Tabumania, jargon-jargon Merdeka di bulan Agustus dalam perayaan HUT RI mungkin sudah berlalu. Namun jika ketika membicarakan kemerdekaan, tidak hanya soal selebrasi dan kedaulatan negara. Kemerdekaan bisa dimaknai pula sebagai kebebasan. Kebebasan berbicara, kebebasan untuk memilih pekerjaan, kebebasan untuk menikah atau tidak menikah, kebebasan untuk menentukan identitas seksual maupun orientasi seksual.
Kita pun bisa melekatkan kemerdekaan dengan keseharian kita; kemerdekaan dari tuntutan orang tua dan tuntutan masyarakat. Sudah seyogyanya kita bebas menentukan nasib kita sendiri, baik yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.
Hanya saja, di depan mata tidak sesederhana bayangan kita. Kemerdekaan secara ekonomi belum terjadi. Nilai tukar rupiah terhadap sebagian besar mata uang asing masih meluncur tajam. Harga-harga kebutuhan pokok masih melambung. Pemutusan kerja di mana-mana. Janji 19 juta lowongan kerja tak juga ada.
Belum lagi kasus kekerasan seksual, KDRT dan kasus femisida masih banyak terjadi. Tidak melupakan juga kekerasan yang terjadi terhadap kawan-kawan ragam gender.
Jika membicarakan femisida maka kita perlu menilik akarnya yaitu patriarki. Patriarki bisa dikatakan sebagai pihak yang mengontrol, mengambil keputusan, dan memiliki kuasa. Hal ini menempatkan posisi gender yang tidak setara. Struktur patriarkal bisa memengaruhi bagaimana masyarakat melihat dan memperlakukan kawan-kawan ragam gender.
Namun, selengkapnya Tabumania bisa membaca bahasan kali ini. Tim Redaksi Qbukatabu akan menyajikan bahasan tentang patriarki. Ada juga bahasan tentang bagaimana etika AI dan pekerja kreatif queer. Lalu bisa juga membaca bahasan tentang kerja keperawatan. Kemudian ada juga bahasan tentang perawatan diri (self care).
Redaksi ingin mengajak Tabumania melihat pada diri masing-masing bagaimana melihat kemerdekaan seutuhnya. Utamanya kemerdekaan untuk diri sendiri, kemerdekaan mengekspresikan diri dalam kehidupan sehari-hari.

0 comments on “Sudah Saatnya Membebaskan Diri Sendiri”