Buka Akses

Kenali Cara Komunikasimu: Agresif, Submisif atau Asertif

Tabumania, setiap hari kita berkomunikasi dengan orang lain, baik diucapkan langsung atau melalui pesan yang dikirim via messenger, dengan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Ada orang yang bisa secara blak-blakan menyampaikan keinginan dan perasaannya dan ada juga yang lebih berhati-hati, tampak takut, bahkan cenderung diam sehingga tidak mengungkapkan keinginan dan perasaannya. Nah, Tabumania sendiri cenderung berkomunikasi dengan cara yang seperti apa?

Setidaknya, ada beberapa gaya komunikasi, yakni agresif, submisif dan asertif. Seseorang yang mengungkapkan kekecewaan dan perbedaan pendapat secara frontal disertai dengan pemaksaan kehendak bisa dikategorikan agresif. Orang yang agresif menunjukkan perilaku seolah-olah kebutuhannya atau pendapatnya yang paling penting dibandingkan yang lainnya sehingga cara penyampaian pesan cenderung mengintimidasi, menuntut atau memerintah. Hal ini membuat lawan bicara fokus pada cara penyampaian pesan dibandingkan pesan yang dimaksudkan.

Dilain sisi, ada orang yang takut untuk mengungkapkan keinginan dan perasaan, merasa segan untuk berpendapat, merasa tidak enak untuk menolak atau pada akhirnya menyimpan sendiri kekesalan dan ketidaksukaannya terhadap sesuatu. Orang seperti ini termasuk dalam kategori submisif. Hal yang paling menonjol dari karakter ini adalah tidak mampu berkata tidak dan cenderung menyerah pada orang lain karena mereka ingin menyenangkan orang lain dan menghindari konflik.

Penting untuk diketahui bahwa cara komunikasi agresif dan submisif pada seseorang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti, relasi yang timpang. Misalnya, dalam sebuah keluarga dimana anak tidak dibiasakan untuk mengemukakan pendapat dan keinginan, maka anak akan belajar untuk menjadi submisif. Situasi yang tidak kondusif dalam lingkungan keseharian yang melibatkan emosi tidak menyenangkan dan sulit untuk dikendalikan juga dapat membuat seseorang menjadi agresif.

Dalam keluarga dengan relasi anak-orangtua yang timpang, akan muncul kesulitan dalam mengkomunikasikan antara harapan yang dimiliki kedua belah pihak. Misalnya, saat orangtua melakukan perjodohkan paksa pada Tabumania, kamu bisa saja mengatakan hal seperti ini : Ngapain sih dijodoh-jodohin! Kan sudah dikasih tahu kalau aku nggak suka! Jangan paksa-paksa aku atau aku pergi saja dari rumah ini”. Respon lainnya, Tabumania bisa jadi hanya diam dan tidak menjawab apapun karena khawatir akan menimbulkan konflik. Lalu bagaimana seharusnya kita merespon ketika dihadapkan pada situasi seperti ini?

Selain agresif dan submisif, adapula yang disebut dengan asertif.  Apa itu asertif? Asertif adalah kemampuan seseorang untuk mengutarakan pendapat atau perasaannya karena ia  sangat menghargai dirinya sendiri. Dalam mengutarakan sesuatu, individu asertif akan menghindari hal-hal yang dapat menyakiti atau menyalahkan dirinya dan orang lain. Ia tidak memanipulasi ketika sedang menyampaikan pesan. Selain itu, ia tahu akan keterbatasan dirinya sehingga tidak membiarkan dirinya sendiri dipaksa oleh orang lain karena mereka menginginkan sesuatu dari dirinya. Dalam kasus perjodohan paksa, misalnya, seseorang yang asertif akan mulai dengan menyampaikan sikapnya dengan mengurai alasan kenapa perjodohan tersebut tidak baik baginya, misalnya dengan mengatakan:

 “Aku tidak bersedia dijodohkan dengannya karena, menurutku, memilih jodoh adalah tentang memilih seseorang yang akan hidup bersama seumur hidup denganku. Aku mengharapkan kehidupan yang bahagia untuk dijalani bersama-sama dengannya. Aku akan memilih sendiri pasangan hidupku, jika nanti aku telah menemukan yang cocok, akan kuperkenalkan kepada ayah dan ibu”.

Bersikap asertif terhadap harapan keluarga yang tidak sejalan dengan harapan diri kita, bukan sesuatu yang mudah, apalagi jika situasi di keluarga tidak memberikan ruang bagi Tabumania untuk mengkomunikasikan perasaan dan gagasan dengan leluasa. Akhirnya, kita merasa takut mengecewakan orang lain dan cenderung memilih untuk tetap memelihara hubungan baik dengan orang lain, terlebih karena mereka adalah keluarga atau orangtua kita sendiri.

Apa yang bisa dilakukan? Berikut beberapa tips bagi Tabumania agar bisa menjadi pribadi yang asertif :

  1. Tentukan sikapmu, baik kamu akan menerima atau menolak suatu hal. Ketika Tabumania masih ragu dan belum bisa menentukan sikap, mintalah waktu untuk berpikir.
  2. Jika Tabumania masih bingung pada apa yang sebenarnya dimintakan, bertanyalah untuk memperjelas dan mencerna kembali maksud mereka.
  3. Jika Tabumania ingin melakukan penolakan, gunakan kata “tidak” untuk mempertegas maksud. Tidak perlu merasa bersalah ketika melakukan penolakan terhadap sesuatu karena Tabumania berhak menentukan apa yang harus atau tidak harus dilakuka
  4. Ekspresikan dan perlihatkan gerak tubuh yang sesuai dengan ucapan karena kebanyakan orang menampilkan ekspresi yang bertolak belakang dengan maksud ucapan verbalnya. Namun dalam situasi tertentu, Tabumania tetap harus berstrategi. Ketika menghadapi orang tua, misalnya, jika tidak mampu menyampaikan pendapatmu sendiri, carilah orang yang bisa membangun komunikasi yang seimbang dengan orang tuamu.
  5. Lakukanlah negosiasi agar Tabumania dapat menemukan jalan tengah. Jika dalam proses komunikasi ada pihak yang sangat memaksamu, maka alternatif tindakan yang dapat kamu lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.

Tabumania, menjadi asertif memang bukan hal yang mudah, kita harus melewati proses belajar yang cukup memakan waktu. Namun, menjadi asertif dapat mengurangi beban pikiran karena menjadi asertif dapat membuat diri kita mampu menyatakan sikap tanpa perlu dipenuhi rasa bersalah, namun tetap membuka lebar telinga kita terhadap berbagai respon yang muncul. Ayo kita belajar menjadi asertif untuk kesehatan mental yang lebih baik! (RR)

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Kenali Cara Komunikasimu: Agresif, Submisif atau Asertif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: