Olahraga di keseharian kita memang diperlukan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Ada yang melakukannya setiap hari, ada pula yang menjalankannya seminggu sekitar 1 hingga 2 kali. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing kapan mereka akan melakukan olahraga. Pilihannya pun bisa beragam. Mulai dari lari, jalan kaki, stretching, yoga, pilates, dll. Namun, saat bulan ramadan, olahraga bisa menjadi tantangan tersendiri. Karena apabila tidak dilakukan dengan bijak, justru akan membuat lemas dan puasanya pun bisa batal.
Lalu apa yang perlu dilakukan agar olahraga tetap lancar, begitu pun bisa menjalankan puasa dengan baik? Solusi yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah dengan mengubah waktu kapan sebaiknya olahraga itu dilakukan. Banyak praktisi kesehatan, dokter, maupun pemengaruh (influencer) kesehatan yang membagikan tips waktu terbaik untuk melakukan olahraga di waktu puasa.
Salah satunya dr. Fransiska Eltania, Sp. FKR, M.kes A3M, AIFO-K RS. Menurut dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi ini dengan melakukan olahraga ringan saat puasa dapat membantu seseorang tetap bugar asal dilakukan dengan tepat.
Tips darinya yang mungkin bisa dipertimbangkan Tabumania, yaitu ia menyarankan untuk menentukan waktu yang tepat. Menurutnya waktu terbaik untuk berolahraga yaitu 30-60 menit sebelum buka puasa atau setelah tarawih. Pilihan tersebut bisa menjadi pertimbangan karena Tabumania bisa segera memperoleh asupan cairan maupun energi setelah olahraga. Durasinya pun sebaiknya tidak terlalu lama, cukup 20-40 menit saja agar tubuh tetap bugar dan tidak lemas berlebihan.
Pernyataan ini sejalan dengan pendapat dr. Tirta Mandira Hudhi melalui akun TikToknya @tirtacipeng. Menurutnya kalau kita ingin melatih Lactate Threshold atau menggeser asam laktat, jadi tubuh melakukan adaptasi dengan gula yang minimal jadi olahraganya itu sebelum berbuka puasa. “Misalnya saat ngabuburit. Itu kondisi gula di titik terendah. Jadi tubuh dipaksa olahraga dengan gula yang rendah. Artinya kamu rentan pingsan, jadi jangan terlalu ngepush. Tapi efeknya adalah kalau kamu melakukan konsisten sebulan, impactnya habis puasa itu luar biasa. Kamu daya endurancenya luar biasa. Kenapa? Karena kamu sudah melatih tubuh di kala kadar gula di sangat minimal.”katanya.
Selain sebelum berbuka, dr. Tirta juga memberikan pilihan lain kapan melakukan olahraga yaitu selesai salat Magrib. Setelah membatalkan puasa dengan makan kurma dan minum air putih lalu olahraga sampai menjelang salat Isya’. Pilihan lainnya dilakukan selesai salat tarawih. Namun, jika dilakukan selesai salat tarawih, risikonya adalah jam tidur pun berkurang. Atau jika suka olahraga sebelum sahur juga bisa dilakukan, hanya saja bangun tidurnya harus lebih awal.
Untuk pilihan olahraganya, dr. Fransiska menyarankan agar memilih olahraga dengan intensitas ringan-sedang seperti jalan santai, yoga, stretching atau bersepeda ringan. Hindari olahraga berat yang memiliki risiko membuat tubuh dehidrasi.
Sementara itu pemengaruh kesehatan dan olahraga Irsani di akun Instagramnya @irsani menyarankan agar tetap melakukan latihan beban saat puasa agar tetap bisa menjaga massa otot, menjaga energi dan kebiasaan. Latihan bebannya pun tidak perlu sampai capek atau berat. Target tingkatan capeknya di level 5-6 dari 10. “Yaitu saat melakukan gerakan masih bisa ngomong, nafas mulai naik, tapi gak pusing. Berhenti atau turunan intensitas (latihan) jika gemetar, mual, atau pusing.”katanya. Untuk waktu olahraganya pun senada dengan dr. Fransiska dan dr. Tirta yaitu sore menjelang buka atau setelah buka puasa.
Olahraga lain yang mungkin bisa dipilih adalah jalan kaki. Olahraga ini mungkin terlihat sepele tetapi bisa memberikan manfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Tidak terlalu banyak energi yang dikeluarkan, bisa dilakukan menjelang berbuka saat ngabuburit sekalian mencari takjil. Jalan kaki membantu kita menurunkan berat badan, mencegah diabetes tipe 2, mencegah osteoporosis, memperkuat daya tahan tubuh, mencegah serangan jantung, dan mengurangi stres. (alodokter.com)
Agung Vikas IFBB Pro, seorang atlet binaraga dan pemengaruh kesehatan melalui akun instagramnya @agungvikas.m.h menyarankan jenis olahraga yang bisa dilakukan 30-60 sebelum buka puasa yaitu latihan beban ringan-menengah, circuit training dan cardio ringan seperti incline walk dan sepeda santai. Sedangkan olahraga yang dilakukan 60-90 setelah berbuka yaitu latihan beban berat dan progressive overload. Hal ini bisa dilakukan karena tubuh sudah memiliki energi cairan, performa pun lebih optimal.
Hanya saja, dr. Naufal Al Hakim Salsabila melalui akun instagramnya @naufalkse mengingatkan agar olahraga saat puasa berhasil maksimal maka kita perlu menjaga asupan makan. Yaitu mengonsumsi cukup protein, tidur teratur dan pola makan yang terencana. Massa otot bisa menyusut jika hanya puasa tapa latihan beban. massa otot tetap terjaga apabila puasa dikombinasikan dengan latihan beban yang terukur. Terkait asupan makanan pun juga disinggung dr. Fransiska. Ia mengingatkan untuk memperhatikan asupan saat sahur dan berbuka dengan gizi seimbang dan cukup cairan.
Ini berarti bisa dikatakan berpuasa, tidak bisa menjadi alasan untuk tidak melakukan olahraga. Puasa memang membuat tubuh tidak berenergi, mudah capek dan lemas. Tetapi dari beberapa masukan dari dokter maupun pemengaruh kesehatan, asalkan bisa memilih waktu yang tepat dan jenis olahraga yang baik, kita pun bisa memperoleh manfaat berolahraga saat puasa.

0 comments on “Boleh Gak sih Olahraga saat Puasa?”