Buka Layar

Racun Fandom Queer Thai, Budaya Shipping, dan Parasosial

Ketika Pandemi COVID 19 diumumkan sudah masuk ke Indonesia dan aktivitas banyak terhenti, saya banyak menghibur diri dengan mengeksplorasi berbagai film dan series asia, termasuk asia tenggara. Cakupan genrenya sangat luas, saya sungguh ingin mencoba hal baru dan merasakan sesuatu ketika merasa terkurung.

Saya menjadi sangat konsumtif pada produk budaya populer, beberapa tontonan saya setel dengan kecepatan 2.0x karena saya sudah adiktif menonton. Meski begitu saya ingat, ketika itu gairah paling besar untuk menonton bagi saya letaknya ada pada visualisasinya yang cantik, representasi kelompok yang jarang saya jumpai di budaya populer, dan kompleksitas tokohnya. Tidak banyak yang bisa memenuhi gairah itu di tahun 2020, hingga saya bertemu satu judul, “I Told Sunshine about You” (ITSAY) yang hingga kini masih bertengger dalam jajaran lima besar series paling berkesan dalam hidup saya.

Sejak membaca judulnya saya sudah tertarik, jika diartikan dalam bahasa Indonesia judulnya akan terdengar, “Kuceritakan pada Mentari yang Terbenam Tentangmu.” Tak hanya pada judulnya, visualisasinya pun tak kalah puitis. Emosi penokohan yang terasa nyata, detail-detail lokal komunitas chinese-thai yang kental dengan simbolisme-simbolisme visual yang epik. Simbolisme yang bukan hanya tempelan tetapi dapat menyampaikan dinamika hubungan tokohnya. Pergolakan batin anak remaja tentang seksualitasnya yang kompleks tapi tetap dapat menciptakan dinamika yang relatable.

 ITSAY memberikan kesan yang besar bagi saya. Sebagai manusia yang terkurung saat itu dan mendambakan koneksi antar manusia, melalui ITSAY saya bisa merasakan sesuatu. Itu pertama kalinya saya berkenalan dengan sinema BL (boys’ love) Thailand. Sebelumnya beberapa kali saya menonton queer sinema, tapi saya belum menemukan yang seperti itu. Seringkali isinya menggunakan kacamata heteroseksual dan syarat akan adegan seks yang menurut saya terlalu berlebihan bahkan masuk ke dalam semi-porn. Saya butuh koneksi, bukan seks banal. Bagi saya, drama ITSAY mematahkan stereotip drama BL pada umumnya.

Sejak itu saya mulai meminta teman saya untuk merekomendasikan drama serupa. Ternyata, perhatian pada industri BL Thai saat itu memang sedang naik. Beberapa bahkan mulai diproduksi oleh rumah produksi besar dengan budget besar setara budget pembuatan film. Dengan budget mencapai 50 juta sampai 100 juta baht per proyek. Perlahan-lahan industri produksi GL (girls’ love) pun ikut naik, meski belum sebesar BL. Thailand pun disebut-sebut menjadi pemimpin pasar global untuk drama queer dengan pendapatan diperkirakan lebih dari 4.900 juta baht pada 2025.

ITSAY membuka pintu kepada sinema queer asia lainnya untuk saya. Judul-judul baru bermunculan. Saya secara aktif mengikuti akun-akun fandom untuk mengikuti update terkini. Beberapa akun kerap memublikasikan editan video dari drama tersebut dengan narasinya sendiri yang terasa dekat di kalangan penggemar fanfiction. Membawa saya masuk lebih dalam dan juga membuat mata saya lebih terbuka tentang industri ini.

Perkembangan Pasar Industri Queer Thai dan Budaya Shipping

Dalam satu dekade terakhir, industri hiburan Thailand mengalami lonjakan global melalui genre Boys’ Love (BL) atau queer romance. Memperluas pasar budaya pop Thailand ke Asia, Amerika Latin, hingga Eropa. Popularitas tersebut melahirkan komunitas fandom yang sangat aktif di media sosial. 

Salah satu praktik utama dalam fandom queer adalah shipping, yaitu tindakan memasangkan dua aktor atau aktris sebagai pasangan romantis. Shipping, sebutan di mana para aktor dan aktris terus dipasang-pasangkan, kerap membuat ilusi bahwa hubungan yang mereka miliki tidak hanya terjadi di depan layar tapi juga di belakang layar. Terlebih untuk terus mendapatkan dukungan fandom, kerap kali, aktor dan aktris yang bermain, disandingkan kembali di berbagai proyek lanjutan.

Dalam industri ini juga terdapat praktik pemasaran yang dikenal dengan sebutan fanservice. Fanservice dirancang untuk mempertahankan kedekatan romantis antar aktor tersebut, hingga ke luar layar, bahkan di beberapa kesempatan dapat berinteraksi langsung di depan penggemarnya. Praktik fanservice dapat berupa wawancara menggoda, interaksi fisik di acara promosi, atau konten media sosial yang memperlihatkan kedekatan personal antara aktor. Tujuan utamanya adalah memperkuat investasi emosional penggemar terhadap pasangan tersebut. Di satu sisi, fandom dipertahankan oleh industri untuk terus mendulang popularitas dan dukungan loyal dari penggemar, yang dapat mendatangkan uang

Hal itu mendorong penggemar menuntut agar dinamika romantis di layar terus dipertahankan di kehidupan nyata. Racunnya, ketika salah satu aktor menjalin hubungan dengan orang lain atau mencoba memisahkan diri dari pasangan layar mereka, reaksi keras dari fandom sering terjadi. Bahkan kerap terjadi fanwar, sebutan untuk praktik di mana ada permusuhan antar fandom hingga terjadi serangan kepada para artis pun terjadi. 

Dalam praktiknya, fandom tidak lagi menjadi audiens pasif. Mereka aktif memproduksi makna, membangun identitas kolektif, serta menciptakan konten seperti fan art, fan fiction, hingga kampanye media sosial yang mempromosikan pasangan favorit mereka. 

Praktik tersebut, mendorong hubungan parasosial penggemar. Hubungan parasosial merujuk pada hubungan emosional satu arah di mana audiens merasa memiliki kedekatan personal dengan figur publik yang sebenarnya tidak mengenal mereka. Membuat penggemar merasa memliki hak terhadap kehidupan para artis.

Kiat Menghindari Hubungan Parasosial

Suatu hari saya pernah melihat ada yang menyerang Billkin Putthipong dan PP Krit, aktor ITSAY. Meski fanservice yang mereka lakukan tidak intens seperti banyak drama lainnya tapi budaya shipping sepertinya sudah kental di kalangan fandom. Mereka menuntut dinamika relasi yang ditampilkan di layar terus berlanjut. Bagi aktor yang ingin mengerjakan proyek lain pun tidak mendapat dukungan dari kalangan fandom. Mereka ingin terus Billkin dan PP untuk disandingkan secara intens pada proyek-proyek selanjutnya, meski sudah ada judul kedua “I Promised You the Moon,” saya menangkap fans masih belum terpuaskan. 

Saya pribadi sudah terpuaskan dengan I Promised You the Moon, drama coming of age yang relatable, menunjukkan dinamika hubungan yang tidak selalu manis dan lancar serta perkembangan dan pendewasaan manusia yang tidak selalu bijak. 

Saya pun sempat berhenti mengikuti industri BL dan GL Thailand karena industrinya yang terlalu eksploitatif dan fandom beracunnya yang semakin tak terkendali. Queer baiting,  memanfaatkan emosi orang-orang queer untuk mempromosikan konten mereka. Di tengah kondisi masih sulitnya individu queer untuk diterima. Unsur queer baiting yang kental pada industri ini membuat saya gelisah. Apakah BL dan GL benar-benar menjadi representasi kelompok queer? Di luar dari proyek-proyeknya yang secara kapitalistik sukses dan mendulang banyak perhatian.

Untuk dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi individu queer bukan hanya sebagai komoditas, setidaknya jika Tabumania juga mengonsumsi konten romansa queer, ada lima kiat yang bisa kami berikan untuk menciptakan lingkungan fandom yang sehat. 

  1. Pisahkan Fiksi dari Kehidupan Nyata

Silakan nikmati hubungan pasangan tersebut sebagai konten fiksi, jangan memaksakan hubungan di kehidupan nyata. Apalagi sampai menyebarkan rumor tentang seksualitas atau kehidupan pribadi mereka. Tetapkan batasan yang jelas antara profesionalitas dan kehidupan pribadi.

  1. Hormati Pekerjaan Pekerja Seni

Camkan di kepala bahwa ini hanyalah sekedar pekerjaan mereka sebagai aktor dan aktris. Jangan menyerang seseorang karena menyukai pasangan yang berbeda. Mereka telah berdedikasi untuk menciptakan karakter yang bisa kita percaya, itu adalah seni. 

  1. Hindari Fetisisasi Kelompok Queer

Banyak penggemar romansa queer juga adalah heteroseksual. Homoseksualitas bukan hanya produk fiksi. Dengarkan suara LGBTQ+ di dalam komunitas penggemar. Kelompok queer, bukan hanya diperlakukan sebagai komoditas semata

  1. Tetapkan Aturan Komunitas yang Jelas

Jika diantara Tabumania ada yang mengelola ruang komunitas penggemar—baik itu Discord, Twitter, Instagram, Reddit, dan medium lainnya—aturan dapat membantu menjaganya tetap sehat. Batasan atau boundaries yang konsisten sangat penting.

Aturan yang dapat ditetapkan bisa berupa:

  • Tidak ada pelecehan atau ujaran kebencian
  • Tidak ada doxxing (penyebaran informasi pribadi) atau penguntitan terhadap aktor
  • Hormati kata ganti dan identitas
  • Berikan kredit kepada artis dan kreator
  1. Meningkatkan Literasi Media

Dengan membaca artikel ini, Tabumania sudah dipastikan telah menjalani kiat nomor lima. Literasi media sangat penting. Memahami mengenai bagaimana industri bekerja dapat meningkatkan daya kritisisme Tabumania agar tidak terjebak menjadi fans yang termakan bujuk rayu loyalitas fandom yang dikondisikan industri. Semoga Tabumania terbantu dengan artikel ini ya!

***

Oleh Yuviniar Ekawati, penulis adalah lulusan kejurnalistikan dan seorang penulis lepas pada beberapa media massa yang memiliki fokus pada isu gender dan anak.

Unknown's avatar

bisa dipanggil D (di), pembaca buku, penonton film, penggemar kopi

0 comments on “Racun Fandom Queer Thai, Budaya Shipping, dan Parasosial

Leave a comment