Buka Layar

Ringkasan Film “Flat Girls”

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler film, jika Tabumania belum menonton filmnya dan tidak menyukai spoiler, bisa berhenti membaca review film Flat Girls ini.

Salah satu daya tarik film dengan genre coming-of-age adalah rasa kedekatan penonton dengan cerita yang mengangkat tema-tema universal tentang jati diri, proses tumbuh, dan masa transisi dari masa kecil ke dewasa. “Flat Girls” garapan Jirassaya Wongsutin menjadi salah satu film bergenre coming-of-age yang mengeksplor tema persahabatan yang diperdalam dengan eksplorasi realita isu ekonomi dan sosial.

Film disajikan dengan bumbu asmara yang menyampaikan tentang perjalanan penemuan identitas diri. Melalui “Flat Girls”, Wongsutin berusaha mengeksplorasi kisah persahabatan Jane dan Ann. Keduanya merupakan anak dari anggota polisi di Thailand dan bertempat tinggal di rumah susun polisi. Sebagai dua remaja perempuan yang tinggal di tengah kesempitan ruang hidup, kehidupan Jane dan Ann diwarnai satu sama lain dan juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi bersama. Persahabatan dan pencarian identitas diri.

Persahabatan Jane dan Ann dimulai sejak mereka lahir di rumah susun polisi tersebut. Selain tinggal bersama, mereka juga duduk di bangku SMA yang sama. Keseharian pun mereka habiskan bersama-sama. Mulai dari berangkat sekolah, menimba ilmu di sekolah, menawar tuk-tuk untuk pulang ke rumah susun, hingga bertanding badminton.

Selain itu, mereka juga sering mengunjungi dan bermalam di unit satu sama lain. Kedekatan tersebut kemudian membuat mereka mencari identitas diri—mengeksplor perasaan dan ketertarikan terhadap satu sama lain. Namun, perasaan dan hubungan antara kedua tokoh menjadi semakin rumit ketika seorang anggota polisi muda, Tong, diperkenalkan seiring berjalannya film.

Jane dan Ann yang awalnya ibarat pinang dibelah dua, menjadi meragukan perasaan terhadap satu sama lain semenjak mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan Tong. Jane dan Ann menunjukkan gestur-gestur bahwa mereka saling merasa tidak suka dan nyaman ketika salah satu dari mereka memiliki kedekatan lebih dengan Tong. Hingga pada pertengahan film, penonton diajak untuk memikirkan hubungan segitiga di antara tiga tokoh ini.

Kebingungan dan ketakutan Jane untuk menyukai Ann, yang adalah seorang perempuan. Bagaimana Ann menghadapi kebingungan dan ketakutan sahabatnya tersebut, sembari menaruh rasa suka padanya. Pertanyaan-pertanyaan kemudian muncul. Apakah cinta Ann terhadap Jane akan dibalas oleh sahabatnya tersebut? Ataukah Jane justru menyukai Tong, yang malah terlihat tertarik kepada Ann? Film ini memberikan gambaran tentang kebingungan dan kefrustrasian individu queer dalam mencari dan menerima identitas diri di tengah masyarakat yang heteronormatif. Ketimpangan sosio-ekonomi dan juga relasi kuasa dalam hubungan: antara ambisi dan realita.

Cerita romansa segitiga yang dialami oleh Jane, Ann, dan Tong ternyata tidak sebatas menggambarkan tentang rumitnya mencari jati diri dan pasangan hidup. Kisah ketiganya menggambarkan bagaimana asmara dalam konteks masyarakat saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi. Selain itu, kisah romansa ketiga tokoh tersebut juga menunjukkan bagaimana penyalahgunaan relasi kuasa dalam hubungan dapat dengan mudah terjadi.

Dalam film ini, kedua tokoh utama digambarkan sebagai anak polisi yang memiliki dua keberuntungan yang berbeda. Keluarga Ann diceritakan sebagai keluarga polisi yang miskin. Ayahnya telah meninggal dunia dua tahun lalu, dan ibunya memutuskan untuk mencari penghasilan untuk menghidupi dirinya dan empat anaknya melalui judi. Sementara itu, keluarga Jane diceritakan sebagai keluarga polisi yang berkecukupan. Ibu Jane sering meminjamkan uang kepada penghuni rumah susun tersebut, dan bahkan berencana untuk membeli rumah di luar rumah susun polisi untuk ditempati.

Sebagai anak pertama, Ann harus menjadi tulang punggung keluarga. Setelah kehilangan ayahnya, keluarga Ann tinggal di asrama tersebut dengan bantuan dari ibu Jane. Sepulang sekolah, Ann harus membantu usaha binatu ibunya, membuatnya terpaksa untuk diam, yang seringkali ditemani oleh Jane yang bermain sendiri di rumah Ann. Selain itu, ibu Ann juga sering meminjam uang kepada ibu Jane. Hal ini membuat Ann merasa inferior terhadap Jane. “Cinta hanya dimiliki oleh orang yang memiliki uang. Apa yang kau tahu tentang itu? Keluargamu memiliki segalanya. Bagaimana orang seperti aku berani mencintai seseorang?”

Mengingat kondisi ekonomi keluarganya, Ann jadi meragukan mimpinya untuk menjadi seorang pramugari. Ia berpikir untuk menjadi polisi—mengikuti jejak ayahnya—agar keluarganya dapat tetap tinggal di rumah susun. Opsi ini menjadi jalan termudah bagi keluarganya untuk dapat tetap memiliki ruang tinggal di rumah susun polisi. Ann juga merasa dengan menjadi polisi, ia tidak harus bergantung pada ibu Jane untuk terus menerus memohon dengan atasan suaminya demi memperbolehkan keluarga Ann untuk tetap dapat menetap di rumah susun tersebut. Meski demikian, Ann mengurungkan niatnya karena Tong menguatkannya untuk tidak menjadi anggota polisi.

Sebagai jalan cepat untuk membantu perekonomian keluarganya, Ann akhirnya menjalin hubungan rahasia dengan Tong, untuk mendapatkan uang tambahan. Hal ini kemudian membuat Jane marah dan menceritakan hubungan mereka ke ibunya. Ternyata, berita tersebut tersebar dengan cepat, dan mencapai telinga ibu Ann, yang kemudian menyuruh Tong untuk menikahi anaknya. Ann kemudian dihadapkan kepada sebuah dilema: antara menemukan jalan cepat untuk memecahkan masalah genting, yang mengharuskan Ann untuk membuang ambisinya untuk dapat berdiri mandiri sebagai pramugari.

Pertentangan antara keinginan dan realita yang dihadapi oleh Ann kemudian dikemas secara berkesinabungan dengan permasalahan yang dialami oleh keluarga Jane. Pada penghujung film, diceritakan bahwa ternyata ayah Jane melakukan perselingkuhan. Ayah Jane kemudian meninggalkan ibu dan keluarga Jane tanpa sepeser uang. Untuk tetap bertahan dalam kondisi ini dan merealisasikan ambisinya keluar dari rumah susun, ibu Jane yang sering meminjamkan uang keluarga kemudian memaksa peminjam uang tersebut untuk segera mengembalikannya, termasuk ibu Ann. Jane, yang mengetahui bahwa Ann diberikan tanggung jawab untuk membayar utang tersebut oleh ibunya, kemudian membantu sahabatnya dengan memberikan cincin masa kecilnya untuk dapat dijual oleh Ann. Hal ini dilakukan Jane agar ia bisa tetap bersama Ann, hidup di rumah susun tersebut. Namun, Ann yang merasa putus asa akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah dan meninggalkan semua kehidupannya di rumah susun tersebut. Merefleksikan pencarian jati diri dalam keterhimpitan kondisi struktural bersama Jane dan Ann.

Untuk mengakhiri film ini, Wongsutin menyuguhkan dua cerita atas permasalahan yang dihadapi oleh kedua tokoh tersebut. Cerita Ann diakhiri dengan simbolisme bahwa dia pergi dari tempat yang selama ini ia kutuk—menggambarkan bahwa ia telah berhasil mencapai impiannya untuk keluar dari rumah susun tersebut. Selain itu, penutup ini juga menggambarkan bahwa Ann yang selama ini merupakan korban dari kekerasan finansial memutuskan untuk memutus rantai relasi kuasa tersebut. Kemudian, Jane akhirnya dapat pindah rumah di luar rumah susun bersama ibunya—yang sebetulnya bertentangan dengan mimpinya untuk tetap tinggal di rumah susun tersebut bersama sahabatnya, Ann.

Selama 130 menit, “Flat Girls” mengajak penonton untuk masuk ke dalam sebuah tempat klaustrofobik (ruang sempit dan tertutup yang dapat memicu ketakutan maupun kekhawatiran pada orang yang memiliki klaustrofobia – red) untuk melihat realita dan kehidupan sehari-hari yang sering ditemui pada masa kini. Melalui “Flat Girls”, Wongsutin mengomentari bagaimana merealisasikan keinginan pribadi dan jati diri menjadi harus bergantung pada sebuah kondisi struktural, seperti sosio-ekonomi. Kisah tragis Jane dan Ann membuat penonton merasakan suka duka dan kompleksitas menjadi remaja dengan kondisi sosio-ekonomi yang umum ditemui di wilayah Thailand dan juga Indonesia.


Artikel ditulis oleh Ken, penulis lepas yang mengerjakan kerja-kerja riset sosial-humaniora.

0 comments on “Ringkasan Film “Flat Girls”

Leave a comment