Buka Cerita

Apa itu TGPF Mei 1998?

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 dibentuk pada 23 Juli 1998 untuk mengungkap fakta, pelaku dan latar belakang peristiwa 13-15 Mei 1998. Pembentukan ini berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita dan Jaksa Agung. Selain pemerintah Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia, Lembaga Swadaya Masyarakat dan organisasi masyarakat lainnya turut terlibat dalam TGPF.

Bagaimana TGPF Mei 1998 terbentuk?

Pada 13 Juli 1998, Tim Relawan untuk Kemanusiaan – TRuK mengungkap bahwa terdapat indikasi penyerangan seksual, khususnya dalam bentuk perkosan massal terhadap perempuan etnis Cina yang dilakukan secara sistematis dan meluas di beberapa titik kerusuhan. TRuK mengidentifikasi 168 pelaporan dari korban kekerasan seksual, dengan 152 korban di area Jakarta dan sekitarnya sementara selebihnya tersebar di Solo, Medan, Palembang dan Surabaya. Dari 152 korban, terdapat 103 korban perkosaan (1 meninggal dunia), 26 korban perkosaan dan luka sayatan (9 meninggal dunia), 9 korban perkosaan dan pembakaran (seluruhnya meninggal dunia), dan 14 korban pelecehan seksual (1 meninggal dunia). Namun, pemerintah tidak mempercayai laporan ini.

Pada 15 Juli 1998, Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan bertemu B.J Habibie membawa petisi dengan 4,000 tanda tangan yang menuntut pertanggungjawaban Negara terhadap kekerasan seksual yang terjadi. Mereka mengajukan tuntutan, yakni (1) investigasi kerusuhan Mei 1998, termasuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan; (2) adili dan berikan sanksi tegas terhadap pelaku dan penanggungjawab terhadap tindak kekerasan terhadap perempuan; 3) adanya pernyataan publik dari Presiden RI untuk mengutuk perkosaan yang terjadi serta menyatakan maaf kepada para korban dan keluarganya. Pada hari itu juga Presiden menyampaikan pernyataan publiknya.

Apa Temuan TGPF Mei 1998 mengenai Perkosaan dan Serangan Seksual Lainnya?

Berdasarkan hasil investigasi selama tiga bulan, TGPF Mei 1998 menjelaskan bahwa :

1) korban kerusuhan Mei 1998 adalah individu yang menderita trauma fisik dan psikologis karena kerusakan material, seperti pembakaran dan perusakan rumah dan tempat-tempat bisnis, serta barang jarahan; maupun berbagai tragedi kekerasan terjadi, seperti pembakaran, penembakan, termasuk kehilangan pekerjaan, penyiksaan, penculikan dan kekerasan seksual;
2) kekerasan seksual, termasuk perkosaan terjadi saat peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998. Tindakan ini dilakukan oleh pelaku yang jumlahnya tidak spesifik terhadap korban yang jumlahnya juga tidak spesifik diberbagai tempat dengan waktu yang bersamaan. Hampir seluruh korban kekerasan seksual adalah perempuan etnis Cina.

TGPF Mei 1998 memverifikasi 85 kasus kekerasan seksual berdasarkan data dari Ikatan Dokter Indonesia. Ada empat bentuk kekerasan seksual yang terjadi, yakni 52 kasus perkosaan, 14 kasus perkosan disertai penganiayaan seksual, 10 kasus penganiayaan seksual dan 9 kasus pelecehan seksual. Data tersebut diperoleh dari beberapa sumber, baik dari tuturan langsung korban, anggota Asosiasi Medis Indonesia, keluarga korban, saksi, psikolog serta psikiater, dan pendamping serta konselor dari komunitas keagamaan. Lebih lanjut, sebagian besar kasus perkosaan merupakan perkosaan berkelompok.

Selain itu, TGPF juga menemukan kasus kekerasan seksual, yakni pelecehan seksual, di berbagai tempat ataupun setelah bulan Mei, yakni 5 kasus di Medan (pada 4-8 Mei 1998), 2 kasus di Jakarta (pada 2 Juli 1998) dan 2 kasus di Solo (pada 8 Juli 1998).

Perbedaan data antara TRuK dengan TGPF Mei 1998 menunjukkan bahwa para penyintas tidak bersedia untuk mengadukan kasusnya kepada anggota TGPF, terutama pada pihak pemerintah yang dalam hal ini militer, karena tidak ada jaminan perlindungan baik bagi saksi maupun penyintas. Lebih lanjut, dengan tidak adanya korban yang memberi kesaksiannya di publik membuat aparat Negara dan masyarakat menyangkal terhadap kekerasan seksual yang terjadi. Laporan TGPF Mei 1998 diserahkan pada Pemerintah, melalui Kementerian Kehakiman. Namun, tidak ada tindak lanjut terhadap laporan tersebut hingga saat ini. (ED)

#MariIngatMei #LaporanTGPFMei1998 #TragediMei1998#KitaTidakLupaPerkosaanMei1998 #GerakBersama #KomnasPerempuan#Qbukatabu #RuangBelajarSeksualitas #FaktaSejarah #TolakLupaSejarah#PulihkanKorban #CegahKeberulangan #DukungKorban#KekerasanSeksualBukanLelucon

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Apa itu TGPF Mei 1998?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: