Juni lalu kita memperingati bulan kebanggaan bagi seluruh ragam gender dan seksualitas. Peringatan ini biasa dikenal juga dengan sebutan Pride Month, atau Bulan Bangga. Bulan Bangga bermula dari perlawanan di Stonewall Inn oleh komunitas queer kulit berwarna dari kelas sosial yang dianggap rendah dan dipinggirkan. Mereka melakukan protes besar-besaran dan memperjuangan keadilan atas kekerasan fisik, rasial, dan represi identitas yang dilakukan oleh aparatus kolonial yang cis-heteronormatif. Perlawanan ini kemudian menjadi momen kebebasan bagi komunitas queer yang spiritnya terus dirawat dan dirayakan tiap tahun di bulan Juni. Lebih lanjut, Tabumania dapat pula membaca sejarah singkat Bulan Bangga di artikel yang pernah kami tulis ini. Walau Juni telah berlalu, namun kebanggaan itu akan terus menyala di sepanjang jalan.
Semangat perlawanan tersebut terus menguat, mengakar, dan menyebar ke pelbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dinamika sosial, politik dan kultural di masing-masing daerah juga berpengaruh terhadap bagaimana kita melakukan ekspresi sekaligus resistensi terhadap kekuasaan yang menindas. Namun selalu ada harapan yang layak untuk kita rawat, selalu muncul inisiatif alternatif yang bisa kita upayakan bersama.
B dari Komunitas Bambu mengungkapkan bahwa ia dan kawan-kawannya tetap harus bersiasat ketika hendak merayakan Bulan Bangga di daerah mereka di Makassar. “Kami bertahan dalam situasi tekanan dan bertumbuh bersama komunitas di tengah-tengah banyaknya masyarakat yang homofobik dan transfobik,” ungkap B.
B menuturkan pula bahwa di tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya, Komunitas Bambu rutin merayakan Bulan Bangga dengan berkumpul bersama. “Kami merayakan Pride Month dengan tim kerja dan teman-teman LBQT (Lesbian Biseksual Queer Trans) dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan,” tutur B. “Kami biasa bermain di timezone (tempat hiburan arkade populer yang lazim ditemui di mal) atau cukup berkumpul di kantor dengan bermain kartu,” lanjut B.
Sempat terlintas dalam harap B dan kawan-kawan bila suatu saat nanti mereka dapat melakukan parade dengan lebih leluasa. Namun, keinginan ini perlu mereka negosiasikan karena tekanan pemerintah dan masyarakat masih menghantui. Persoalan senada diungkapkan pula oleh Zuma dari Forum Pengada Layanan (FPL). Zuma teringat sedekade silam, kala ia mengikuti parade Bulan Bangga di Jakarta. Ia mengisahkan bahwa kawan-kawan yang hadir pada saat itu dapat mengibarkan bendera kebanggaan dengan leluasa dan tanpa rasa takut.
“Tahun-tahun setelahnya saya ikut tapi sangat tertutup sekali dalam ruang-ruang privat misalnya di kantor kedutaan dan jika aksi juga kita tidak berani lagi membawa atribut bendera,” ungkap Zuma. Sebagai seorang ally (sekutu), Zuma turut merasa sedih dan kecewa dengan represivitas yang makin masif dari tahun ke tahun, “Agak miris ya, tapi kita tidak boleh kehilangan harapan pada gerakan ini di tengah dunia dan negara yang tak menjadikan keadilan dan inklusivitas sebagai agenda prioritas,” tegas Zuma menambahkan.
Sepanjang momen Bulan Bangga ini, Zuma merefleksikan pula peran dirinya sebagai seorang sekutu. Ia merasa perlu berperan aktif dalam menciptakan ruang inklusif dan bebas diskriminasi dengan tak hanya berdiri di belakang, melainkan di samping dan berjalan bersama kawan queer. “Penting untuk mendengarkan dan belajar dari pengalaman kawan-kawan, turut menyuarakan ketidakadilan, melawan queerfobia bahkan dalam obrolan ringan sehari-hari. Menjadi garda terdepan ketika kawan-kawan membutuhkan pendampingan hukum dan dukungan nonlitigasi lainnya. Lalu advokasi kebijakan yang dapat mendukung pemenuhan hak maupun advokasi untuk menghentikan kebijakan yang diskriminatif,” runtut Zuma.
Tak kalah penting, ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kenyamanan dan partisipasi kawan queer setiap mengadakan kegiatan, “Kita juga perlu menghindari sikap tokenisme. Menjadi allies adalah komitmen jangka panjang. Penting untuk terus bersolidaritas sekecil apapun bentuknya, bukan hanya pada Pride Month saja tapi setiap hari,” pungkas Zuma.
Sepanjang bulan ini, B memaknai momen Pride Month sebagai perayaan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Bulan Bangga tak lain juga adalah momen pengingat bahwa ada banyak hal yang perlu kita rayakan, B memulainya dari proses merawat komunitas, membangun solidaritas untuk saling mendukung, merangkul dan membersamai. “Dunia mungkin saat ini belum ramah, dan kita belum memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri, tapi mari rayakan Pride Month-mu dengan caramu sendiri. Mari ciptakan kebanggaan dan kebahagiaan untuk dirimu,” ujar B menebarkan pesan cinta kepada kita semua.
Jadi, bagaimana dengan Tabumania? Semoga selalu ada pula keriaan dan suka cita sepanjang Tabumania merayakan Bulan Bangga lalu ya! Peringatan yang barangkali dianggap sederhana, bisa jadi adalah sesuatu yang luar biasa karena dilakukan bersama orang-orang tersayang. Perayaan kecil-kecilan yang kita lakukan menjadi sesuatu yang sangat istimewa dan bermakna bila kita memenuhinya dengan perasaan yang raya nan Bangga.
_________
Penulis: Himas Nur (she/her), penulis buku “Menjelajahi Diri, Memeluk Intimasi: Kajian Panseksualitas di Indonesia” (2023)

0 comments on “REFLEKSI PERAYAAN KECIL-KECILAN DI BULAN PENUH KEBANGGAAN”