Buka Layar

Para Freelancer Hadapi Pandemi

Tabumania, tahu dong kalau 1 Mei merupakan peringatan Hari Buruh Internasional. Sejak tahun 2014, Indonesia bahkan menetapkannya sebagai hari libur nasional. Di momen itu biasanya ribuan buruh akan turun ke ruas-ruas jalan untuk melakukan aksi dengan beragam tuntutan agar kesejahteraan buruh dipenuhi. Misalnya dibayarkan gaji dan tunjangan hari raya tepat waktu, memberikan cuti haid bagi buruh perempuan, dan yang pernah dilakukan di tahun 2020 lalu adalah aksi tolak UU Cipta Kerja.

Saat ini, Indonesia telah memasuki tahun kedua pandemi Covid-19. Selama masa dua tahun, berita di televisi, media sosial, curhatan netizen di instastory dan lainnya, telah memperlihatkan dampak yang terjadi dari pandemi kepada pekerja di Indonesia. Pemotongan gaji, pemutusan hubungan kerja, sulit mencari pekerjaan, menjadi pengangguran, dan stres. Alih-alih sejahtera menuju lebaran, dapat mempertahankan cash flow sudah langkah yang cukup baik.

Tabumania, bicara soal kondisi pekerja di masa pandemi yang tak kunjung membaik, juga dirasakan oleh pekerja lepas atau istilah milenialnya disebut freelancer. Freelancer yang mulanya ramai job karena proyek turun lapangan, pertunjukan seni, dan aktivitas lainnya kini sepi job. Terlebih, freelancer kerap ditempatkan pada posisi tawar rendah, yang menyebabkan pemilik modal lebih berkuasa untuk mengambil keputusan, pengabaian pada kelayakan upah, ketepatan pembayaran upah, bahkan tenggat waktu kerja yang kadang mepet. Berada di posisi rentan ditambah situasi ekonomi yang sulit membuat freelancer kadang ditempatkan pada posisisi “mau tidak mau” dengan tawaran tersebut.

Oleh karena itu, penting banget di peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini mengangkat cerita dari para freelancer ketika menghadapi pandemi.

Adalah Retno Utami, perempuan yang hobi membaca novel ini telah enam tahun berprofesi sebagai freelancer khususnya di bidang produksi kesenian seperti teater, tari dan performing art lainnya. Ia menuturkan, selama pandemi pertunjukkan seni menjadi terbatas, dan kru yang terlibat juga sedikit karena kondisi yang serba daring sehingga menekan anggaran produksi. Hal itu tentu bertolak belakang dengan aktivitas di masa sebelum pandemi, yang berdasarkan pengalamannya dalam satu bulan bisa mengerjakan beberapa project sekaligus.

Sebagai freelancer yang diharuskan sigap untuk memutar roda ekonomi, Retno Utami juga  mencoba menggeluti usaha lain untuk membantunya bertahan, seperti usaha kuliner dan rental mobil. Usaha kuliner telah berhenti di awal pandemi tahun lalu, tetapi rental mobil masih tetap berjalan walau dengan catatan perputaran yang cukup lambat.

Sejak lulus kuliah, Retno Utami memang lebih suka menjadi wiraswasta dan aktif bersama dengan teman-temannya di bidang produksi dan pertunjukan seni. Lingkungan kerja yang nyaman membantunya menumbuhkan rasa percaya diri. Meski demikian, menurutnya masih ada orang yang memandang sebelah mata profesi tersebut “Sangat disayangkan pekerjaan seperti yang saya geluti sebagai orang di balik layar produksi pagelaran kesenian dianggap suatu pekerjaan yang tidak menjanjikan di masa depan.” Ia menambahkan bahwa menjadi freelancer memang memiliki tantangan, misalnya tidak ada standarisasi pembayaran/upah, dan tidak ada jaminan kesehatan/asuransi lainnya. Faktor tersebut yang membuat sebagian orang menjadi enggan/berpikir ulang untuk menjadi freelancer.

Perempuan yang juga hobi menonton film ini juga mengatakan di tahun 2021 telah mengakses program kartu prakerja yang disediakan pemerintah. Menurutnya, program prakerja tersebut mudah diakses dengan gawai, tinggal melakukan pendaftaran dan menunggu proses, kemudian dapat mengikuti jenis pelatihan yang disediakan. Dari pelatihan tersebut, Retno mengakui ada peningkatan kemampuan tentang perencanaan usaha dan manajemen marketing. “Iya, saya ambil dua pelatihan terkait management dan satu strategi marketing yang cukup membantu saya untuk usaha rental yang saya rintis.” Tuturnya.

Lain lagi cerita yang datang dari Nday, perempuan yang juga hobi membaca dan nonton film ini telah menjadi freelancer dari tahun 2014. Baginya pekerjaan sebagai freelancer lebih menyenangkan karena dapat menjalankan hobinya yang lain yaitu travelling, sehingga freelancer dirasa cocok karena tidak terikat waktu kerja dan cuti.

Nday merupakan freelancer di bidang penelitian, terjemahan bahasa, pencatatan/salinan, dan lain-lain. Ketika ditanya perbedaan aktivitas kerja, menurutnya di waktu pandemi ia lebih banyak memiliki waktu luang, berbeda dari masa sebelum pandemi yang digunakan untuk bekerja dan kurang waktu bersantai. Namun, yang paling terasa dan berkaitan dengan cash flow ialah di masa pandemi ia merasakan banyak project kerja yang dibatalkan dan tawaran pekerjaan kerja yang semakin minim. Bahkan, berdasarkan ceritanya pernah beberapa bulan tidak bekerja pada saat awal pengumuman pembatasan sosial berskala besar di Jakarta di tahun 2020.

Bagi Nday, sebagai freelancer memang harus jeli mengatur cash flow untuk mengantisipasi keadaan yang tidak terduga. Menyiapkan dan menyisihkan tabungan menjadi penting untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, seperti contoh membayar uang sewa. Ia juga berharap ke depannya di masa transisi pandemi tawaran pekerjaan menjadi lebih banyak agar untuk pemenuhan biaya sehari-hari tidak hanya dari uang simpanan.

Sebagai freelancer yang sudah berpengalaman, Nday juga tidak terlalu peduli dengan orang yang memandang rendah pekerjaannya. “Sudah tidak terlalu ambil pusing karena dari dulu tidak pernah menyusahkan keluarga, apalagi sampai minta uang. Kalau dari teman atau masyarakat sih saya ga terlalu peduli.” Ujarnya.

Tabumania, freelancer juga pekerja yang berkontribusi pada perputaran ekonomi di Indonesia. Di Hari Buruh International, mereka juga memiliki perjuangan agar sebagai pekerja mereka dapat menjalani kehidupan yang layak dan sejahtera. Mereka berharap para penyedia jasa berbagai jenis pekerjaan, dapat lebih fleksibel, tidak membedakan latar belakang dari usia, agama, suku, dan identitas gender lainnya.

Oleh karena itu, penting banget para penyedia jasa yang kerap mempekerjakan para freelancer ini juga memberikan kelayakan upah, ketepatan pembayaran, bahkan penghargaan lain bila target pekerjaan dapat dijalankan sesuai dengan kesepakatan.

Tidak lupa, bagi siapapun yang ingin menjadi freelancer agar terus mengasah kemampuan yang dimiliki. Dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dan memaksimalkan sumber daya yang ada, juga menjadi peran penting untuk keberlanjutan roda ekonomi para freelancer.

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Para Freelancer Hadapi Pandemi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: