Buka Perspektif

Candi Sukuh dan Candi Cetha

Tabumania, ketika seksualitas dan spritualitas taboo untuk diperbincangkan pada masa kini. Maka sejarah bicara hal yang berbeda.

Berlokasi di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh dan Candi Cetho merupakan candi bercorak Siwa-Buddha yang didirikan pada masa Kerajaan Majapahit di abad ke-14. Majapahit menjadi salah satu kerajaan yang memadukan ajaran Hindu-Buddha yang di tanah asalnya, India, saling bertentangan. Sinkretisme dua ajaran ini terjadi pada masa Hayam Wuruk dimana ajaran tersebut bersumber pada spiritualitas Tantra.

Tantra menegaskan tentang harmoni dan peribadatan melalui meditasi dan mistisisme dimana manusia, sebagai kosmos kecil, merupakan refleksi dari kosmos besar, yakni alam semesta. Hal ini juga sejalan dengan keyakinan Jawa kuno bahwa kehidupan dan kematian merupakan siklus yang terus berlanjut mengenai penciptaan, kematian dan kelahiran kembali. Dengan demikian, Siwa, sang penghancur dan pencipta alam semesta, yang juga memiliki karakter feminin, yakni Shakti, merupakan simbol dari siklus tersebut.

Lebih lanjut, tubuh merupakan sarana pencerahan, bukan penghalang jiwa menuju kosmos besar. Ketika seseorang mati, tubuhnya disucikan oleh ritual tertentu agar jiwanya dapat memasuki kondisi abadi di kosmos besar. Begitupun dengan penciptaan, ia ditempuh melalui ritus kesuburan yang ditandai dengan penyatuan lingga (penis) dan yoni (vagina).

Oleh karena itu, baik di Candi Sukuh maupun Candi Cetho terdapat simbol penyatuan lingga-yoni yang merupakan bagian dari spiritualitas Tantra. Pada Candi Sukuh, relief ini terletak di lantai pada gerbang masuk candi. Sementara pada Candi Cetho, arca lingga-yoni tersusun dari batu yang terhampar di halaman teras kedua. Arca ini tepat berada diatas arca garuda dengan sayap membentang.

Peninggalan sejarah ini jelas menunjukkan bahwa tubuh dan seksualitas tak terpisah dari makna sakral spiritualitas dimana energi dari kosmis kecil melebur bersama kosmis besar.

#yukkenalisejarah dengan agenda tour sejarah seksualitas ke #CandiSukuhdan #CandiCetha untuk lihat lebih dekat dan sejarah tidak terlupakan

About Edith

Yulia Dwi Andriyanti, biasa dipanggil Edith. Salah satu penggagas Qbukatabu dan berperan sebagai Editor in Chief. Memiliki minat yang besar di topik feminisme, queer, gerakan sosial, keimanan, memori dan emosi kolektif, sosiologi, filsafat dan hak asasi manusia. Pecinta serial Fruitbasket, Little Prince, suka menyanyi, nonton film dan pertunjukan, bisa sedikit main gitar dan ukulele. Ingin terus menulis, termasuk di blog sendiri: queerinlife.blogspot.com

0 comments on “Candi Sukuh dan Candi Cetha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: