut bila identitas kita diketahui orang lain, terlebih bila lingkungan belum menerima.

Dalam Flambe, Langit dan Frey menjadi salah satu tokoh sentral. Langit dan Frey merupakan sosok ideal yang jalan kisahnya pada awal novel sangat diidam-idamkan. Mereka telah berelasi cukup lama, sekitar 8 tahun, tinggal dan memiliki usaha bersama. Namun, mereka mendapatkan ujian cinta ketika Langit mulai mengenal perempuan lain. Saat membaca kisah ini, kita seperti diingatkan kembali bahwa komitmen dan kesepakatan terhadap pasangan merupakan hal-hal yang sangat krusial. Di dalam komitmen dan kesepakatan, ada ruang-ruang diskusi yang bisa dibangun agar sebuah hubungan tetap bisa dilanjutkan sesuai dengan kesepakatan bersama. Apakah kita bisa menerima pasangan kita yang belum come out? Apakah pasangan kita mau atau tidak tinggal bersama kita? Dan kesepakatan-kesepakatan lain yang sebenarnya bisa mulai diperbincangkan pada masa-masa berelasi.

Lalu Tabumania, siapa di sini yang pernah merasa cemas ditinggal nikah pasangannya? Pasti sedih sekali ya berada di titik tersebut, rasanya ingin mengutuk batu agar berubah jadi bakpao! Nah, dalam Flambe, situasi serupa terjadi pada pasangan bernama Seana dan Gina. Seana, sebagai perempuan dan anak sulung, didesak oleh keluarganya untuk segera menikah. Padahal, Seana telah menjalin hubungan sejenis dengan Gina yang berprofesi sebagai Guru SMA. Apakah Seana akhirnya menuruti keinginan keluarganya dan menikah? Atau ia justru memilih come out kepada keluarga dan melanjutkan hubungan dengan Gina? Yang pasti, Seana dan Gina berunding dan membuat keputusan bersama-sama. Keduanya sama-sama saling memberikan dukungan yang tergambar dari percakapan dan ungkapan rasa sayang.

Tokoh lainnya, Ola dan Crissy, barangkali paling kerap dialami oleh teman-teman lesbian yang masih kuliah, begitu pula yang tergambar melalui Novel ini. Keduanya menghadapi fase galau pada masa-masa pendekatan, sedikit cemburu dan tentu saja ketakutan bila hubungannya diketahui oleh teman-teman kuliahnya yang lain. Tokoh Ola dan Crissy mengajarkan bahwa di dalam hidup pasti ditemui hal-hal yang baru, termasuk cinta. Ola yang pada awalnya mengenal Crissy hanya sebagai teman, siapa sangka akhirnya bisa menjadi pacar? Sebuah relasi yang sebenarnya pertama untuk mereka.

Walau banyak mengulas kisah cinta dari relasi lesbian, Flambe juga menggambarkan karakter lain dari sisi perempuan, yaitu seorang orangtua tunggal bernama Verna. Ia cemas memikirkan masa depan anak laki-lakinya, Pilar, yang cenderung lebih feminin dan menyukai K-POP. Terlebih manakala Pilar kerap mengalami bullying dari teman sekelas yang tak segan-segan memukulnya. Lalu, akan seperti apa Verna menyikapi kegalauan tersebut?

Tokoh-tokoh yang dihadirkan melalui penggambaran ringan dan alur yang menyenangkan dari Flambe ini memang kita temui dalam kehidupan sehari-hari teman-teman lesbian dan trans*. Tidak hanya mengulik persoalan cinta-cintaan saja, namun juga sarat dengan perjuangan untuk membangun kehidupan dan bertahan di tengah masyarakat yang masih memandang sebelah mata.

Kisah setiap tokoh tak menjadi kisah mereka sendiri-sendiri, namun diceritakan dan dibagikan. Masing-masing tokoh saling terhubung antara satu dan yang lain di sebuah tempat bernama Kafe Kuali. Kafe yang dirintis bersama oleh Langit dan Frey ini secara tak langsung menjadi tempat terbangunnya rasa persaudaraan dan persahabatan bagi semua tokoh. Kafe Kuali ini tidak hanya menyajikan aroma dari  masakan yang diracik, namun juga saksi atas kesedihan dan kebahagiaan yang dibawa oleh Ola, Chrissy, Verna, Seana, Gina.

Tabumania, jalan cerita kehidupan manusia berbeda dari satu dan lainnya. Di antara kita barangkali ada relasi cinta dari teman-teman lesbian dan trans* yang begitu indah dan membuat iri banyak hati. Dalam menuju rasa bahagia tersebut, ada proses serta perjuangan yang tak mudah. Bila kita sudah sampai pada titik bahagia, maka kita juga bisa hadir untuk menawarkan persahabatan pada mereka yang sedang memperjuangkannya. Seperti yang tertulis di Flambe, “…Saat hidup sedang di atas, baiknya kita tidak lupa diri dan bersenang-senang saja. Lebih baik lagi kalau kita bisa mengulurkan tangan kepada mereka yang hidupnya tidak seberuntung kita.” (IS)

0 comments on “Flambe : Tentang Cinta, Persahabatan dan Mimpi Bersama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: