Buka Perspektif

Tradisi Aceh dan Minangkabau: Dari Karakter dan Raja Perempuan hingga Prinsip Matrifokal

Hikayat Raja-Raja Pasai mengisahkan Puteri Betung atau Putri Dewi Indera sebagai leluhur Aceh, ditemukan oleh Raja Ahmad, yang muncul dari sebilah pohon bambu. Bustanu’s Salatin menceritakan empat pemimpin perempuan yang terus menerus memerintah pada abad 17 di Aceh Darussalam. Menariknya, gelar yang yang disandang oleh para penguasa perempuan, juga sama seperti penguasa laki-laki, seperti nenek dari Iskandar Muda disebut sebagai Paduka Shah Alam’ atau ‘Penguasa Semesta’. dan Safiatuddin disebut sebagai ‘Paduka Seri Sultan Tajul Alam’. Begitupun dengan Minangkabau. Kaba Cindua Mato merupakan kisah lisan anonim yang diketahui secara luas oleh masyarakat tentang Bundo Kanduang, raja perempuan yang menguasai Alam Minangkabau. Ialah penjaga dan penguasa kerajaan Pagaruyuang yang menerapkan sistem demokratis dalam memutuskan sebuah perkara berdasarkan mufakat dari para anggota pemerintahannya. Lebih lanjut, meskipun perempuan, Bundo Kanduang selalu dikisahkan sebagai raja, dibandingkan ratu. Tak hanya sebagai raja yang hebat dan bijak, ia juga merupakan seorang ibu yang secara sosial menunjukkan relasi sangat kuat dengan anaknya, dan tak pernah ada pengkisahan ia sebagai seorang istri.

Tradisi Aceh dan Minangkabau lekat dengan prinsip matrifokal. Matrifokal dapat berupa :
️ pengakuan peran ibu sebagai pusat, baik secara kultural maupun struktural dalam sistem kekerabatan;
 hubungan didalam masyarakat dimana perempuan dan laki-laki setara, termasuk peran penting perempuan di ranah ekonomi.

Dalam tradisi Aceh dan Minangkabau, rumah sangat berkaitan dengan perempuan dimana ia memiliki posisi sentral secara kultural, struktural dan juga ekonomi. Dalam Bahasa Aceh, istri disebut sebagai seseorang yang memiliki rumah (njang po rumoh) sehingga meskipun suami dan istri bercerai, maka rumah tetap menjadi hak milik perempuan, bukan harta bersama antara istri dan suami. Dengan demikian, sementara perempuan tinggal di kampung karena ia telah memiliki tempat, posisi, dan otoritas lewat tanah dan rumah, laki-laki beranjak menuju dewasa saat mereka meninggalkan rumah ibu mereka melalui proses merantau. Minangkabau pun menunjukkan perempuan sebagai sentral dari Rumah Gadang dan pemegang kunci dari properti sistem kekeluargaan. Disebut juga sebagaiBundo Kanduang, perempuan memiliki kontrol terhadap tanah dan hubungan kekeluargaan. Ia juga membuat keputusan berkaitan dengan ritual adat dalam kelompoknya (disebut sebagai kaum).

Lebih lanjut, kepemilikan tanah yang tersentral pada perempuan, membuatnya berkontribusi aktif secara ekonomi. Di Aceh, laki-laki disebut sebagai mita peng (pencari uang) dan perempuan sebagai mita breuh (pencari beras). Oleh karena itu, serupa dengan Bundo kanduang, perempuan Aceh memiliki kendali terhadap tanah dan hasil panen. Karena kontrolnya terhadap produksi padi, maka perempuan yang menjadi pedagang merupakan hal biasa. Di Minangkabau, ketika ibu meninggal, maka anak perempuan yang mendapatkan hak penuh atas tanah. Laki-laki memiliki kontrol terhadap sawah saat tidak ada lagi kerabat perempuan dalam silsilah kekerabatannya.

Ideologi gender Order Baru yang membatasi peran perempuan sebagai istri dan ibu telah membuat rumah menjadi sesuatu yang domestik, sehingga bersifat privat dan non-ekonomi. Hal ini jelas mengecilkan posisi perempuan berdasarkan prinsip matrifokal tradisi Aceh dan Minangkabau. Lebih lanjut, pergeseran dari pertanian ke industri semakin memposisikan ranah domestik sebagai non-produktif; yang pada akhirnya menggerus budaya Aceh dan Minangkabau yang sejak awal tak mempersoalkan posisi sentral perempuan dan tak mengenal pembedaan publik-domestik, termasuk posisi ibu yang kuat dan memegang pengaruh penting dalam pengambilan keputusan dalam struktur adat. (ED)

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Tradisi Aceh dan Minangkabau: Dari Karakter dan Raja Perempuan hingga Prinsip Matrifokal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: