Buka Layar

Apa Human Design-ku?

Tabumania, mungkin ada yang bingung saat membaca judul artikel ini? Apa itu Human Design? Bangunan jenis apa? Apa saja bahannya? Bukan. Ini bukan bangunan. Tabumania bisa membaca lebih lanjut untuk lebih tahu apa itu Human Design dan apa pentingnya mengetahui Human Design masing-masing.

Untuk mengetahui apa itu Human Design, saya pun mewawancarai seorang Human Design reader, Kak Hayati Nufus namanya. Selain menjalani keseharian sebagai seorang peneliti (researcher) di sebuah badan riset milik pemerintah, Kak Nufus juga menggunakan modalitas seperti Tapas Acupressure Technique (TAT), Creative Trauma Cleansing, dan Theta Healing untuk membantu teman-teman memproses trauma, phobia, dan emosi yang kurang nyaman. 

Kak Nufus membuka obrolan kami dengan menceritakan pengalamannya saat mengetahui Human Design miliknya pertama kali. Ia tidak serta merta jadi seorang Human Design reader, melainkan merasakan terlebih dahulu manfaat mengetahui Human Design itu. Menurutnya, Human Design bisa dikatakan sebagai sebuah sistem pengetahuan yang dapat dipakai untuk membantu kita mengenal diri. Human Design juga dapat digunakan untuk mencari tahu apa peran yang kita mainkan saat hadir ke dunia ini, dan bagaimana kita bisa memainkan peran itu.

Ia menganalogikan Human Design sebagai buku petunjuk (manual book) yang diperoleh saat pertama kali membeli alat elektronik. Buku petunjuk itu akan menjelaskan bagaimana cara alat elektronik tersebut digunakan. Nah, Human Design sama dengan manual book itu.

“Di mana di dalamnya ada informasi-informasi dan panduan tentang cara terbaik kita untuk beroperasi itu seperti apa. Baik itu misalnya cara mengambil keputusan, cara kita berinteraksi dengan orang lain, kemudian istirahat yang baik buat kita itu seperti apa. Aktivitas yang cocok untuk kita bagaimana, cara belajar, cara men-digest (mengambil intisari) makanan dan informasi. Maupun berbagai hal lain yang mungkin seringkali membuat kita bertanya-tanya, aku itu punya potensi apa ya. Nah, Human Design juga punya informasi itu.”jelasnya melalui telepon.

Lalu ia pun menguraikan mengapa menyebut Human Design sebagai sistem pengetahuan, karena Human Design memang dibangun dari beberapa pengetahuan, baik pengetahuan klasik maupun modern. Human Design menggabungkan Chinese ancient wisdom, yaitu I’Ching dengan beberapa sistem pengetahuan lain seperti Western astrology, Kaballah, dan Chakra. Selain itu, Human Design juga bersinggungan dengan ilmu pengetahuan modern, seperti fisika kuantum dan epigenetics. Human Design bisa kita lihat sebagai sebuah pengetahuan baru yang membantu kita untuk melihat bagaimana cara energi dalam diri kita beroperasi. 

“Kemudian, ketika kita interaksi dengan orang lain itu bagaimana, mungkin pernah ada pengalaman misalnya, kok ketika dengan orang tertentu rasanya klop banget. Atau aku rasanya kayak mudah berinteraksinya tapi ada saat-saat di mana di sebuah lingkungan rasanya gak cocok. Hal-hal seperti itu yang bisa kita cari tahu di Human Design.”katanya.

Untuk mengetahui Human Design kita, diperlukan data-data tentang tempat, tanggal, dan jam lahir. Informasi tersebut dimasukkan ke dalam sistem Human Design, seperti pada website: https://www.jovianarchive.com/Get_Your_Chart. Setelah itu kita akan mendapatkan sebuah gambar peta diri yang seringkali disebut dengan Human Design chart. “Nah, fungsi dari human design reader adalah membantu teman-teman untuk menjelaskan human design chart-nya teman-teman itu seperti apa.”urainya.

Saya pun penasaran, apakah Human Design bisa digunakan untuk membantu kita dalam mengambil keputusan, seringkali kita dibuat bingung ketika ada sebuah keputusan yang harus diambil. Nah, dalam penjelasan Kak Nufus, di dalam Human Design ada banyak informasi yang bisa diperoleh dan dipakai untuk membaca atau mengenal diri kita, salah satunya adalah otoritas (authority). Authority inilah yang informasinya bisa kita pakai untuk menjelaskan cara kita membuat keputusan itu seperti apa. 

Human Design itu bantu kita, karena pengalamanku pribadi, dulu aku itu orang yang sangat sulit untuk mengambil keputusan, ketika aku membuat keputusan, seringkali dipengaruhi oleh apa kata orang. Misalnya, nanti ayah ibuku bilang apa kalau aku mengambil keputusan ini. Atau bos aku nanti akan marah nggak ya kalau aku ambil keputusan ini. Terkadang cara kita membuat keputusan, menimbang baik buruk segala macam itu juga kan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita dibesarkan. Lalu nilai-nilai apa yang memengaruhi kita, lingkungan kita, apa yang orang bilang baik atau apa yang orang bilang buruk seringkali jadi hal-hal yang membuat kita ragu sama kemampuan kita sendiri.”jelasnya.

Setelah mengetahui Human Design-lah yang membuat Kak Nufus jadi lebih memahami bahwa setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengambil keputusan, yang paling tepat dan sesuai dengan desain dirinya. Kak Nufus pun merasa setelah mengenal Human Design, ia jadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan. Ia tidak lagi menggantungkan keputusan pada bagaimana orang lain menilai. Bukan berarti tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain, tapi setidaknya ketika mengenal Human Design jadi lebih tahu apa yang ia mau.

“Mungkin kita seringkali dengar kalau ambil keputusan itu gak usah buru-buru, dipikirin baik-baik, mungkin gitu ya, tapi dalam Human Design itu kita gak bisa menyamakan semua orang. Ada orang yang memang saat membuat keputusan itu harus nunggu satu dua hari, dibawa tidur dulu gitu. Menunggu emosi yang dirasakan stabil baru bisa mengambil keputusan, tapi ada juga orang-orang yang cara mengambil keputusannya cepat, misalnya dengan mendengarkan intonasi suaranya ketika dia berbicara tentang apa yang dia putuskan. Atau bisa juga dengan merasakan bagian tubuhnya ketika dia mendengar atau diberikan pertanyaan tentang hal yang terkait dengan keputusannya itu, apakah ada perasaan excited atau tidak.”katanya. Kak Nufus juga menambahkan, “Jadi, itu membuatku juga menyadari bahwa masing-masing orang itu beda-beda lho. Dan kita gak bisa pakai cara yang sama, yang menurut kita benar misalnya, untuk kita mengarahkan orang lain. Misalnya, menurutku keputusan ini benar, kamu juga harus ikut aku, ternyata gak kayak gitu. Karena masing-masing orang itu punya caranya sendiri.”

Hanya saja, meskipun Human Design memberikan banyak manfaat, seperti dalam pengambilan keputusan, dalam membantu karir seseorang, dan bahkan dalam menyusun strategi jenama (branding), Kak Nufus juga mengingatkan agar berhati-hati, jangan sampai informasi yang diberikan Human Design membuat kita mengotak-kotakkan diri atau justru membatasi diri. “Jangan sampai ketika sudah tahu Human Design-nya, lalu bilang, kan gue Human Design-nya Projector, tipe yang nggak punya energi banyak, jadi nggak apa-apa gue malas-malasan. Nah, jangan sampai informasinya di-twist (dipelintir) jadi sesuatu yang malah mengkotak-kotakkan diri sendiri, karena di dalam Human Design itutidak ada desain yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Setiap desain membawa potensi dan tantangannya sendiri. Nah, untuk membantu menghadapi atau memproses challenges yangdimiliki, Human Design juga bisa dibantu dengan modalitas lain, seperti journaling, meditasi, TAT, ThetaHealing,  dan sebagainya.” Kak Nufus juga menyampaikan bahwa Human Design ini hanya serangkaian informasi, bagaimana informasi ini bisa bermanfaat, tergantung juga pada bagaimana kita menggunakannya.

Nah, gimana Tabumania, penasaran dengan Human Design-nya gak ni? Kalau mau tahu lebih lanjut informasi mengenai Human Design atau tertarik untuk mengenal diri lebih jauh, bisa mencari tahu dari akun Instagram kak Nufus di @hayatinu2, atau bisa juga berkenalan dengan @mengakarmenjalar, sebuah inisiatif yang kak Nufus bangun bersama tiga orang temannya untuk membantu perjalanan teman-teman sekalian agar bisa hidup lebih selaras dengan desain diri.

0 comments on “Apa Human Design-ku?

Leave a comment